Opini

Salah Kaprah Tafsir Qurban

Admin MSN | Kamis, 23 Agustus 2018 - 11:11:13 WIB | dibaca: 81 pembaca

Gambar diambil dari google

Nama bulan Dzulhijjah berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu Dzul dan Al-Hijjah. Dzul memiliki arti 'pemiliki' dan Al-Hijjah yang berarti 'haji'. Bulan ini dinamakan bulan Dzulhijjah karena pada bulan ini umat Islam di seluruh dunia melaksanakan haji di Mekkah.

Bulan ini memiliki banyak keistimewaan yaitu pada 10 hari pertama yang memiliki keistimewaan masing-masing. Begitu juga terdapat satu hari yang diistemewakan bahkan oleh Nabi Muhammad yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah. Bahkan Nabi melarang berpuasa pada hari tersebut karena pada hari itu semua orang berada dalam keadaan senang dan bahagia dengan mendapatkan berbagai kenikmatan, salah satunya bisa melaksanakan shalat  hari raya Idul Adha.

Hari raya Idul Adha ini biasa dinamakan juga hari Raya Qurban, karena pada hari ini disunnahkan untuk berqurban bagi yang mampu. Pada tahun 1439 H ini, hari Raya Qurban bertepatan pada tanggal 22 Agustus 2018 dalam kalender Masehi. Dan hampir berbarengan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-63, bahkan berdekatan dengan ulang tahun salah satu club sepakbola di Malang yaitu AREMA.

Sehingga timbul quote yang cukup ramai dibahas yaitu "setelah diperjuangkan dikorbankan" dan bahkan pada saat pawai lampion di kelurahan Penanggungan ada yang membawa banner AREMAJLIS.

Beberapa orang yang mungkin salah kaprah dalam mengartikan sebuah pengorbanan dan qurban. Pengorbanan dan qurban memiliki arti yang berbeda. Pengorbanan merupakan timbal balik yang harus dilakukan karena menginginkan suatu hal yang ingin dicapai.

Sedangkan qurban dalam tradisi Islam merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah yang diwujukan dengan menyembelih daging qurban untuk diberikan kepada fakir miskin. Hal tersebut juga dijelaskan dalam surat Al-qur’an surat Al-Kaustar Ayat 1-3 sebagai berikut :

Sungguh, kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak (1) Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkunbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah (2) Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah) (3).

Berdasarkan ayat diatas dapat diketahui bahwa Allah yang telah memberi nikmat berlebih, maka diajurkan berqurban untuk tujuan beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Jangan melakukan qurban karena ada tujuan lain misalnya sebagai shodaqoh.

Hal ini dikarenakan meskipun shodaqoh dan qurban merupakan sebuah amalan yang baik dan memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah serta sebagai ungkapan rasa syukur kita tapi keduanya berbeda.

Perbedaan keduanya salah satunya adalah terletak pada waktu pelaksanaannya. Berkurban hanya bisa dilakukan selama 4 hari yang telah ditentukan yaitu pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah sedangkan shodaqoh bisa dilakukan setiap saat. Selain itu, semakin banyak dan tebal rambut dari hewan yang kita kurbankan maka pahala yang di dapatkan semakin banyak.

Dan dari segi tujuan, dalam kitab Bulughul Maram disebutkan bahwa satu sapi apabila dishodaqohkan bisa ditujukan atau diatasnamakan untuk satu orang atau lebih. Sedangkan ketika berkurban satu sapi hanya bisa mewakili 7 orang.  Selain itu, hasil sembelihan hewan qurban harus dibagikan ke sekitarnya.

Adapun panitia qurban tidak diperbolehkan untuk memakan hasil sembelihan. Sedangkan ketika kita bershodaqoh kita boleh memakan sebagian atau memberikan semua hasil sembelihannya. Apapun bentuknya kita dianjurkan untuk selalu bershodoqoh dan berkurban hanya teruntuk mereka yang mampu. Wallahu Alam. (zfnf/rhyla)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)