Tokoh

Romzi Ahmad: Saya Bangga Menjadi Pemuda Indonesia

Admin MSN | Selasa, 22 Agustus 2017 - 07:26:00 WIB | dibaca: 577 pembaca

Oleh: Uswatun Hasanah

"Begitulah seharusnya menjadi seorang santri, bergerak di zamannya, sesuai dengan bidangnya – tanpa menanggalkan baju integritas" (Romzi Ahmad) 

Lahir di lingkungan pesantren membuat pemuda kelahiran 4 Maret ini begitu kental dengan nuansa agama dan kesederhanaan. Label santri sekaligus Gus melekat kepadanya bahkan sejak ia masih tertatih dalam berjalan. Tak pelak – ia telah belajar ilmu agama sejak masih sangat belia, terutama dari sang Abuya, KH. Bisyri Imam dan Ibunda Dzarrotuljannah.

Romzi Ahmad selalu tampil enerjik dan bersahaja dalam setiap kesempatan. Kita akan dengan mudah mengenalinya ketika mendengar gayanya berbicara, -santai dan mengalir dengan permainan intonasi yang pas serta penekanan di beberapa kata penting- membuat siapapun akan tertarik mendengar apa yang ia tuturkan.

 "Saya selalu percaya bahwa pemuda adalah pemilik masa ini, bukan pewaris masa depan. Ayo! Lakukan sesuatu! Terlibatlah." tulis Romzi dalam salah satu postingan akun instagram miliknya. Menurut Alumnus UIN Jakarta ini, pemuda –terutama santri– harus selalu terlibat dalam perkembangan zaman. Turut serta dalam proses yang aktif dan bukan hanya diam menunggu warisan.

"Menunggu saja tidak akan cukup. Karena manusia memiliki kecenderungan melakukan kesalahan, maka kita harus punya pengalaman gagal, pengalaman menyakiti orang lain, pengalaman jatuh, dan pengalaman dikecewakan agar kelak ketika membuat kebijakan yang lebih besar kita tidak perlu melakukan hal negatif itu lagi." tuturnya (15/6).

Gus Ji –begitu ia biasa disapa– adalah seorang aktivis, penulis, dan sosio-traveler yang sudah pernah melancong ke berbagai daerah di Nusantara maupun mancanegara. Sebut saja Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Vietnam, Malaysia, Australia, dan Jepang; sudah pernah ia sambangi.

Setiap kali melancong, Gus Ji tidak pernah lupa membawa sarung, peci, dan ikat keraton khas Cirebon untuk diperkenalkan di kancah internasional sebagai salah satu wujud rasa bangganya menjadi Bangsa Indonesia. A Proud Indonesian rupanya menjadi salah satu kalimat pusakanya.

Putra ketiga dari keluarga besar Pondok Pesantren Al-Shigor Gedongan Cirebon ini memiliki sepak terjang aktif di dunia pendidikan. Baginya, kelas adalah tempat menemukan kebahagiaan. Setiap memasuki kelas, akan selalu ada hal baru untuk dipelajari dan diberikan. Ia adalah sosok pendidik yang percaya bahwa tugas seorang guru adalah membahagiakan siswa dan tugas siswa adalah bahagia.

Selain fokus dalam dunia pendidikan dan aktif di media sosial, penasihat AIS Nusantara ini juga menggeluti bidang fotografi dan videografi. Berkat hobinya itu, Gus Ji pernah diminta untuk menjadi narasumber seminar fotografi dan videografi di negeri jiran, Malaysia. Ketceh ngga sih?

 "Sebagai seorang santri, budaya tawadhu' dan ta'dzim kepada guru adalah perlu. Tetapi hal tersebut tidak berarti kita harus rendah diri. Santri harus tetap mengambil peran sesuai dengan potensi masing-masing. Santri harus memegang persendian agama dan negara. Oleh karenanya santri harus selalu percaya diri dimanapun berada." jelas Gus Romzi ketika ditanya mengenai peran yang dapat dimiliki santri di era millenial.

Menurutnya, istilah Santri Cendekia sekarang sudah lazim. Zaman sekarang santri tidak melulu harus bergerak dalam bidang agama. Ranahnya bisa bermacam-macam. Bergantung  pada minat dan potensi masing-masing. Bisa jadi enterpreneur, dosen, atau apapun; yang terpenting integritas santrinya tetap terjaga. Bahkan bergerak dalam politik pun tidak masalah, karena merubah kebijakan yang paling efektif adalah melalui politik.

 "Stay positive! Iringilah hal buruk dengan perbuatan baik. Pokoknya santri harus tetep berpikiran positif dan mengesampingkan hal-hal yang dapat menegasi hidup." Tandas Gus Ji.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)