Opini

Substansi Ke-Islaman Ke-Indonesiaan

Admin MSN | Rabu, 23 Mei 2018 - 06:41:16 WIB | dibaca: 143 pembaca

Gambar diambil dari google

Oleh: Mahalasari

Kultur memang menjadi permasalahan yang begitu rumit dalam beberapa tahun terakhir. Permasalahan multikulturalisme seakan menjadi pusat wacana yang tidak akan ada habisnya, terlebih di Indonesia yang memiliki beragam budaya, suku, agama dan golongan. Betapa tidak, isu-isu multikulturalisme semakin lama menjadi persoalan yang krusial. Hal ini dibuktikan dengan berkembang pula isu-isu kontemporer pendidikan Islam, yang tidak lain disebabkan karena multikulturalisme dan radikalisme yang mengatas namakan agama. Padahal jika ditinjau lebih dalam, justru pengaruh multikultural tersebut seharusnya dijadikan sebagai jembatan dalam mempersatukan bangsa.

Harus kita sadari, para pahlawan Nasional yang mengusung ‘Bhinneka Tunggal Ika’ sebagai semboyan bangsa dan ‘Pancasila’ sebagai falsafah bangsa bukan tanpa alasan. Semua pemikiran tersebut didasarkan atas pertimbangan keberagaman. Artinya, semboyan dan ideologi tersebut digunakan sebagai landasan persatuan dan kesatuan bangsa. Sehingga, sebagai bangsa yang dibangun atas dasar kemajemukan, harus menyadari jika kekayaan Indonesia ada pada beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku, agama maupun kepercayaan.

Prof. Dr. Azyummardi Azra, CBE mengungkapkan dalam seminarnya beberapa waktu lalu di Pascasarjana UIN Maliki Malang, bahwa substansi ke-Islaman ke-Indonesiaan yaitu berada dalam keanekaragaman (multikulturalisme). Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga menegaskan bahwa multikulturalisme seperti sudah menjadi hukum besi (Iron Law) yang tidak dapat ditepis lagi keberadaannya. Muslim di Indonesia mempunyai budaya yang distingtif (khas). Dengan kata lain, Islam sendiri memandang keberagaman ini bisa memunculkan ukhuwah serta solidaritas dengan cara saling menghormati keberagaman tersebut.

Selebihnya, Prof. Azra menjelaskan jika Islam Indonesia juga mempunyai sifat akomodatif dan toleran. Maksudnya, Islam Indonesia adalah Islam yang luwes dan tidak kaku, karena dua sayap besar umat Islam, NU dan Muhammadiyah, sudah sejak awal bekerja keras untuk mengembangkan Islam sebagai agama yang ramah terhadap siapa saja. Bahkan, terhadap kaum yang tidak beriman sekalipun, selama semua pihak saling menghormati perbedaan pandangan. Hal ini yang menyebabkan Islam berbunga-bunga.

Sosok yang dikenal sebagai guru besar sekaligus cendekiawan muslim menjelaskan, maksud dari Islam yang berbunga-bunga yaitu didasarkan atas berbagai macam penyelenggaraan kegiatan adat istiadat dan budaya di Indonesia. Kegiatan yang dimaksud seperti tasyakuran misalnya. Mulai dari acara walimah, membangun rumah, hingga acara kebangsaan setiap tahun sekalipun, masyarakat tidak pernah lupa akan penyelenggaraan tasyakuran. Tujuannya tidak lain untuk menjalin silaturrahim, giving and sharing, misalnya dibarengi dengan pemberian berkat dan sebagainya. Inilah kekayaan Islam yang menjadi ciri khas Islam Indonesia yang sering terlupakan.

Paradigma dan praksis multikultural bisa ditanamkan sejak dini. Di mulai dari keluarga, yang kemudian dilanjutkan melalui lembaga pendidikan dan lingkungan masyarakat. Kebhinnekaan adalah sunnatullah, sehingga kita harus mengakui dan menghormati keberagaman itu sendiri. Menurut KH. Abdurrahman Wahid pada pengantar editornya dalam buku ‘Ilusi Negara Islam’ menjelaskan bahwa prinsip ‘Bhinneka Tunggal Ika’ Mpu Tantular, telah mengilhami para penguasa Nusantara dari zaman Hindu-Budha hingga dewasa ini.

Sunan Kalijogo sendiri, yang terkenal dengan akomodatif terhadap tradisi lokal, mendidik para pribumi tentang Islam yang damai, toleran, dan spiritual. Melalui para muridnya, antara lain Sultan Adiwijoyo, Juru Martani, dan Senopati ing Alogo, Sunan Kalijogo berhasil menyelamatkan dan melestarikan nilai-nilai luhur tersebut yang kemudian manfaatnya bisa kita rasakan hingga saat ini. Gagasan inilah yang kemudian menghasilkan istilah yang kita kenal dengan sebutan Islam Nusantara.

Berdasarkan keputusan Bahtsul Masail Maudhu’iyah PWNU Jawa Timur pada 13 Februari 2016 di Universitas Negeri Malang, Islam Nusantara yang dimaksud NU yaitu Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang diamalkan, didakwahkan, dan dikembangkan di bumi Nusantara oleh para pendakwahnya. Di antara tujuan dari dakwah tersebut, untuk mengantisipasi dan membentengi umat dari paham Radikalisme, Liberalisme, Syi’ah, Wahabi, dan paham-paham lain yang tidak sejalan dengan Ahlussunnah wal Jamaah.

Berdasarkan hasil Bahtsul Masail tersebut, menunjukkan upaya-upaya NU dalam menggunakan metode dakwah Islam di bumi Nusantara secara santun, ramah, damai dan penuh hikmah di tengah penduduknya yang multi etnis, multi budaya, dan multi agama. Hal ini mengacu kepada metode dakwah masa Walisongo. Walaupun secara prinsip sama, namun strategi yang dilakukan secara dinamisasi sesuai tantangan, dengan tetap berpijak pada aturan syar’i.

Selain beberapa pernyataan di atas, hasil Bahtsul Masail Maudhu’iyah PWNU Jawa Timur pada 13 Februari 2016 yang lalu, yang dilansir oleh Nahdlatul Ulama Cyber Troop, juga menghasilkan beberapa keputusan mengenai nilai-nilai Islam Nusantara. Di antara nilai-nilai tersebut yaitu menghargai ajaran agama lain, melestarikan budaya dari suku dan agama apapun selama tidak bertentangan dengan syariat, mengapresiasi kebaikan/kelebihan orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri, membiasakan berbuat kebajikan terhadap siapapun, memprioritaskan penanaman nilai-nilai agama secara utuh dan mendalam di lingkungan internal Ahlusunnah wal jamaah, menghindari caci maki terhadap orang lain karena alasan perbedaan, serta menghindari anggapan menjadi orang yang paling baik dan menganggap orang lain tidak baik, sehingga mengabaikan kewajiban berbuat baik. Wallohu a’lam