NU Dan kesantaian dalam beragama

Bicara masalah praktik beragama, sejak dulu hingga sekarang, paling tidak sejak berdirinya, yakni tahun 1926, NU adalah ormas yg paling lunak dalam menjalankan praktik beragama.

NU tidak pernah kaku dengan gelombang modernisasi atau westernisasi. NU selalu membuka ruang dialog dengan setiap perkembangan yang ada. Alhasil, eksistensi NU selalu diterima di banyak kalangan.

المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلاح

Fleksibel dalam beragama, tidak lantas memberi kesan bahwa NU asal asalan atau semaunya dalam beragama. Dalam banyak hal NU selalu melandaskan ajarannya pada sumber-sumber hukum yg akurat dan terpercaya serta bisa dipertanggungjawabkan.

Ketika banyak kelompok menuduh NU sebagai ahli bidah, khurafat, dan musyrik, tidak ada satupun dalil yang bisa membenarkan tuduhan-tuduhan tersebut. Mulai dari tahlilan, dibaan, barzanjian, manaqiban, serta hal berpenampilan yang hari ini sering diangkat kepermukaan oleh kalangan cingkrang jidat hitam (wahabi dan lain-lain).

Sikap lunak NU dalam beragama, apalagi terbuka dengan berbagai tradisi yg sudah Lestari selama ini, menjadi bulan-bulanan kaum kaum konservatif tidak terkecuali wahabi dan kaum cingkrang. NU hari ini menjadi Benteng terakhir dari upaya propaganda kaum kaum tersebut.

Jika misi mereka berhasil, bukan hanya tradisi beragama yang akan carut marut, tetapi masalah kedaulatan bangsa juga akan terganggu. Hal ini karena ada korelasi secara tidak langsung antara beragama dan kedaulatan bangsa di Indonesia.

Mengingat, sebagian dari out put propaganda mereka adalah formalisasi agama dalam tatanan hukum negara. Untuk itu, penting kiranya fikrah dan harokah NU dalam beragama terus d gaungkan. Sebagai ormas santuy (tasamuh) Eksistensinya tidak boleh redup di telan zaman.

Prinsip tasamuh, tawassuth, tawazun, dan i’tidal, bisa menjadi tonggak penguat wajah Islam Indonesia yg sejak dulu terkenal ramah dan toleran. Dan sebagai nahdiyyin kita punya tanggung jawab akan lestarinya prinsip ini.

NU dan Indonesia berikut dengan berbagai tradisi keagamaan yg beragam menjadi komposisi apik, yang suatu saat akan menjadi kiblat dunia, baik dalam beragam dan bernegara.

Tetap santai (lunak), mari jaga NU dan Indonesia.

oleh : Jumhur Hidayat

Leave a Reply

%d bloggers like this: