Redaksi

Tuhan Takdirkan Kebersamaan Kita Terjeda

Admin MSN | Jumat, 01 Juni 2018 - 07:36:06 WIB | dibaca: 247 pembaca

gambar merupakan ilustrasi

Oleh : Ahmad Ali Adhim

Seperti inilah kisah hidupku, sebelum senja menampakkan dirinya, sebelum Izrail mencabut nyawaku, dan akhirnya aku mati dengan tenang di bawah kursi. Aku adalah Koteng, nama ini pemberian majikanku, sekitar enam bulan yang lalu, aku tersesat di danau yang kini tinggal selebar lapangan Biliar, konon danau itu dulu amat luas dan jernih, banyak anak kecil yang berenang di sana, memandikan kesedihan bila kalah bermain kelereng. Karena keserakahan manusia, tanah sawah yang ada di sekitar danau itu diperluas sehingga danau semakin sempit.

            Sejak kecil aku sudah tak memiliki ayah, entah siapa nama ayahku, bahkan batang hidungya pun aku tak tahu, tiap aku bertanya kepada ibu "Wajah Ayah seperti apa, Bu?" Ibu mengatakan kalau hidungku mirip dengan hidung ayahku, sekedar itu. Sebagai anak piatu, aku tak terurus, tubuhku kurus dan kusam, semua itu berawal ketika Ibu mati dengan mengenaskan di tengah jalan raya. Ibuku berusaha nyebrang jalan, tapi usaha itu sia-sia, karena pengendara motor telah merenggut nyawanya.

            Semenjak kematian Ibu, aku terlantar, nasib membawaku pada keadaan yang sedikitpun tak pernah kubayangkan, aku luntang-lantung. Tak pernah kurasakan kasih sayang seorang ayah, ditambah kasih sayang Tuhan yang diberikan melalui ibu telah dirampas oleh pengendara motor yang tak tanggung jawab, kini aku menjadi yatim piatu yang bernasib amat pilu.

            Meski begitu, aku tak ingin menjadi beban bagi sesamaku, aku berusaha hidup mandiri, kuajak kakiku melangkah ke sebuah desa yang tidak jauh dari danau selebar lapangan Biliar itu, pikirku "Mungkin di desa itu aku bisa mendapat hidup yang layak" setidaknya aku bisa makan dari hasil keringatku sendiri, meski di rumah majikan, tak apa, aku lebih senang bila sakit karena bekerja, daripada sakit karena terlalu berharap pemberian orang-orang yang kebetulan lewat danau tempatku berteduh untuk sementara waktu.

            Sampailah kakiku di hadapan pintu rumah yang menghadap ke utara, aku tak tau rumah itu dihuni oleh seseorang yang baik atau tidak, aku tak peduli, aku hanya bisa menangis sesenggukan di depan pintu rumahnya. Maha Baik Allah, malam itu seseorang membuka daun pintu rumahnya, dia menghampiriku lalu mendekapku dan berbisik "Tenanglah, nak, kamu akan baik-baik saja, sudahi tangismu, mari masuk, makanlah seadanya di dapur, setelah itu istirahatlah, besok jika kamu berkenan, ceritakan kenapa kamu menangis tersedu-sedu sedalam itu." Aku tidak segera menjawab, hanya bisa merasakan hangatnya dekapan, sambil kuhapus bulir-bulir air mataku. "Terimakasih Tuan, terimakasih atas pertolongannya."

            Aku tahu, keberadaan ku di rumah orang itu tentu akan menjadi beban bagi keluarganya, aku bukan bagian dari keluarga mereka, tentu sebab itulah aku tak pantas menikmati hasil kerja mereka, kecuali jika aku bersedia menjadi pembantu rumah tangga mereka. Pada pagi harinya, kuberanikan diri untuk menawarkan tenagaku sebagai pembantu rumah tangga keluarga mereka. "Maaf, Bu, jika aku sudah merepotkan keluargamu, aku tak tau harus pergi kemana, aku tak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali Tuhan."

            "Iya nak, tenanglah, berhentilah menganggap bahwa dirimu sendiri, kamu sekarang punya keluarga baru, alhamdulillah kami sekeluarga menerima kehadiranmu dengan senang hati."

            "Jadi saya boleh tinggal di rumah ini, Bu?"

            "Iya, boleh."

            "Boleh apa, Bu?"

"Boleh tinggal di rumah ini."

"Alhamdulillah, terimakasih, Bu."

            "Sama-sama, nak."

            "Bu, bolehkah saya membantu keluarga Ibu mengurus kebersihan rumah?"

            "Maksudmu?"

            "Maksud ku, bolehkah kiranya aku mendermakan tenagaku untuk keluarga mu?"

            "Ooohh. Tentu boleh. Tapi ada syaratnya."

            "Apa itu Bu?"

            "Syaratnya, jangan pernah mengangap dirimu sebagai budak atau pembantu di rumah ini."

            "Kenapa, Bu?"

            "Ya, jangan, tuan yang sesungguhnya itu bukan manusia,"

            "Lantas siapa, Bu?"

            "Allah." Mendengar jawaban itu, aku tersenyum, tak lama kemudian disusul senyuman yang ramah dari Ibu yang tadi malam mendekapku.

            Wajah ku benderang, wajah yang diliputi dengan rasa syukur, aku menjadi bagian dari keluarga mereka, namun aku tetap tau diri, aku hanya "numpang" hidup di rumah itu, aku tak punya kuasa apapun terhadap isi rumah itu kecuali membereskan kotoran dengan tanganku.

            Bila majikanku main ke rumah tetangga, aku mengikutinya, aku sangat hafal dengan suara motornya, tiap kali motor majikanku berbunyi, aku mendekat dan segeralah majikanku mengajakku untuk ikut bersamanya. "Ayo ikut,"

***

            Majikanku adalah seorang guru bimbingan belajar, ia membuka semacam privat belajar untuk anak-anak Sekolah Dasar. Ia amat penyabar, tak heran jika banyak orang tua datang ke rumahnya untuk menitipkan anaknya. Kesabaran itu juga ia perlakukan padaku, meski mengetahui kalau kerjaanku hanya tidur di kursi, ia tak pernah marah, malahan terkadang saat jam bimbingan belajar berlangsung, aku dibangunkan agar ikut belajar juga bersama anak-anak kampung.

            Kemampuanku tak seperti anak-anak yang mendapat pelajaran di sekolah, aku tak bisa membaca dan berhitung, sehingga sering sekali mendapat cibiran dari teman-teman yang lain. "Dasar bodoh, gitu aja ndak bisa." Tiap ada murid yang mengejekku seperti itu, segeralah majikanku menegurnya. "Hust, ndak boleh gitu, ayo lanjutkan belajarnya."

            Itulah kebaikan terahir yang kurasakan dari majikanku, ia telah merawatku hingga usiaku makin dewasa, kurasakan kebahagiaan sebagaimana mestinya mahluk hidup yang layak merasakan bahagia dan gembira. Aku benar-benar bahagia meski tak lagi punya orang tua kandung.

            Sore hari setelah adzan ashar berkumandang, aku melihat ada tikus di dapur, segeralah kuhampiri tikus itu, lalu naluriku sebagai makhluk yang selalu lapar ketika melihat tikus berkeliaran, apalagi jika tikus itu gemuk dan sedikit botak, hasratku makin membuncah, kumakan ia hingga habis. Ludes sudah dalam hitungan lima menit.

            Tikus itu telah menyatu dengan diriku, aku kenyang, aku ngantuk, tapi rasa kantuk kali ini agak aneh, aku merasa mual lalu disusul dengan busa yang keluar dari mulutku, aku kejang dan lemas, lalu mataku semakin tak jelas untuk melihat. Gelap dan gelap, itulah yang aku rasakan, aku merasa aneh, kenapa aku bisa melihat tubuhku yang terkapar di bawah kursi tempatku tidur itu? Apa aku telah mati? Kenapa wajah Ibu tiba-tiba muncul di hadapanku?

to be continue...










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)