Opini

Sebuah Refleksi Diawal Tahun

Admin MSN | Kamis, 13 September 2018 - 17:31:02 WIB | dibaca: 81 pembaca

Gambar diambil dari google

 

Oleh : Nova Putri Diana         

 

“Kawan sudah tahun baru lagi

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk

Memandang diri sendiri

Bercermin firman Allah, sebelum kita dihisabnya.”

Begitulah isi bait pertama puisi karangan KH Mustofa Bisri belasan tahun silam. Waktu berjalan begitu cepat, hingga tidak terasa sudah tahun baru lagi. Penghabisan dua belas bulan yang lalu menuju tahun dan bulan yang baru.

Kini telah datang tahun baru yang sangat dinantikan umat Islam dibelahan dunia, yakni Tahun Baru Hijriyah. Tahun Baru Hijriyah ke 1940, lalu kira-kira ada makna penting apa terkait tahun baru islam ini? Mari kita telisik kembali pada sejarah ditetapkanya Tahun Hijriyah yang notabennya menjadi tahunnya orang islam.

Tahun Hijriyah dimulai pada masa Umar Bin Khatab yang berawal  dari surat-surat tidak bertanggal, yang diterima oleh Abu Musa Al-Asy’Ari RA. Kala itu menjabat sebagai Gubernur Basrah. Abu Musa mengeluhkan surat-surat tersebut kepada khalifah Umar karena ketidak-tahuanya terkait masa dan kapan surat tersebut berlaku.

Akibat hal tersebut, Khalifah Umar mengajak para sahabat bermusyawarah menentukan kalender yang nantinya menjadi acuan penanggalan kaum muslimin. Dalam musyawarah tersebut, menghasilkan beberapa usulan dari para sahabat terkait penanggalan Islam, yang pada akhirnya ditetapkan awal tahun hijriyah dengan dimulainya tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Kota Madinah, yang diusulkan oleh Ali Bin Abi Thalib.

Dan hingga saat ini menjadi acuan utama dalam hukum-hukum islam. Seperti dalam penerapan ibadah haji, puasa, maupun zakat yang ditetapkan tanggal pelaksanaanya dengan kalender Islam. Dengan diterapkanya penanggalan Islam dalam kehidupan sehari-hari membuat kita mengingat akan perjuangan Nabi dan para sahabat pada periode awal Islam hadir. Perjuangan Nabi dan para sahabat sangatlah tepat untuk kita refleksikan kembali dalam kehidupan kita sehari-hari .

Pada tahun baru Islam ini adalah momen yang tepat untuk refleksi terhadap diri kita sendiri, apakah perilaku dan akhlak yang selama ini dilakukan sudah sesuai dengan syariat dan ajaran Islam ataupun sebaliknya. Terdapat ungkapan “Tahun baru, semua harus serba baru”, dalam ungkapan ini memang benar adanya, namun banyak orang salah mengartikannya. Kalau begitu, tahun baru harus mobil baru, hp baru, hingga gandengan baru.

Dengan berefleksi terkait tahun baru Islam ini, kita akan mencoba ke lorong waktu untuk kembali ke masa dahulu. Betapa beratnya perjuangan mujahidin meninggalkan keluarganya  untuk agama, bahkan merelakan nyawanya untuk agama Islam.

Lantas kita sebagai umat Islam  yang lahir jauh dari masa Rasulullah, apa yang  sudah kita lakukan untuk agama? Hanya berleha-leha, bersantai ria dan tak berbuat apa –apa? Maka dari itu sudah seyogyannya kita menjaga dan melestarikan yang sudah ditinggalkan ulama terdahulu.

Cara yang tepat untuk menjaga dan melestarikan yang sudah ditinggalkan ulama terdahulu, setidaknya kita melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang muslim. Sebagai contoh, tahun kemarin ada yang shalatnya tidak tepat waktu bahkan ada yang bolong, maka pada tahun baru ini kita wajib sholat 5 waktu dan harus tepat waktu.

Banyak hal yang harus kita jadikan bahan refleksi diri, sehingga dengan kita berbenah diri setidaknya kita bukan termasuk golongan yang merugi. Refleksi seperti itu memang perlu dilakukan, sebagai bentuk upaya evaluasi diri. Menjadi pribadi yang lebih baik dimasa mendatang.

Perubahan kearah yang lebih baik memang perlu dilakukan, setidaknya hasil refleksi, kita diskusikan dengan Tuhan melewati ibadah dan taubat, serta berharap dikehidupan mendatang semua menjadi lebih baik.

Hasil dari refleksi bisa kita gunakan untuk merumuskan keinginan yang perlu dicapai di tahun baru ini. Seperti hadits yang sering kita dengar, “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya lebih jelek dari hari kemarin maka dia terlaknat”.

Terlepas dari kualitas hadits tersebut, kita bisa mengambil pelajaran. Pada era saat ini banyak sekali umat islam yang tidak tahu terkait tahun barunya sendiri, lebih parahnya hingga tidak mengenal, sungguh fenomena yang menyedihkan. Semoga diawal tahun baru 1940 Hijriah ini, senantiasa mampu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita, menjadi pribadi yang bermanfaat untuk umat serta dilancarkan ibadah, amalan, segala hajat serta kebaikan dan ketulusan niat, Aamiin. ( /el-mufiied)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)