Dunia Islam

Tarekat Sebagai Washilah Pembeda Amalan

Admin MSN | Jumat, 04 Mei 2018 - 18:23:49 WIB | dibaca: 65 pembaca

Oleh  : Mariatul Qibthiyyah Al-Hasbiyyah

Tarekat memiliki makna sebagai upaya bimbingan dzikir (talqin dzikir) secara khusus, yang pada dasarnya telah ada sejak zaman Rasulullah. Hal ini diungkapkan dalam sebuah hadis shohih yang disampaikan as-suyuthi dan al-Hafidz Ibnu Hajar. Meski belum ada hadis penjelas secara detail kegiatan tareqat yang langsung dipimpin oleh mursyid dimasa Rasulullah SAW. Akan tetapi, melihat bahwa ajaran-ajaran yang tidak keluar dari ranah syariat islam dan bahkan terkandung dalam al-quran dan hadis maka dapat dianggap bahwa tarekat sebagai salah satu bentuk ajaran yang masih terkandung dalam batasan-batasan bertaqarrub pada Allah SWT.

Kemudian dari sini muncullah sebuah pertanyaan, mengapa perlu adanya bimbingan seorang mursyid dalam mencapai wushul (puncak dari perjalanan sufi) kepada Allah? Jawaban dari pertanyaan ini sama halnya dengan pertanyaan mengapa rasul menerima wahyu harus melalui perantara malaikat Jibril, mengapa tidak langsung dari Allah? Maka dapat dijelaskan bahwa dalam dunia dzikir dan pembersihan jiwa sangatlah rentan mendapat godaan dari setan (ghurur). Maka disinilah pentingnya peran seorang mursyid sebagai pembimbing agar seseorang tidak terjatuh dalam jurang kesesatan dalam mengenal Allah. Sebagaimana maqolah dari Abu Yazid al Bustomi :

مَنْ تَعَلَّمَ اْلعِلْمَ بِغَيْرِ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ شَيْطَانٌ

“Barang siapa yang belajar ilmu tanpa guru (mursyid), maka gurunya adalah setan”.

Mursyid yang kamil mukammil-lah yang dapat membimbing seseorang dalam berdzikir yang benar. Namun realita yang ditemui dalam berbagai golongan tareqat yang berbeda mursyid, cenderung memiliki bentuk ajaran dzikir yang berbeda pula. Ternyata hal tersebut tidak menjadi soal, sebab pada dasarnya tujuan bertareqat tetaplah sama, yakni wusul pada Allah SWT.

Terkadang sering sekali kita mendengar persoalan-persoalan yang mempertanyakan hukum tentang bershalawat dziba’, tahlil, tasbih, dzikir setelah sholat dan lain-lain.  Sebab mereka berpendapat bahwa amalan-amalan tersebut tidak dijumpai dalam masa Rasulullah SAW, sehingga tak jarang dari segolongan aliran menghukumi bid’ah segala amalan tersebut.

Munculnya klaim keras terhadap amalan dzikir, membaca kalimat tahlil, bertakbir dengan suara keras, termasuk bidah sesat bagi mereka. Padahal, Imam as-Suyuthi dalam salah satu risalahnya : Natijah al-Fikr di al-Jahr fi adz-Dzikr tercatat dalam kitabnya al-Hawi lil Fatawi menyebutkan ada 25 Hadis yang menjelaskan kesunnahan melakukan halaqah dzikir (mujahadah bersama) dan melafalkan dengan suara keras. Sedangkan dari segi kualitas hadis tersebut ada yang tergolong shahih, hasan, ada juga yang dha’if. Meski pada hakikatnya hal tersebut tidak bisa dinafikkan pula pada hadis yang juga menerangkan kebaikan dzikir secara pelan (sirr).

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583)

يَا ابْنَ آدَمَ إِذَا ذَكَرْتَنِي خَالِيًا ذَكَرْتُكَ خَالِيًا وَإِذَا ذَكَرْتَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُكَ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنَ الَّذِيْنَ ذَكَرْتَنِي فِيْهِمْ (رواه البزار بسند صحيح) . (قَالَ الشَّيْخُ اِسْمَاعِيْلُ) "وَالذِّكْرُ فِي الْمَلاَءِ هُوَ الذِّكْرُ جَهْرًا وَحَسْبَ الذَّاكِرَ جَهْرًا هَذِهِ الْمَنْقَبَةُ الْعَظِيْمَةُ وَالْفَضْلُ الْمَزِيْدُ"

"Allah berfirman: Wahai anak Adam. Jika engkau menyebut-Ku dalam dirimu sendiri, maka Aku menyebutmu dalam diriku (tanpa diketahui yang lain). Dan jika engkau menyebut-Ku dalam kelompok yang mulia, maka Aku menyebutmu dalam kelompok yang lebih baik dari pada kelompok yang kau sebut Aku di dalamnya" (HR al-Bazzar dengan sanad yang sahih)

Kelompok yang mulia tersebut dapat dimaknai sebagai majelis dzikir diantara manusia dengan menggunakan bacaan secara keras (jahr). Pada dasarnya masih terdapat banyak lagi hadis penguat dalam mengamalkan dzikir secara keras sehingga semestinya dalil tersebut menjadi alasan kuat agar tidak dengan mudahnya menyalahkan amalan orang lain sesama muslim. Sebab adanya perbedaan amalan dalam setiap tareqat dikarenakan oleh sebuah hasil pemikiran (hujjah) yang berbeda dari setiap mursyid. Namun pada dasarnya amalan-amalan tersebut tidak bisa dianggap tidak benar selama masih berjalan didalam ranah syariat serta adanya dasar penguat (Al-Quran dan Hadis) dalam mengamalkan berbagai amalan tersebut.

Oleh karena itu, ketidakadanya suatu amalan di masa Rasulullah SAW, tidak bisa dijadikan dalil yang dapat menentukan halal dan haramnya suatu amalan baru tersebut. Sebab pada dasarnya tareqat telah berjalan dengan berpegang teguh pada metode para ulama pakar ushul fiqh yang dalam penentuan suatu hukumnya melalui jalan yang ilmiah. Dengan kata lain, suatu amalan dapat dikatakan haram apabila terdapat dalil yang menguatkan keharaman hal tersebut atau terdapat suatu hadis yang bertentangan dengan esensi yang terkandung dalam sesuatu tersebut. Namun apabila suatu amalan masih terkandung dalam ranah-ranah syariat islam maka tidak dapat dikatakan hal tersebut haram.

والله اعلم .......










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)