Pesantren

Sejarah Anwarul Huda Pesantren Penerus Perjuangan Wali Songo

Admin MSN | Minggu, 23 Juli 2017 - 17:05:41 WIB | dibaca: 184 pembaca

Foto Santri Anwarul Huda Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober,

Seperti itulah kira-kira harapan Pondok Pesantren Anwarul Huda, sebagaimana bintang sembilan yang terlukis dalam logo pesantren tersebut. Menyiapkan para calon pemimpin dan tokoh masyarakat Islam (da’i Muballigh demi melestarikan ajaran Islam Ala ahlussunnah wal-jama’ah) melanjutkan perjuanagan para ulama’/kyai di Indonesia.
Pondok Pesantren Anwarul Huda adalah milik masyarakat. Kalau boleh saya katakan pondok tersebut “dari umat, oleh umat, dan untuk umat”. Bagaimana bisa seperti itu? Mari kita simak sejarahnya.
Dahulu KH M Yahya pengasuh pesantren Miftahul Huda generasi ke 4 pernah mengajak HM Baidowi Muslich untuk berdakwah di daerah Karangbesuki. Beliau berkata kepada HM Baidowi Muslich yang ketika itu masih menjadi santri KH Muhammad Yahya. “mbesok ono pondok pesantren dek kene” (suatu saat nanti ada pondok pesantren di sini) kemudian suatu hari masyarakat Karangbesuki beserta tokohnya mewakofkan sebidang tanah HM. Dasuki kepada keluarga KH Muhammad Yahya.
Setelah beberapa bulan kemudian setelah  mewakafkan tanah tersebut, beliau KH Muhammad Yahya ditinggal oleh putra sulungnya yang bernama HM Dimyati Ayatullah Yahya kemudian + 40 hari setelah meninggalnya KH M Dimyati beliau KH Muhammad Yahya juga menyusul berpulang ke Rahmatullah dan akhirnya Ibu Nyai Hj Nyai Siti Khotijah Yahya merasa kehilangan kedua orang yang di kasihinya. Akhirnya di kembalikanlah tanah yang dahulu diwakofkan kepada keluarga KH Muhammad Yahya karena merasa kurang mampu untuk mengelolanya.
Setelah dikembalikan tanah tersebut kepada masyarakat Karangbesuki, kemudian oleh masyarakat di buatlah sebuah yayasan pendidikan Islam Sunan Kalijaga yang terdiri dari Masjid Sunan Kalijaga RA, MI dan MTs Sunan Kalijaga.
Pada tahun + 1994 keluarga Alm H Dasuki, saudara HM Khoiruddin menjual tanah yang berada di dekat/samping masjid Sunan Kalijaga. Kemudian banyak pembeli yang menawarkan diri termasuk orang Cina (non Muslim) yang mau membelinya dengan harga yang cukup menarik, akhirnya masyarakat resah jika tetangga masjid Sunan Kalijaga adalah orang Cina, akhirnya masyarakat  pergi ke kyai Gading (pesantren Miftahul Huda) untuk meminta solusi agar tidak dibeli oleh orang Cina. Ketepatan yang diminta solusi adalah KH M Baidowi Muslich akhirnya beliau memberikan solusi untuk membelinya secara bersama-sama, kemudian masyarakat bertanya untuk apa kita beli bersama-sama? beliau menjawab “ya dibangun untuk pesantren”. Akhirnya masyarakat sepakat dan dibelilah tanah tersebut untuk sebuah pesantren.
Pada tahun 1997 mulailah beliau bersama masyarakat Karangbesuki membangun pesantren sebagai bukti kesungguhan beliau yang merasa menerima amanat. Setelah mendapatkan restu dari Ibu Nyai Siti Khotijah Yahya, Kemudian Beliau membangun pesantren tersebut dan dinamailah pesantren tersebut dengan nama “Anwarul Huda” nama tersebut di pilih  agar tidak jauh berbeda dengan  pesantren Miftahul Huda (Gading). Baik sistem pendidikannya maupun pengelolaannya. Akhirnya Berdirilah Pesantren Anwarul Huda Kota Malang sampai sekarang.
Pesantren yang meneruskan perjuangan wali songo, nguri-nguri ajaran ahli sunah wal jama’ah seperti tahlilan, manaqiban Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, sholawat diba’ dan lain sebagainya. Yang pasti pesantren ini mengajarkan paham kelemah lembutan sebagaimana ajaran walisongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan santun sehingga diterima dengan tangan terbuka.

Penulis Sidiq Nugroho Santri Anwarul Huda










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)