Redaksi

Tuhan Takdirkan Kebersamaan Kita Terjeda (Part 2)

Admin MSN | Selasa, 12 Juni 2018 - 20:55:02 WIB | dibaca: 357 pembaca

Gambar diambil dari google

Oleh : Ahmad Ali Adhim

Dalam keadaan itu, aku menjadi tahu, ternyata tikus yang kumakan adalah korban kekhawatiran manusia terhadap makhluk yang tak punya akal. Ya, mereka takut terhadap keganasan tikus sehingga memberi makan tikus yang dicampur dengan racun. Lalu tikus dan racun itu masuk perutku, aku memakan kekhawatiran manusia, makhluk yang tak pernah mempunyai kepercayaan terhadap kebermanfaatan segala sesuatu yang diciptakan Allah, mereka lupa bahwa seluruh isi bumi dan langit ini adalah bentuk “tajalliyah” nya Tuhan.

Majikanku menangis mengetahui aku hanya diam saja di bawah kursi, kulihat linangan air matanya begitu deras dan mengalir membasahi pipinya, ia mengusapnya. Padahal aku berharap ia tak mengusapnya, sebab air mata karena kehilangan adalah air yang suci, dan hanya melalui kesucianlah segala sesuatu bisa sampai kepada penciptanya.

Aku memang tak seberuntung mahluk yang dirawat oleh Abu Syamsi Ibn Shakhr ad-Dausi seorang sahabat yang usianya lebih muda 30 tahun dari Rasulullah, beliau adalah sahabat yang sering meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah. Konon, beliau mendapat julukan “Abu Hurairah” karena mempunyai seekor hewan peliharaan yang amat dicintai, hewan itu ibarat bayang-bayang yang selalu mengikuti beliau, sering dimandikan, dibersihkan, dan tentu diberi makan yang layak. hewan itu adalah mahkluk yang sama denganku.

Aku termasuk salah satu jenis makhluk peliharaan di dunia, nama ilmiah ku adalah Silvestris Catus, orang-orang Kampus mengatakan kalau aku ini sejenis Mamalia Karnivora yang hanya memakan daging. Namun seiring berjalannya waktu, makhluk sepertiku juga dapat memakan makanan seperti gandum dan nasi. Ada juga makhluk sejenisku yang meminum susu, ia berbulu lebat dan mempunyai wajah yang lucu, ia amat populer di dunia, asal mula saudaraku yang sedikit beruntung itu berasal dari Persia yang kini disebut dengan Iran.

Seiring berjalannya waktu, ada juga makhluk sejenisku yang memakan krupuk dan tulang-tulang ikan, bahkan yang senasib denganku seperti sekarang ini, ia memakan kekhawatiran manusia. Tapi meskipun kami terpaksa makan tulang, kami tak pernah punya keberanian untuk memakan satu sama lain, kecuali jika lahir bayi “belangtelon”, kami harus memusnahkannya.

Untuk majikanku yang kini sedang berkabuh, terimakasih atas kasih sayangnya, aku sudah mengusulkan kepada Kanjeng Nabi, agar kelak engkau juga mendapat julukan sebagaimana “Abu Hurairah”, engkau layak mendapat julukan “Umu Hurairah”, bukan hanya itu, kalau diperbolehkan, aku akan meminta kepada Rasulullah agar engkau mendapat kemuliaan sebagaimana “Abu Hurairah”.

Di alam yang lain, aku menyaksikan perbincanganmu bersama penulis kisah hidupku ini, apa benar engkau akan bisa move on dariku dengan cara mencari lagi makhluk sejenisku yang keleleran di pasar atau di danau yang menjadi sempit atas keserakahan manusia? Benar, manusia serakah, kalau tak serakah, mana mungkin ia menjebak tikus dengan makanan yang dicampuri racun? Jika tak serakah tentu manusia itu akan membiarkan saja tikus memakan padi atau beras yang mereka simpan di rumah, toh berapa sih besar perut tikus? Tikus yang asli tak mungkin mampu memakan seluruh harta manusia, seperempat harta saja belum tentu habis. Berbeda dengan tikus yang berdasi, jangankan harta benda, KTP Elektronik dan aspal saja, ia lahap. Kenapa jenis tikus yang seperti itu tak diracuni saja?

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)