Opini

Terorisme dan Pendangkalan Pemahaman Agama Era Millenial

Admin MSN | Sabtu, 30 September 2017 - 23:12:36 WIB | dibaca: 158 pembaca

gambar diadopsi dari kisah muslim

 

Dewasa ini, semangat memperdalam agama sangat gencar melanda penduduk Indonesia, utamanya para generasi muda. Hal demikian tentunya bernada positif, mengingat ajaran agama adalah ajaran kebaikan dan perdamaian. Mendalami agama sama artinya dengan usaha memperbaiki akhlak dan moral.

Sebagaimana Bung Hatta dalam otobiografinya menyebutkan bahwa, -ruh dalam ajaran agama Islam adalah damai-. Begitu pula Gus Dur dengan konsep memanusiakan manusianya. Kemanusiaan dan perdamaian menjadi titik utama dalam memandang segala hal. Dalam Islam kita mengenalnya sebagai Hablum minan naas, tentu saja tanpa mengesampingkan hablum minallah.

Hanya saja, tidak semua orang dapat mengartikan Islam dengan cara demikian. Ayat al Quran yang berbunyi,

--ياايهاالذين امنوا ادخلوافى السلم كافة—Al Baqarah 208.

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah,

dianggap sebagai legalitas bagi mereka untuk menjadikan Islam Indonesia sebagai Islam arab. Merubah saya menjadi ana, kamu menjadi anta, dan menghilangkan kultur yang telah lama membudidaya di Indonesia dengan dalil kullu bid`atin dholalatin.

Sayangnya, mereka yang mudah sekali membid`ahkan dan mengafirkan orang lain adalah mereka yang baru saja belajar mengenal Islam, antara lain dari buku bacaan, youtube, artikel di Internet, dan halaqoh-halaqoh kecil ala kampus.

Dangkalnya pemahaman dan pengetahuan terkait Islam itu sendiri akhirnya menuntun pada persepsi yang salah dalam pemaknaan Islam sebagai sebuah agama yang rahmatan lil `alamiin. Islam diartikan terlalu tekstual dan juga formal. Islam tidak dikaji secara konteksnya tetapi hanya teksnya saja sehingga kandungan dari Islam itu menjadi terlupakan.

Gus Dur seringkali menegaskan konsep kulturalisasi Islam di Indonesia dan bukan formalisasi Islam dengan nama khilafah, NKRI bersyari`at atau apalah itu.

A.M. Safwan dari Yayasan Rausyan Fikr juga pernah menuturkan, bahwa agama Islam (Islam) dan orang beragama Islam (Muslim) adalah dua hal yang berbeda. Islam sebagai agama tentu saja akan selalu baik dan benar. Tetapi seorang muslim, tidak sepatutnya menilai segala hal dari segi ketuhanan, sehingga dia akan menilai segala hal yang berbeda dengan pandangannya sebagai sesuatu yang salah dan harus disingkirkan.

Lebih buruknya, pendangkalan pemahaman terhadap Islam terkadang dapat membimbing seseorang pada alur berpikir yang keliru dengan sesuatu yang dianggap memiliki kebenaran mutlak. Salah satunya adalah gerakan terorisme.

Para teroris tentu saja tidak ingin membuat kerusakan di muka bumi mengingat ada ayat Alquran yang menyatakan –Dan janganlah engkau membuat kerusakan di muka bumi setelah Kami memperbaikinya-, akan tetapi akibat dari pendangkalan agama, dengan anggapan bahwa mereka tengah melakukan jihad fi sabilillah dan iming-iming mati syahid dengan jaminan surga, mereka justru merelakan diri untuk melakukan aksi seperti bom bunuh diri.

Hal tersebut sangatlah disayangkan. Selain dapat merusak citra Islam, juga kasihan bagi mereka yang menjadi korban pendangkalan pemahaman agama (para teroris) dan juga korban bom bunuh dirinya, yang sebenarnya tidak berpotensi membahayakan Islam maupun keutuhan NKRI.

Tidak dipungkiri, salah satu alasan teroris melakukan aksinya adalah sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap saudara sesama muslim di Palestina dan Suriah. Sangat dimaklumi, jika perasaan seiman kemudian menjadi penggerak seseorang melakukan aksi solidaritas kepada saudaranya.

Akan tetapi, yang seperti itu tentunya tidak dibenarkan. Apalagi dengan semangat mengimport konflik asing masuk ke Nusantara, yang pada akhirnya hanya akan menumbuhkan semangat perlawanan dan rasa dendam. Lalu jika dibiarkan berkelanjutan, tidak menutup kemungkinan konflik asing berupa perang itu justru akan terjadi di tanah air sendiri.

Kalaupun ingin menunjukkan rasa prihatin dan peduli kepada saudara di Palestina dan Suriah, cara yang dipilih tidak perlu dengan melakukan gertakan-gertakan kepada pemerintah maupun melalui aksi terorisme.

Indonesia yang damai tidak seharusnya dirusuhi dengan hal-hal demikian. Sejak dulu, Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai dan tidak menggunakan perang. Walisongo memasukkan nilai-nilai keIslaman di Nusantara melalui akulturasi budaya dan juga penyesuaian terhadap masyarakat sekitar.

Itulah mengapa, dewasa ini, kita mengenal adanya beberapa ritual keislaman yang mengadopsi budaya Kapitayan, seperti bentuk bangunan langgar, acara tumpengan, bancaan, penggunan nama puasa, dan banyak lagi lainnya. Tidak ada ceritanya jalan kekerasan digunakan sebagai media dakwah di Nusantara.

Adalah pesantren sangat tepat menjadi solusi bagi mereka yang hendak memperdalam ilmu agama. Karena pendidikan pesantren yang diasuh oleh Kiai tidak akan mengajarkan seseorang untuk menjadi teroris dan merasa paling benar sendiri.

Selain itu, beberapa dari mereka yang memiliki laqob santri saat ini juga tengah gencar melawan gerakan radikalis dengan menyebarkan konten positif melalui media sosial. Salah satunya adalah mereka yang terkumpul dalam Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara.

-Penyebaran konten positif dan dakwah melalui media sosial diharapkan akan efektif untuk melakukan counter narasi dan juga penyeimbang bagi konten-konten radikal dari minhum. Terlebih sekarang ini banyak pemuda yang gemar sekali berselancar di dunia maya- tutur Romzi Ahmad, penasihat AIS Nusantara.

Lebih dari itu, pemerintah nampaknya juga telah melakukan antisipasi terhadap gerakan-gerakan radikal yang berpotensi membahayakan NKRI. Lebih jauh, adanya perhatian lebih terhadap gerakan terorisme dan Islam radikalis dari berbagai pihak diharapkan dapat membuahkan hasil yang manis, yakni: Indonesia yang damai dan kuat dengan persatuan antarseluruh elemen bangsanya. (Uswatun) 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)