Opini

Resensi Buku Totalitas Haji & Umroh ; Makna Tasawuf-Falsafi, Sains dan Fikih

Admin MSN | Senin, 18 September 2017 - 11:11:38 WIB | dibaca: 439 pembaca

Buku Totalitas Haji & Umroh ; Makna Tasawuf-Falsafi, Sains dan Fikih Karya Aguk Irawan MN

Judul Buku                  : Totalitas Haji & Umroh ; Makna Tasawuf-Falsafi, Sains dan Fikih

Penulis                         : Aguk Irawan MN

Peresensi                     : Ahmad Ali Adhim*

Penerbit                       : Qolam Nusantara & PT. Permata Nur Hijaz

Cetakan                       : Pertama, 2017

Ketebalan                    : 234 Halaman

ISBN                           : 978-602-60586-3-8

            Jika diibaratkan dengan terap tangga menuju makam Sunan Muria di Kudus, maka ibadah haji dan umrah sama halnya dengan berada pada tangga terakhir sebelum pintu masuk makam Kanjeng Raden Umar Said. Tahap di mana seorang muslim berada pada fase yang sangat rawan terhadap rasa cemas. Apakah perjalanan sejauh ini akan diterima oleh Allah? Atau apakah Sunan Muria menerima dan mengetahui kedatangan kita? Benarkah perjalanan yang menyita waktu, tenaga dan harta ini akan mendapat balasan terindah di sisi-Nya?

Padahal dalam perjalanan yang suci itu masih saja kita mengantongi kepentingan-kepentingan duniawi yang kita sembunyikan di dalam ruang batin kita sendiri. Kita pun tahu betapa besar pengaruh niat terhadap suatu amal yang kita kerjakan. Bisa jadi amal yang sangat mulia itu hangus begitu saja karena ketidaktepatan niat. Mulai dari persiapan sebelum melakukan ibadah, hingga tuntasnya suatu ibadah. Seseorang yang hendak melakukan ibadah terlebih dahulu diperintahkan agar menenangkan diri, membuang pikiran-pikiran yang berseliweran; baik tentang keuangan, pekerjaan, rumah tangga, dan apa aja yang merusak fokusnya ibadah. Manakala semua pikiran itu sudah steril, bersih dan kosong dari urusan duniawi, maka mulailah menjalankan ibadah.

            Ibadah haji dan umrah tentu saja tidak bisa kita samakan dengan ziaroh ke makam Sunan Muria atau ziarah ke sunan-sunan lain yang ada di Indonesia, apalagi jika disamakan dengan rekreasi ke tempat wisata yang indah dan mempesona. Sebab perjalanan lain haji dan umrah bukan semata-mata memahami dan melakukan cara-cara ibadah, mempersiapkan diri lahir batin, dan mengetahui waktu serta di mana kita harus melaksanakan ibadah haji dan umrah saja. Akan tetapi makna dan hikmah apa yang dapat kita ambil setelah melaksanakan ibadah haji? Lebih jauh dari itu semua, apakah ada manfaat dalam amalan-amalan haji dan umrah jika dilihat dari segi Makna Tasawuf dan Falsafinya? Hal ini bermanfaat bagi seseorang yang bertanya tentang hikmahnya. Apakah ada manfaat dalam amalan-amalan haji dan umrah dari segi saintifiknya? Hal ini bermanfaat bagi seseorang yang penasaran tentang fungsi praktis dan materialnya. Apakah amalan-amalan haji dan umrah sudah benar dan sah? Hal ini bermanfaat bagi seseorang yang bertanya tentang hukum Fikihnya.

            Ketiga hal yang sangat substansial dalam amalan ibadah haji dan umrah itu dipaparkan oleh Aguk Irawawan MN dengan penuh penghayatan dan ia hadirkan ruh sastra yang sangat hidup dalam setiap kalimatnya, ia memulai menulis buku dengan ketebalan 234 halaman ini dengan bercerita, sebagaimana ia menceritakan perjalanan haji melewati 7 negara hanya dengan tas ransel, cerita itu ia tulis dalam novel yang berjudul “Haji Backpaker” dan novel itu telah menjadi film yang mendapat apresiasi juga menginspirasi banyak pihak. Dari novel yang ia tulis itulah kemudian Kang Khamim, seorang pemuda dari Pekalongan yang melaksanakan ibadah haji dengan jalan kaki, ia rela ditikam dingin dan sunyi, lelah dan payah hanya untuk mendapat Ridho Allah, yaitu sampai di Baitullah.

            Buku bertajuk “Totalitas Haji & Umrah; Makna Tasawuf-Falsafi, Sains dan Fikih” karya Alumni Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir ini berusaha memberikan informasi tentang banyak hal yang berkaitan dengan sisi lain dari Miqat (segalanya terasa terbatas), Ihram (satu warna pakaian sejagad manusia), Thawaf (perputaran yang dinamis), Sa’i, Wukuf (diam dalam permenungan), Mabit di Muzdalifah (masy’aril haram), Mabit di Madinah, Ramyul Jamarat (melempar hasrat duniawi), Tahallul, juga disajikan informasi tentang hakikat berkurban (mengorbankan kesenangan) dan hari raya (kemenangan dan awal yang baru).

            Dalam buku yang diterbitkan oleh Qalam Nusantra bekerjasama dengan PT. Permata Nur Hijaz ini, Kiai Aguk Irawan membukanya dengan sebuah kisah yang sangat inspiratif, yang terjadi antara seorang murid (salik) Asy-Syibli dengan seorang mursyidnya yaitu Imam Ali Zainal Abidin. Siapa yang tak kenal Imam Ali Zainal Abidin? Ia adalah putera Imam Al-Husein, Cucu Baginda Rasulullah. Terlepas dari nasab keturunan, Imam Ali Zainal Abidin adalah sufi besar, yang masyhur sebagai penghulu para salikin dan guru tasawuf di era-era awal Islam.

            Sebagaimana lazimnya, jika seorang telah menunaikan ibadah haji atau umrah, lalu kembali ke kampung halamannya, banyaklah tamu berdatangan, bahkan hingga larut malam. Begitu juga yang terjadi pada seorang murid yang bernama Asy-Syibli. Setelah ia menunaikan rukun Islam ke limanya itu, banyak juga tamu yang berdatangan. Setelah tamu-tamu mulai surut, pada suatu malam Asy-Syibli sowan kepada gurunya, Syaikh Ali Zainal Abidin, selain ingin mempersembahkan sejumlah hadiah terbaik berupa air zam-zam dan yang lainnya, ia juga berniat untuk menceritakan hal-hal yang terkait dengan pengalamannya selama menunaikan ibadah haji.

            Setelah pemberian hadiah itu diterima oleh Syaikh Ali Zainal Abidin, Asy-Syibli belum juga bercerita tentang pengalaman hajinya, tiba-tiba Syaikh Ali Zainal Abidin berkata “Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu wahai hamba Allah yang sudah menyempurnakan rukun Islam?”  Sungguh, sebuah kenikmatan yang hanya sedikit dari muslim yang bisa menunaikannya. Kemudian Syaikh yang berwajah penuh kharisma itu bertanya lagi.

“Apa yang kau lakukan dan pengalaman apa yang kau dapatkan saat engkau berada di Miqat wahai Asy-Syibli?”

“Ketika berhenti di Miqat, apakah engkau merasa bahwa di tempat itu engkau seperti bertemu dengan malaikat maut? Tubuh dan dagingmu yang selama ini kau puja segera akan kau tinggalkan di alam fana? Lalu tubuh kau mandikan sendiri dengan kedua tangan, lalu kau lilit dengan dua helai kain kafan dan segera kau shalati sendiri jenazah tubuhmu?”

 Asy-Syibli menjawab, “Belum Syaikh”.

“Kalau begitu engkau belum membersihkan diri, belum berihram, belum pula mengikatkan diri dalam haji?”

“Bukankah engkau telah memasuki Miqat, lalu shalat dua rakaat, dan setelah itu engkau mulai bertalbiyah?”

“Iya betul Guru”.

“Apakah ketika memasuki Miqat engkau meniatkannya sebagai ziarah menuju keridhaan Allah? Ketika shalat dua rakaat, adakah engkau berniat mendekatkan diri kepada Allah?”

  “Belum, wahai Guru”

“Kalau begitu, engkau belum memasuki Miqat, belum bertalbiyah dan juga belum shalat dua rakaat!”  Tegas Syaikh Ali Zainal Abidin.

Dalam buku yang ditulis oleh Pengasuh Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta ini, percakapan seorang Guru dan Murid yang sangat dramatis itu membuat saya tahu banyak hal yang sebenarnya menjadi inti dari amalan-amalan dalam ibadah haji. Betapa saya tidak bisa membayangkan perasaan menyesal dan sedihnya seorang Asy-Syibli yang telah menunaikan ibadah haji, namun tidak merasakan kenikmatan atas apa yang ia tunaikan. Ketika berada di Masjidil Haram dan berthawaf ia tidak merasa menjadi setitik air hujan yang jatuh ke sungai dan larut dalam samudera. Padahal seandainya Asy-Syibli tidak jatuh ke sungai, tidaklah sampai ia di samudera, ia akan dibawa oleh angin dan sia-sia terhempas oleh waktu. Masjidil Haram dan Ka’bah itulah samudera rahmat dan ampunan.

Bagaimana rasanya ketika berada di Mekkah, namun kita tidak mempunyai tekad untuk menjadikan Allah satu-satunya tujuan? Tentu bagi seorang Sufi hal itu sama halnya kehadiran kita di Mekkah tidak lebih hanya sebuah ritual ibadah yang hambar. Bagaimana rasanya berthawaf namun kita tidak merasa seperti mengikuti gelombang dan ombak lautan untuk berdebur dalam taubat dan berjalan atau berlari menuju ampunan? O, bagaimana rasanya jika berjabat tangan dengan Hajar Aswad namun kita menghancurkan perjanjian dan menyusutkan kemuliaan yang telah kita raih, serta membatalakan kehormatan dengan aneka dosa? O, alangkah pilunya, ketika kita diberi kesempatan bisa berdiri di hadapan Maqam Ibrahim, namun kita tidak bisa bertekad untuk tetap berada di jalan taat serta menjauhkan diri dari maksiat, tidak bisa bertekad untuk mengikuti jejak Ibrahim AS, serta menentang bisikan setan.

Percakapan yang ditulis oleh Kiai Aguk Irawan MN dalam buku ini, Syaikh Ali Zainal Abidin mengatakan “Barangsiapa berjabat tangan dengan Hajar Aswad, seakan ia berjabat tangan dengan Allah.”  Saking cintanya Syaikh Imam Ali Zainal Abdin hingga ia menangis dan mengucap istighfar ketika mengetahui murid kesayangannya tidak merasakan intisari dari serangkaian Ibadah Haji itu. Saya kira, banyak lagi hal-hal yang perlu kita ketahui terkait dengan kesejatian dan tujuan dari berkurban sebagaimana Ibrahim atau dikorbarkan seperti Ismail, atau hanyut kepada ampunan dan menyesali dosa-dosa seperti Adam dan Hawa, atau bertekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan seperti Baginda Nabi Muhammad. Tentang substansi dalam melakukan Sa’i, Wukuf di Arafah, berada di Jabal Rahmah, Mabit di Muzdalifah, Mabit di Mina, Ramyul Jamarat, dst.

Di tengah arus globalisasi dan berbagai macam syahwat popularitas, hingga permasalahan terkait prosedur penyelenggaraan Haji dan Umrah yang semakin kompleks faktor ketidaktertiban pihak penyelenggara maupun ketidaktahuan calon jamaah Haji dan Umrah terhadap apa yang akan ia lakukan ketika berada di Mekkah, nampaknya bisa menjadi penyebab gugurnya suatu ibadah. Dalam konteks inilah buku ini menjadi penting untuk dibaca. Buku yang memuat 11 bab disertai doa-doa Haji dan Umrah ini menjadikan rambu-rambu dan inspirasi bagi kita untuk tidak membiarkan diri kita tersesat dalam sebuah perjalanan yang suci dan mulia. Namun begitu, tidak kalah pentingnya kini adalah kesadaran semua pihak seperti Ulama’, Cendekiawan, terutama Penyelenggara Haji dan Umrah dan tokoh agama untuk ikut berpartisipasi menyebarluaskan pesan-pesan religious Syaikh Imam Ali Zainal Abidin kepada murid kesayangannya tadi. Agar tangis dan kesedihan Putera Cucu Rasulullah itu tidak berlanjut karena keteledoran Ibadah Haji kita.

Pembaca akan begitu mudah menemukan benang merah pada buku ini, sebab buku ini ditulis oleh seseorang yang mempunyai pengalaman pribadi terhadap apa yang ia tulis, lebih-lebih penulis buku ini adalah seorang novelis, tentu bahasa dalam buku ini akan membuat pembaca merasa ingin mengkhatamkan buku ini.

 

*Peresensi adalah Ahmad Ali Adhim, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni Pesantren Sunan Drajat Lamongan.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)