Opini

TITIP RINDU KE TANAH SUCI

Admin MSN | Senin, 12 Februari 2018 - 09:29:28 WIB | dibaca: 502 pembaca

Gambar diambil dari google

Identitas Buku:

Judul Novel    : Titip Rindu ke Tanah Suci

Penulis          : Aguk Irawan MN

Penerbit         : Republika

Tahun Terbit   : Desember 2017

Jumlah Halaman   : 366

ISBN          : 9786020822877

Peresensi   : Ahmad Ali Adhim

 
Ahmad Ali Adhim (Mahasiswa Pasca UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pegiat Sastra di Pesantren Baitul Kilmah, dan Penulis Antologi Puisi "Lukai Aku Sekali Lagi")

Ketika menafsirkan Surah al-Baqarah ayat 197-203 Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pernah menjelaskan tentang hakikat haji: Haji adalah perumpamaan dari Kematian Kehendak (al-Maut al-Irâdiy) yang akan memunculkan Kehidupan Hakiki (al-Hayah al-Haqiqiyyah. Inilah ciri-ciri kehidupan yang disebut sebagai Kehidupan Biasa (al-Hayâh ath-Thabî'iyyah). Barangsiapa yang ingin mencapai haji dan kehidupan sejati, maka hendaklah ia mematikan dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan Kehidupan Biasa yang merupakan pinjaman Allah yang tidak abadi.  Berbeda dengan Aguk Irawan MN, ketika meletusnya kasus penipuan jamah umrah pada ahir 2017 banyak menyedot perhatian masyarakat bahkan petinggi negara. Jumat, 8 Desember 2017 seorang Reporter Merdeka.com bernama Nur Habibie dan  Henny Rachma Sari mengatakan Pemilik Travel Haji & Umrah itu sukses menipu mentah-mentah sekitar 58.682 calon jamaah haji dan umrah.

Dari ribuan jamaah yang tertipu itu, novelis Aguk Irawan MN menghadirkan kisah yang sangat dramatis, dalam novel nya yang berjudul "Titip Rindu Ke Tanah Suci" ini dibuatlah tokoh wanita tua yang bernama Mak Siti, ia hanya seorang penjual nasi Megono (nasi khas dari kabupaten Kebumen) dan tempe kemul di Stasiun Cakung. Namun hal itu tak membuat Mak Siti berkecil hati, penghasilannya yang serba pas-pasan tak membuat semangatnya surut untuk pergi ke Baitullah. Selain mempunyai penghasilan yang sangat kecil, Mak Siti adalah seorang janda, ia menjadi janda karena suaminya yang bernama Pak Khairul mengalami kecelakaan ketika menuju Kebumen, dari terminal Bekasi suami Mak Siti itu membawa harapan dan kebahagiaan, sebab Pak Khairul hendak mengurus penjualan rumah nya yang ada di Kampung, ia meninggalkan Istri dan Anak nya yang bernama Intan di rumah. Pada saat perjalanan menuju ke Kebumen, terjadi apa yang mesti terjadi, sesuatu yang tak pernah terduga. Bus yang ditumpangi Pak Khairul mengalami kecelakaan tragis di ruas jalan tol.

Kejadian itu sangat menyakitkan bagi Mak Siti dan Intan, sejak saat itu Mak Siti bekerja lebih ekstra, Mak Siti menjadi Ibu sekaligus menjadi Bapak untuk anak semata wayangnya. Sementara usia Mak Siti semakin tua, uban di rambutnya semakin banyak. Dari situlah Intan menyadari bahwa usia nya juga sudah cukup matang untuk menjadi seorang Istri. Selama menjadi penjual makanan di Stasiun, Mak Siti mempunyai banyak pelanggan yang baik, salah satu pelanggan yang baik itu adalah Zulkarnain, ia bukan hanya rutin makan dan minum di lapak Mak Siti ketika hendak pergi bekerja, kadang-kadang Zulkarnain juga ikut membantu Mak Siti berjualan. Pria kelahiran Bogor yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi kota Bekasi itulah yang menjadi suami Intan.

Pernikahan memang mendatangkan kebahagiaan bagi sepasang kekasih yang saling mencintai, tetapi terkadang mendatangkan rasa sakit yang amat dalam bagi siapa saja yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Kebahagiaan itu datang dan menjadi milik Intan bersama Zulkarnain, sepasang kekasih yang baru saja mengikat janji suci. Tetapi tidak bagi Rizal, Ridho, Samuel, Rodhi, dan Rahmat. Pemuda-pemuda itulah yang biasanya menggoda Intan di Gang. Rasa sakit yang tumbuh di dada kelima pemuda itu bervariasi, ada yang sakit ringan, sedang dan berat. Ringan karena hanya karena kagum kepada kepribadian Intan, sedang karena hanya sebatas suka kepada cara Intan bertutur sapa, sedangkan bisa menjadi dosis berat karena memang benar-benar cinta kepada Intan. Dan rasa sakit yang berat itu menimpa Rizal, hingga membuat ia terkapar, diibaratkan oleh Aguk Irawan MN hingga urat persendiannya terasa seperti lumpuh. Ia lemas, lunglai. Hingga ia kutuk dirinya sendiri atas apa yang dialaminya itu: Bagaimana bisa wajah intan tak juga pergi? Lalu dalam hatinya ia berkata:

"Bagaimana bisa aku sebodoh ini? Kutahan diriku sendiri selama ini untuk tidak mengganggunya, aku tak pernah dan tak mau menggodanya. Aku bukan Samuel, Ridho, Rodli, dan semuanya. Aku adalah aku yang tahu bahwa ia pantas dihormati. Oh, Intan..bahkan kau lebih mulia dari permata. Kau gadis yang bersahaja. O, seandainya cinta bisa kutitipkan melalui puisi, aku yakin puisipun tak mampu menggambarkan pesonamu. Aku terpesona, Intan.... Terpesona olehmu...Sejak dulu kala.." (hal 64). Dadanya semakin sesak ketika ia mengingat bahwa dirinya adalah sampah busuk. Pengangguran. Tak punya pekerjaan selain nongkrong di tepi jalan dan mabuk. Tak lebih dari itu ia sadar bahwa dirinya tak punya kemuliaan. Tak ada kharisma (wibawa) apapun. Hatinya lebih kalem dari kulitnya. Dan ketika kesadaran seperti itu muncul, Rizal pun bangkit, berusaha mengusir sekuat tenaga bayangan Intan. "dia sudah menjadi istri orang. Tak sepantasnya aku merindui istri orang. Aku benar-benar sampah.!"

Melalui pergolakan hati Rizal yang limbung di hadapan cinta itu, sekan-akan Aguk Irawan MN menyampaikan sesuatu yang amat serius; melihat banyaknya kawula muda, atau bahkan suami-suami yang sering merindui istri orang lain, apalagi istri sahabatnya sendiri. Tokoh Rizal yang dihidupkan dalam novel ini sangat menginspirasi, karena setalah hatinya remuk dan hancur gara-gara menyimpan cinta yang belum sempat ia sampaikan kepada Intan, lalu tiba-tiba begitu saja Intan telah menjadi seorang Istri dari Pemuda yang sama sekali belum Rizal kenal. Setelah mengalami guncangan batin itu, Rizal menjadi pemuda yang Shalih; menjadi Mu’adzin dan Imam di masjid, selain itu ia juga berhasil membuat teman-teman nya sadar, hingga geng mabuk-mabukan yang sering menjadi buah bibir masyarat itu berubah menjadi bauh hati masyarakat. Kelima pemuda itu menjadi rajin ke masjid, meski hanya nongkrong dan membantu Rizal bekerja nyemir sepatu, Samuel tak pernah mempermasalahkan Ibadah yang dilakukan teman-teman nya, meskipun ia sendiri bukan seorang Muslim. Dari kisah persahabatan mereka yang saling mendukung dan mengingatka itu, Aguk Irawan MN terlihat begitu serius ingin mengatakan bahwa Kebhinekaan adalah harga termahal yang dimiliki Bangsa ini. Tanpa adanya rasa toleransi dan saling mencintai antar sesama manusia, segala keinginan manusia yang tak satu tujan, akan saling bertabrakan.

Selain berbicara tentang kisah seorang wanita Tua yang bertekad berangkat haji dengan hasil jualan nasi di Stasiun, juga kesabaran wanita yang sering dicibir oleh tetangganya sendiri; (ibu-ibu bahkan anak-anak kecil) karena cita-citanya yang terlampau tinggi itu. Dalam Novel ini juga terdapat kisah seorang tukang service ampli (pengeras suara) yang mati terbunuh di tangan jamaah masjid. Entah motivasi apa yang membuat mereka tega membakar Joya hingga tewas, apakah karena termotivasi untuk Jihad? Atau karena mereka terlalu terburu-buru untuk menuduh orang lain hingga nyawa harus menjadi tumbalnya? Padahal pemuda yang terbunuh di depan Mushola itu adalah tukang service ampli yang ta’at beribadah, bukan pencuri.! Sebelum bara api membawa pergi nyawanya, ia begitu semangat mengambil ampli di rumah client nya, belum sampai di rumah, ia mendengar adzan lalu datanglah ia ke mushola, manakala ia selesai melakukan shalat, ia mengambil ampli yang ia letakkan di pojok mushola kecil itu. Perasaan bahagia dan senang karena uang 50 ribu sudah terbayang di benaknya, melangkahlah dia menuju ke rumah. Belum sampai 15 Meter dari Mushola, orang-orang di mushola itu teriak; "Maling,,,maling,,,,,,hajar maling, bunuh. Takbir, takbir!" (di halaman 19) kenapa ada kata takbir?

Rupanya Novelis kondang jebolan al-Azhar University ini ingin menyoroti prilaku keagamaan umat Islam dewasa ini yang semakin ganas dan menakutkan, dengan membawa nama Allah nyawa satu manusia menjadi halal? Apakah begitu? Padahal sebagai manusia yang beragama, sudah sepatutnya melakukan klarifikasi terlebih dahulu sebelum mengambil suatu tindakan, bahkan jika memungkinkan dianjurkan untuk mengamati dan meneliti. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Dr. Usamah Sayyid al-Azhary (dosen Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir) dalam karyanya yang berjudul al-haq al-Mubin fi al-radd 'ala Man Tala'aba bi al-Din; al-tayyarat al-Mutatharifah min al-Ikhwan ila al-Da'isy fi Mizan al-'Ilm. Bahwa Ibnu Abbas r.a. menemui Ali bin Abi Thalib untuk memohon izin agar diperkenankan mendatangi kaum Khawarij, Ibnu Abbas r.a. sengaja datang menemui kaum Khawarij untuk mengetahui apa yang menjadi prinsip mereka sehingga sangat membenci Sayyidina Ali r.a.? kemudian dari pertemuan itu, Ibnu Abbas r.a. mencatat poin-poin penting yang mereka jadikan argumen. Dari catatan itu Ibnu Abbas r.a. membawanya kepada Sayyidina Ali lalu dicarilah solusi untuk perdamaian.

Novel ini sangat menarik karena secara tidak langsung dari judulnya saja sudah mewakili pembacanya untuk merindukan Tanah Suci. Minimal sudah mengajak pembacanya untuk bercita-cita bertamu ke Baitullah meski hanya mempunyai penghasilan yang sedikit. Buktinya Mak Siti bisa berangkat Haji walaupun pada awalnya uang tabungan Mak Siti dari hasil jualan nasi Megono selama 10 tahun ia sisihkan untuk mendaftar Haji telah tertipu oleh Travel Haji Umrah? Mak Siti tetap bisa berangkat Haji! Atas pertolongan Allah. Meskipun, sebenarnya uang itu berasal dari Rizal; pemuda yang mengajarinya ngaji, Mak Siti memang keren, ia belajar ngaji karena mempersiapkan diri ketika di Makkah nanti, Ya. Ia belajar mengaji kepada Rizal; pemuda yang dicemburi Zulkarnain, pemuda yang menjadi Om-nya Zahra (anak Intan dan Zul), juga pemuda yang pernah jatuh cinta kepada anaknya Mak Siti. Saat Mak Siti terkena musibah penipuan itu, Intan juga terkena musibah karena suaminya selingkuh bersama wanita lain. Dua keadaan yang tidak pernah diinginkan oleh wanita manapun. Ditinggal selingkuh suami (poligami), dan ditinggal pergi suami untuk selamanya (meninggal). Penderitaan yang sangat lengkap. Semakin lengkap dan sempurna dengan adanya gunjingan dari Mpok Mahmudah, Mpok Jaitun, dkk. Dalam keadaan seperti itu Rizal lah satu-satunya yang paling sakit, ibarat kata "tergores di hati Mak Siti dan Intan, di dada Rizal lah yang bercucuran darah." karena melihat orang-orang yang ia cintai disakiti. Rizal memang luar Biasa, lebih luar biasa lagi seseorang yang menulis kisah ini, apalagi jika dari novel ini semakin banyak orang yang menyisihkan uangnya untuk berangkat haji? Novel ini sangat luar biasa! Namun, sayang, Mak Siti berpulang keharibaan Allah ketika melangsungkan Ibadah Haji, ia hanya pulang membawa nama dan jasadnya, sementara ruh nya sudah di alam yang lain. Sebuah kematian yang dicemburi banyak orang. Dari kematian Mak Siti itu, Rizal kembali frustasi karena merasa bersalah, jika Rizal tak membiayai Mak Siti berangkat haji, mungkinkah Mak Siti tak akan mati? Sungguh kematian adalah rahasia Allah. Meskipun Rizal mengetahui itu, perasaan bersalah bercampur menyesal memenuhi dada Rizal, ia memutuskan untuk pergi dari kampungnya. Lalu, karena cinta, ia menggagalkan rencana itu. Ya, karena cinta, cintanya kepada Intan, dan cintanya kepada Zahrah.

Sebuah novel yang berangkat dan terinspirasi dari kejadian nyata, sebagaimana karya legendaris Hamka yang berjudul 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck'. Novel yang sebentar lagi menjadi Film ini luar biasa, sangat religius dan mempunyai banyak sisi humor, menggelitik sekali, sehingga membuat pembaca kembali fresh setelah terbawa suasana kesedihan yang diciptakan oleh Novelis. Dikatakan religius karena Aguk Irawan MN menyelipkan hadis-hadis pada alur dan konflik yang dibuatnya. (Lihat halaman 14, ia mengutip Hadis Riwayat an-Nasa’i no. 2362 dan Ibn Majah no. 1839) meskipun ada beberapa kutipan hadis yang tidak konsisten diberi footnote, masih ada di sana-sini typo, juga salah menyebut istilah shalih yang semestinya adalah shalihah pada halaman 208, juga salah menyebut istilah almarhum yang semestinya dalah almarhumah pada halaman 355.) Meskipun demikian, novel ini tidak sedikitpun memberi ‘kesan’ kaku dan berat, bahasa nya sangat mengalir walau banyak kutipan ayat al-Qur’an dan Hadis. Dari Novel yang berjumlah 366 halaman ini dapat menjadi bahan renungan untuk kita semua. Syukur-syukur kalau kita bisa meniru semangat Mak Siti atau Rizal, berani menyimpan cita-cita mulia, yaitu cita-cita berangkat ke Tanah Suci, meskipun hanya diawali dengan modal Rindu dan Keyakinan kepada Allah SWT? tentu dibarengi dengan kerja keras dan Rajin Nabung. Wallahu a’lam. []

“Allahummarzuqna Ziyarotahu fi Kulli Sanah"

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)