4 Kemampuan Santri Di Zaman Modern

          Media Santri NURevolusi Industri 4.0 memberi tantangan tersendiri bagi kaum santri. Pergolakan permasalahan di masyarakat, problema pendidikan, ketertimpangan ekonomi dan krisis moral dalam politik adalah cermin dari meredupnya kesadaran dan etika didalam kehidupan. Hal tersebut seakan menjadi sebuah keniscayaan yang sulit diubah dari rantai pemikiran seseorang. Oleh karenanya, santri perlu menggembleng mental dan kemampuan yang dapat menjawab problema maupun tantangan tersebut.

          KH. Marzuki Mustamar, pernah berpesan kepada santrinya, mengenai kompetensi ideal seorang santri di zaman modern, yaitu “Santri kudu wani dalile, wani suwuke, wani duite lan wani gelute” yang bermakna santri harus berani dalilnya, berani suwuknya, berani uangnya dan berani bertanding (melawan musuh). Dengan kompetensi tersebut, KH. Marzuki Mustamar berharap seorang santri dapat mengisi sektor-sektor penting didalam masyarakat. Menjadi seorang muslim yang kuat, serta dapat membela agama Islam serta Nahdlatul Ulama secara maksimal.

Wani Dalile

          Wani dalile, Santri harus memiliki Intelektualitas yang tinggi. Mengerti dasar tindakan amaliyah berislam dari Al-Quran, Hadist, ijma’ dan qiyas. Juga menyelami nilai-nilai yang terkandung dalam kitab-kitab salaf dan menginterpretasikannya dalam kehidupan dizaman sekarang. Mampu menganalogikan sebuah dogma agama agar dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat awam. Sehingga dapat dinamis dalam memutuskan suatu perkara yang kompleks di masyarakat dengan elegan.

Wani suwuke

          Wani suwuke, Santri harus memudawamkan (melanggengkan) doa kepada Allah SWT. Doa merupakan sarana bagi santri untuk bertaqorrub kepada Allah SWT. Doa juga merupakan senjata terbesar bagi orang mukmin (الدعاء سلاح المؤمن). Segala hajat, akan tercapai lewat kebeningan hati dan kemantapan batin ber Tawajjuh kepada Allah SWT. Seorang santri, seyogyanya juga memiliki tirakat dan riyadhoh yang tinggi. Sedikit makan, kuat terjaga di malam hari dan selalu rendah hati dihadapan orang lain (selalu merasa dirinya  masih kurang dalam hal apapun). Dari laku yang dijalani tersebut, diimbangi dengan wiridan yang maksimal, Insyaallah santri bisa menjadi solusi permasalahan dimasyarakat. Contoh sederhana, berkah suwuk santri, seorang yang sakit (atas kehendak Allah SWT) dapat sembuh, seorang anak yang nakal dapat menjadi hilang nakalnya dan sebagainya.

Baca Juga : Pesan Untuk Santri

Wani duite

          Wani duite, Di zaman akhir, mayoritas manusia berorientasi pada harta. Menuhankan uang sebagai sebuah nyawa yang wajib ada didalam tubuh manusia. Menjadikan seolah  mereka se Alim apapun, sebaik apapun dan sepintar apapun jikalau tidak memiliki harta yang banyak, maka nasehat ataupun suaranya tidak didengar  maupun dipatuhi oleh masyarakat. Sehingga, terjadi krisis panutan. Mereka yang tidak sholat dipercaya. Mereka yang tidak menutup aurat ditiru, mereka yang bermaksiat dijadikan idola, hanya karena mereka memiliki nilai harta lebih dibanding seorang yang lainnya.  Oleh karenanya, santri harus berikhtiar untuk menjadi icon dan panutan dimasyarakat. Memiliki harta lebih, yang dapat mengimbangi mereka yang kurang mencerminkan akhlak beragama Islam. Bagi santri, harta bukan untuk memenuhi kebuputuhan hawa nafsu pribadi, tetapi Harta dijadikan sebagai wasilah untuk berjuang li I’lai kalimatillah,  membantu masyarakat yang membutuhkan dan membumikan keadilan sosial di setiap sendi kehidupan bersama.

Wani gelute

          Wani gelute, Santri sebagai garda terdepan dalam membela agama Islam pada umumnya dan Nahdlatul Ulama pada khususnya, harus memiliki fisik dan mental yang kuat. Tangkas dalam menghadapi gejolak sosial yang tidak menentu. Keributan, tindakan-tindakan inkonstitusional, main hakim sendiri adalah problema yang harus diantisipasi dan dihilangkan. Upaya-upaya adu domba antar umat Islam, antar Nadhliyin dan antar sesama bangsa harus dilawan dengan lantang. Tugas santri bukan menyerang, tapi sebagai tameng  agar situasi dan kondusi beragama maupun bernegara tetap kondusif.

Baca Juga : Santri Dan Sebuah Refleksi

Semoga kita ditakdirkan dan diridhoi oleh Allah SWT untuk memiliki empat kemampuan tersebut. Diridhoi meneruskan perjuangan para ulama. Dan kita dapat membela agama Islam maupun organisasi Nahdlatul Ulama dengan kuat, menjadi panutan bagi dunia Nasional maupun dunia Internasional.

Wallohu a’lam bissowab.

Penulis : Muhammad Fathurrozaq

Leave a Reply

%d bloggers like this: