Sukses Sidang Online, Covid-19 Bukan Halangan.

Nisa’atun Nafisah yang biasa dipanggil Nafisah tersebut pada hari kamis taggal 2 April 2020  telah sukses melaksanakan sidang online di Pondok Pesantren Sabiluurrosyad 3, Betek-Malang. Santri asal Gresik itu adalah mahasiswa yang pertama menjalankan sidang skripsi di angkatannya Jurusan Sastra Arab  Universitas Negeri Malang. Walaupun tidak dapat bertatap muka secara langsung dengan para dosen, hal itu tidak mengurangi sedikitpun semangatnya dalam menjalankan sidang.

Di tengah-tengah pandemi covid 19 yang umumnya mahasiswa akhir harus mondar-mandir, bolak-balik bimbingan ke dosen dan kesibukan lainnya, tetapi ternyata kebijakan mengharuskan kampus dilockdown. Dengan segala keterbatasan karena pandemi ini, dia tetap menyelesaikan tugas akhirnya. Solusi sidang yang diberikan oleh kampuns ialah sidang online. Pada pelaksanaan sidang online dia tidak memakai presensi kehadiran. Ketika itu aplikasi yang digunakan adalah Webex. Pada aplikasi ini dapat menampilkan slide ppt yang dapat ditampilkan dan  dilihat oleh dosen juga. Sebelumnya dia diminta untuk mengumpulkan ppt dan softfile skripsi full berbentuk word dan ppt, tetapi sebenarnya sebelum kampus dilockdown dia juga telah mengumpulkan berkas word berupa hardfile sebanyak 3 eksemplar ke jurusan untuk para dosen.

Bukan berarti sidang online mudah, selain membutuhkan koneksi internet yang lancar, persiapannya pun juga harus matang. Menurutnya, dalam hal ini dosen memiliki indikator tersendiri untuk mencapai tingkat kelulusan. Pertanyaan yang dilontarkan oleh dosen pun cukup banyak dan rinci mulai dari pendahuluan sampai dengan lampiran. Menurutnya hal inilah yang menjadi perbedaan antara sidang online dan offline. Berdasarkan pengalamannya cerita dari kakak tingkat yang menjalankan sidang online, pertanyaan tidak serinci itu tetapi syukur Alhamdulillah santriwati ini mampu menjawabnya hingga diujung sidang dinyatakan lulus. Setelah itu ia juga dikirimi file pdf yang sudah dicoret-coret serta diberi komentar berupa kutipan oleh dosen untuk direvisi.

Lalu pertanyaanya bagaimanakah Nafisah yang memiliki prinsip Selesaikan satu, lalu kerkajan yang lain! ini dapat menyelesaikan skripsi di tengah-tengah kewajibannya menjadi seorang santri sekaligus pengurus serta aktifis di media santri?. Ada beberapa kiat-kiat yang dilakukannya, yaitu sebagai berikut.

  1. Harus punya target yaitu skripsi harus disapa setiap hari! Walaupun itu hanya dibuka saja atau mengerjakan yang mood
  2. Rajin bimbingan ke dosen.
  3. Perbanyak doa
  4. dan dherek dhawuhnya Kiai Marzuki Mustamar dari Kiai Masduqi Machfudz  “Allohumma mekso awak.” Tambahnya, “Jangan terlalu memaksakan diri, jika merasa capek maka istirahat, jika sumpek maka refreshing.”

Terakhir Nafisah berpesan bahwa kita sebaiknya  selalu sami’na wa atho’na dalam hal kebaikan. Jangan banyak beralasan karena banyak alasan itu seperti benalu yang melilit diri kita sendiri. Kita harus berani melangkah, yakin, serta punya tekat yang kuat. Jangan jadikan wabah covid-19 menjadi alasan kita tidak produktif. Kampus juga telah meyediakan beberapa alterantif pembelajaran. Tambahnya, kalau ada dosen yang sulit dihubungi, kirimi Al Fatihah sebanyak-banyaknya. Meminta bantu doa baik orang tua, teman-teman, maupun guru kita. Baginya yang ia sebut guru adalah semua orang baik tua maupun muda yang pernah mengajarinya  walaupun hanya sedikit.

Oleh : Tim MedisantriNU

Leave a Reply

%d bloggers like this: