Opini

Warisan Perdamaian dari Kampung

Admin MSN | Kamis, 24 Agustus 2017 - 22:57:09 WIB | dibaca: 437 pembaca

Oleh: Fadli Rais*

Mencari sebuah potret perdamaian di Indonesia dengan datang ke kampung-kampung yang belum terkena dampak pembangunan. Mereka hidup damai dengan mata pencaharian petani setiap harinya.  Hamparan sawah hijau diwarnai burung-burung yang berterbangan ke sana kemari menjadi simbol bahwa keragaman bisa juga ditemukan di tempat yang jauh dari dentuman keras pembangunan.

Kehidupan perkampungan yang menjunjung adat istiadat sudah kenyang dengan  pengalaman masa lalu. Misalnya seperti perselisihan, ketidakpercayaan, serta kekerasan yang diselesaikan dengan jalan duduk bersama di ruang besar untuk menemukan jalan tengah, dalam masyarakat lebih dikenal dengan istilah musyawarah. Dalam kehidupan masyarakat desa, seringkali ditemukan kepala adat mengambil keputusan dengan rendah hati, masyarakat bicara “ngotot” demi perubahan masa depan desa, namun perangkat desa harus tetap berperan sebagai jembatan dalam penerapan hukum-hukum yang berlaku di masyarakat setempat. Kemudian para ahli agama yang dalam hal ini kiai atau ulama, mereka mencari solusi melalui nilai-nilai culture of religious yang sesuai dan saling membangun.

Saling berdiskusi dan menjunjung tinggi musyawarah dalam melakukan pengambilan keputusan untuk kemaslahatan bersama, bertujuan tidak lain untuk menghilangkan rasa duka di antara masyarakat. Mengubah cara pandang terhadap sebuah permasalah menjadi kekuatan untuk mempersatukan komunitas sosial.

Penyelesaian suatu permasalahan dengan jalan diskusi dan musyawarah bersama, mengajarkan masyarakat tentang kekuatan fondasi keberagaman yang di mulai dari diri sendiri dan keluarga. Kerangka sosial yang dibangun dari komunitas sosial paling dasar menjadikan worldview multi-religius. Interaksi sosial dijadikan alat utama untuk menunjukkan eksistensi perubahan masyarakat desa, yaitu dengan melalui pengembangan pendidikan yang berkemajuan.

Budaya mendapatkan ruang di masyarakat- bukan hanya di tempat-tempat tertentu saja- sebagai upaya membumikan generasi muda agar tidak lupa daratan.  Kepentingan, melestarikan kekayaan kultur yang sudah mulai tidak dianggap oleh generasi millenial, menjadi salah satu kekhawatiran kita terhadap warisan nenek moyang, apakah akan tetap eksis atau malah tergerus zaman.

Di kampung-kampung, selayaknya tidak perlu adanya diskriminasi tentang inferior mengenai kesempatan untuk berkarir dan mapan secara finansial. Kemudian mengubah cara pandang “urban” sebagai jalan terakhir dalam pola mencari pundi-pundi rupiah. Karena beranggapan bahwa mengolah kemampuan untuk menelurkan generasi di desa lebih baik ketimbang harus bertarung tanpa skill di kampung orang.

Pun, penyelenggara negara harus memahami secara genealogis tentang permasalahan daerah-daerah yang sulit terjangkau. Keragaman yang telah menjadi warisan dari nenek moyang suatu saat akan mengikis seiring kesenjangan ekonomi merajalela. Mengingat logika materialisme menjalar hingga pelosok kampung, ketika seseorang mendapatkan kenyamanan untuk mengakses barang-barang di desa. Hatinya memiliki kecenderungan untuk guyub dan tetap melestarikan kebudayaan. Namun, ketika akses ekonomi menjadi sebuah masalah yang semakin pelik, maka lambat laun akan terjadi sebuah prahara yanag tak terprediksi.

Narasi keragaman yang telah dibangun antar suku, agama, ras, dan golongan di sebuah perkampungan, diperlukan kesedian masyarakat menahan ambisi politik massa yang destruktif. Gejalan politik massa yang sedang tren justru menjual nama untuk mendapat suara serta menjatuhkan lawan dengan bantuan massa. Hal tersebut jauh dari pendidikan politik yang beradab dan tidak memiliki pijakan historis dalam lingkungan tersebut.

Damai dalam keberagaman bisa terwujud pada sebuah perkampungan melalui penerapan nilai kultural yang dibawa secara historis sebagai bentuk sakralisasi terhadap warisan turun-temurun. Adapun penerapan di zaman post-modern, masyarakat perlu melihat setiap masalah dengan pandangan multi-disipliner untuk melihat setiap warisan yang dijadikan panutan, apakah masih relevan dan fleksibel dengan kondisi masyarakat atau perlu modifikasi. (*/Mahalasari)

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Al-Huda Jetis-Kebumen.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)