Teguhnya Keimanan Sang Budak Habasyah; Bilal bin Rabbah

Penyebaran ajaran agama Islam mempunyai lika-liku cerita yang sangat rumit, banyak sekali masyarakat Arab yang menentang terhadap apa yang diturunkan oleh Nabi Muhammad SAW. Agama Islam disebarkan dengan cara yang baik dengan tanpa melalui jalur kekerasan, dakwah islam terbagi menjadi 2 tahapan, yakni secara sembunyi (sirriyah) dan terang-terangan (jahriyyah), dakwah secara sembunyi (sirriyah) dilakukan selama kurang lebih tiga tahun di lingungan terdekatnya, hingga setelah itu Nabi Muhammad SAW melanjutkan dakwahnya secara terang-terangan (jahriyyah) ketika pengikutnya sudah dirasa banyak dan ketika perintah Allah SWT turun untuk melakukan dakwah secara terang-terangan. Ditengah perjalanan dakwah yang cukup sulit, Allah mulai memberikan hidayah bagi orang yang dikehendakinya untuk tertanam dalam hatinya rasa iman baik dari kalangan atas seperti raja, pemuka adat, pemimpin suku, pangima perang, perdana menteri dan juga pada kalangan bawah seperti pelayan dan budak. Banyak sekali budak yang memeluk agama Islam karena dirasa agama Islam adalah agama yang damai, dan tidak ada status sosial yang bisa menghalangi akan kebebasan beribadah, ajaran agama Islam adalah ajaran yang selama ini mereka idam-idamkan yang tidak memandang sesuatu dari sisi keduniawian saja, melainkan lebih memanusiakan manusia.

Salah satu dari kalangan budak yang diberi hidayah oleh Allah SWT untuk masuk kedalam agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah Bilal bin Rabbah yang berasal dari Habasyah, Bilal bin Rabbah adalah seorang budak  Bani Jumah di Kota Makkah yang sangat patuh terhadap tuannya, berkulit hitam, berpostur kurus, tinggi jangkung, dan berambut tebal. Kehidupan Bilal bin Rabbah tidaklah berbeda dengan kehidupan yang dialami oleh budak-budak lain pada masanya yang selalu mendapatkan penyiksaan maupun caci makian dari majikannnya selama bertahun- tahun lamanya, dan ketika hidayah tuhan sampai kepada Bilal bin Rabbah, beliau langsung menemui Nabi Muhammad SAW dan menyatakan keimanannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. “Wahai Umayyah binti Kholaf, budakmu yang berkebangsaan Habsyi telah memeluk Agama Islam”, ucap seseorang yang menyaksikan berislamnya Bilal bin Rabbah, “saya bersaksi bahwasannya matahari pada hari ini tidak akan tenggelam, kecuali bersamaan dengan tenggelamnya keislaman Bilal bin Rabbah”, begitulah gumam Umayyah binti Kholaf dalam hatinya, akan tetapi matahari pada hari itu tidaklah tenggelam bersamaan dengan tenggelamnya keislaman Bilal, akan tetapi pada suatu hari akan tenggelam bersamaan dengan berhala-berhala milik Kaum Kafir Quraisy.

Ketika berita berislamnya Bilal bin Rabbah tersebar, maka pada saat itu setan- setan di berada pada neraka jahannam mulai berkumpul dan bersarang kedalam dada Umayyah binti Kholaf, ia menyiksa Bilal dengan siksaan yang pedih. Ketika pertengahan hari, Bilal bin Rabbah diseret kedalam padang sahara yang terik mataharinya yang panasnya bagaikan api yang menyala-nyala, kemudian beberapa orang dewasa mengangkat batu gurun yang sangat besar yang kemudian dijatuhkan keatas dada Bilal bin Rabbah, akan tetapi Bilal bin Rabbah yang sangat teguh pendirian itu hanya bisa mengucap  “ahad, ahad” , orang-orang tetap memaksanya untuk melafalkan kalimat persaksian terhadap tuhan berhala, Bilal bin Rabbah pun menjawabnya dengan perkataan pahit, “lidahku tidak dapat mengucapkan hal yang demikian”.

Siksaan yang diberikan kepada masyarakat yang memeluk Agama Islam semakin lama semakin pedih, terlebih pada seorang budak seperti Bilal bin Rabbah yang berkeyakinan berbeda dengan apa yang diimani majikannya. Bilal bin Rabbah meyakini hanya ada satu tuhan yang paling berhak untuk disembah yakni Sang Maha Ahad dan meyakini bahwa sesembahan kaum kafir seperti berhala adalah sesembahan yang tidak pantas untuk disembah. Hal tersebut adalah hal yang memicu murkanya seorang tuan dari Bilal bin Rabbah yang bernama Umayyah binti Kholaf yang mana sangat membenci Nabi Muhammad SAW, hingga pernah mencaci maki beliau dengan sebutan pembohong, penyihir, orang gila. Setiap harinya, jika waktu siang telah tiba, Bilal bin Rabbah diperlakukan sama yakni ditindihkan batu besar diatas dadanya dan dijemur di panasnya gurun pasir yang tidak ada pepohonan sama sekali, hingga yang lebih parahnya adalah Umayyah binti Kholaf memerintah anak-anaknya untuk mengikat Bilal bin Rabbah dengan tali dan menyeretnya mengelilingi suatu gunung yang ada di makkah, siksaan itu tidak akan dihentikan sampai Bilal kembali kepada kepercayaan nenek moyangnya.

Hingga pada saat itu, Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq melihatnya secara langsung kejadian yang sangat tidak berperikemanusiaan tersebut, “apakah kamu akan membunuh seseorang yang bersaksi bahwa Allah SWT adalah tuhan semesta alam ?”, ucap Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, “belilah ia dengan harga yang tinggi dan bawalah dia pergi untuk kamu merdekakan!”, sahut Umayyah binti Kholaf, dan kemudian Sayyidina Abu Bakar menebusnya dengan harga yang sangat mahal terhadap patokan harga budak pada masa itu, yang kemudian dimerdekakan langsung oleh beliau. Abu Bakar langsung menjumpai Rasululloh SAW dan mengabarkan berita gembira yakni masuk islamnya seorang Bilal bin Rabbah.

Bilal bin Rabbah adalah orang yang pertama kali yang diamanahi oleh Rasulullah SAW untuk melantunkan seruan untuk melakukan sholat yakni adzan, beliau menjadi muazin untuk sholat lima waktu, alangkah mulianya kedudukan beliau . Hari demi hari terus berlalu, beliau terus mengabdikan dirinya kepada agama Islam, mengorbankan jiwa dan raganya untuk kejayaan agama Islam, hingga pada akhirnya Bilal bin Rabbah dipanggil kepada kehadirat Allah SWT setelah melantunkan adzan terakhirnya pada saat masa kepemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

 

Oleh : Lintang Ramadhani
Sumber : Kitab Rijal Haula Rasul

Leave a Reply

%d bloggers like this: