Opini

Gus Dur dan Dinamika Pluralisme di Indonesia

Admin MSN | Rabu, 23 Agustus 2017 - 15:22:04 WIB | dibaca: 300 pembaca

Gus Dur

Oleh: Achmad Sirojul Munir 

KH. Abdurrahman Wahid atau yang sering kita kenal dengan sebutan Gus Dur merupakan sosok tokoh Indonesia yang konsen memperjuangkan Pluralisme dalam ranah publik untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Pengakuan Gus Dur tentang Pluralisme di Indonesia ini tentunya tidak bertentangan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika sebagai motto bangsa Indonesia yang memberikan tempat terhormat terhadap keanekaragaman di Negeri ini.

Sebagai negara multikultural, Indonesia memiliki berbagai ragam suku, agama etnis dan budaya. Keragaman ini dapat dilihat dari kondisi sosiokultural dan letak geografis yang kompleks, beragam, dan luas. Menurut Nasikun, setidaknya ada 2 ciri unik keragaman masyarakat Indonesia, pertama secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan. Kedua secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.

Tingginya keragaman bangsa Indonesia membawa berbagai persoalan dan potensi konflik yang berujung pada perpecahan. Potensi konflik tersebut bisa terjadi dalam skala kecil maupun besar. Dalam skala kecil, konflik tercermin pada komunikasi yang tidak tersambung atau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga hal ini menyebabkan rasa tersinggung, marah, frustasi, kecewa, dongkol, bingung, bertanya-tanya, dll. Sementara itu, konflik dalam skala besar terwujud dalam kerusuhan sosial, kekacauan multi budaya, serta perseteruan dan permusuhan yang mengarah ke konflik SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan).

Ide pluralisme yang termaktub indah dalam firman tuhan mengaharuskan kita menghargai orang yang berbeda dengan kita. Tuhanlah yang menghendaki makhluk-Nya tidak saja berbeda dalam realitas fisik, melainkan juga berbeda dalam ide, gagasan, keyakinan, dan agama sebagaimana disebut dalam beberapa firman-Nya. Di anataranya adalah: “Andaikan Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan umat yang satu, dan (tetapi) mereka senantiasa berbeda” (QS. Hud: 118). “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya” (QS. Yunus (10):99). Dengan demikian, sangat jelas bahwa ketunggalan dalam beragama tidaklah dikehendaki Tuhan. Pada ayat lain sangat populer disebutkan: “Tidak ada paksaan dalam memasuki agama” (QS. Al-Baqarah: 256). Berdasarkan semua ayat di atas dapat dipahami bahwa keragaman dan perbedaan merupakan sunnatullah. Oleh karena itu, Allah memberikan kebebasan dan larangan pemaksaan bagi seseorang untuk memeluk suatu agama. Karena jalan yang benar dan salah sudah dijelaskan Tuhan. Pilihan diserahkan kepada setiap orang untuk mengikuti antara jalan keimanan atau kekafiran dengan segala konsekuensinya. Hal ini sesuai dengan Firman Tuhan, yaitu: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir…” (QS. Al-Kahfi:29).

Negara yang memiliki keunikan multietnis seperti Indonesia dihadapkan pada permasalahan yang dilematis. Dalam satu sisi hal ini membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar sebagai multicultural nation-state, tetapi disisi lain merupakan suatu ancaman konflik SARA. Maka kondisi seperti ini diibaratkan seperti bara dalam sekam yang mudah tersulut dan memanas sewaktu-waktu. Fenomena-fenomena seperti ini acapkali terjadi di Indonesia. Misalanya; konflik warga sunni dan syiah di Sampang Madura, pembakaran tempat ibadah di Tolikara dan di Singkli Aceh, dan pembakaran rumah warga eks-Gafatar di Pontianak. Guna menghindari fenomena-fenomena tersebut, perlu adanya implementasi ajaran Gus Dur tentang Pluralisme di negeri ini. Dengan harapan supaya terciptanya kemaslahatan, kerukunan, serta kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)