Kemeriahan Nonton Bareng dan Bedah Film “SARUNG” Santri Untuk Negeri

Suasana Nonton Bareng dan Bedah Film "Sarung"

Malang, Media Santri NU

“SARUNG” Santri Untuk Negeri, merupakan film yang diproduksi oleh Rumah Kreatif Production dan disutradarai oleh Grantika Pujianto. Ia menuturkan bahwa film ini merupakan sebuah karya yang menggambarkan karakter dari sosok santri dan lingkungan pondok pesantren. Ia juga menambahkan bahwa film ini terinspirasi bagaimana kita sebagai warga Nahdlatul Ulama berkesempatan dalam berkarya dalam dunia perfilman dan digital. Harapannya film ini bisa dinikmati oleh kalangan Nadhliyin, imbuhnya.

Pada kamis malam (31/12/2020), diadakan bedah dan nonton bareng film “SARUNG” Santri Untuk Negeri, yang bertempat di Pondok Pesantren Sabilurrosyad “Gasek” Malang, dalam acara tersebut dihadiri oleh sutradara film Grantika Pujianto, dan pemeran film “SARUNG”. Di tempat bedah dan nonton bareng film tersebut dihadiri oleh para santri, ustadz dan ustadzah. Acara ini berjalan lancar mulai awal hingga akhir acaranya.

Film ini berusaha menggambarkan kehidupan santri di pondok pesantren. Nilai-nilai yang ditanamkan kepada santri selama di pondok pesantren melalui berbagai kegiatannya. Selain itu, menurut Grantika Pujianto selaku sutradara, film ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat bagaimana tindak tanduk santri, bagaimana tutur kata santri, apa saja yang diajarkan selama di pondok pesantren. Ia menambahkan bahwa film ini sebagai bukti, kita sebagai warga Nahdlatul Ulama atau Nadhliyin juga bisa membuat sesuatu yang layak untuk ditonton, dinikmati dan bukan hanya tentang film guyonan atau percintaan saja.

Film ini dinamai Sarung, karena santri identik dengan sarung. Sedangkan “Santri Untuk Negeri” adalah wujud apresiasi terhadap santri dan terimakasih kepada pemerintah. Karena secara resmi pemerintah menetapkan pada tangga 22 Oktober 2017 sebagai Hari Santri Nasional. Dan istilah Santri Untuk Negeri juga diambil dari tema Hari Santri pertama pada tahun 2017. Oleh karena itu, film ini didedikasikan kepada para santri khususnya warga Nahdlatul Ulama dan pemerintah Indonesia yang telah menetapkan Hari Santri yang bertepatan dengan Resolusi Jihad, tutur Grantika Pujianto.

“Film “Santri” mulai dikerjakan pada tanggal 15 Agustus 2019. Sedangkan pengerjaan skenarionya dikerjakan lebih awal yaitu pada rentan tahun 2016-2017. Hanya saja pada saat itu masih belum ada pemain yang memainkan perannya sebagai karakter. Dan untuk para pemainnya sendiri berasal dari teman-teman IPNU, IPPNU, kalangan pondok pesantren, Fatayat dan Ansor” imbuhnya.

“Acara bedah film ini digelar tidak lain dan tidak bukan selain agar dapat dinikmati oleh para santri dan mengisi kegiatan yang unik dan berbeda dalam menyambut tahun baru, juga dapat memunculkan sineas-sineas baru dan menjadi motivasi untuk media Gasek sendiri agar selalu bersemangat serta tidak takut dalam mengembangkan ide ataupun berkarya. Seperti  halnya film ini yang dibuat dengan swadaya tanpa adanya sponsor atau murni ikhlas untuk warga Nahdlatul Ulama. Harapan lain yaitu yang terpenting adalah untuk menjaga santri agar tidak ikut serta dalam hiruk pikuk kemeriahan tahun baru di luar sana”, tutur ketua pelaksana, Ahmad Tajuddin Zahro’u.

Rencananya ke depan, film ini akan launching bertepatan dalam rangka Harlah Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 Januari esok. Beserta timnya Grantika Pujianto akan mengenalkan dan menayangkan film “Sarung” ini di berbagai pondok pesantren sebagai persembahan untuk Nahdlatul Ulama.

Oleh : Mochammad Elfithruzzuhru M

Editor: RH Ula

Leave a Reply

%d bloggers like this: