Tolok Ukur Keharmonis-Langgengan Perkawinan Dalam Rumah Tangga

Media Santri NU

Oleh: Shofwan Hadi

Allahu robbi maha pencipta, menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan. Ada surga dan neraka, air dan api, dan terkhusus makhluknya yang bernama manusia; ada laki-laki dan perempuan. Untuk dapat berpasangan terlebih dahulu laki-laki dan perempuan ini harus melangsungkan sebuah pernikahan. Pernikahan merupakan suatu ikatan suci yang bertujuan untuk membangun keluarga yang bahagia dan kekal.

Dewasa ini dapat kita jumpai di surat-surat kabar fenomena perceraian atau bubarnya sebuah pernikahan, entah itu karena faktor pernikahan muda, ekonomi, perselingkuhan, kesetaraan gander dan sebagainya. Maka dari itu sebelum melangsungkan sebuah pernikahan, sangat lah perlu mengetahui dan menimbang secara baik. KH. Marzuki Mustamar pernah dawuh atau berkata dalam pengajiannya, “untuk menentukan sebuah pilihan harus melewati tiga tahap, yakni perenungan, musyawarah, dan istikhara.”

Perenungan artinya kita bermuwajahah mengadu kepada Allah, berpikir secara mendalam dalam menimbang segala persoalannya. Kemudian musyawarah yang berarti kita meminta pendapat dan nasehat kepada sanak keluarga, kerabat, teman, bahkan guru atau kyai. Serta yang terakhir istikhara yang berarti meminta petunjuk langsung kepada Allah SWT dengan melaksanakan sholat istikhara.

Kembali pada banyaknya pernikahan yang hancur dan atau tidak harmonis, serta mengingat tujuan dari sebuah pernikahan sendiri yaitu kebahagiaan dan kekekalan sebuah keluarga. Pada dasarnya analogi yang relevan, jika keluarga harmonis maka keluarga tersebut akan langgeng dan kekal. berdasar faktor yang telah dipaparkan di atas dapat diklasifikasikan bahwa hancurnya pernikahan itu karena nikah muda, ekonomi, dan perselingkuhan. Namun faktor yang dapat mencakup semua bahkan menjadi cikal wadah faktor-faktor tersebut, yakni kafa’ah antara suami dan istri.

Apa itu kafa’ah?
Kafa’ah berasal dari kata kufu’ yang berarti sama, sederajat, sepadan, atau sebanding. Kafa’ah dalam pernikahan ialah persesuaian atau kesetaraan antara sang suami dan sang istri. Kenapa penulis memilih kafa’af? Karena dari kafa’af dapat diturunkan ke berbagai aspek kehidupan di rumah tangga, diantaranya: Agamanya, nasabnya, tampang atau rupawannya, dan hartanya. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Bukhori-muslim:


تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena nasabnya, kecamtikannya, dan agamanya, maka dahulukan mencari wanita karena agamanya engkau akan beruntung.”

Pertama kafa’ah atau sekufu’ dalam harta dikenal dengan kaya dan miskin, indikatornya dapat dilihat dari apa pekerjaannya dan berapa royalti/ pendapatan yang dihasilkan, selain itu juga dapat dilihat dari propety yang dimilikinya. Jika unsur kafa’ah dalam harta ini tidak terpenuhi, maka ketika terjadi syiqoq (pertengkaran) sangat rawan sekali bahwa yang diatas akan mencemooh dan atau mengolok-olok. Khususnya apabila ketidak kufu’nya dari pihak laki-laki, perempuan dapat meremehkan laki-laki hingga berkurangnya rasa hormat istri kepada suami.

Kedua kafa’ah dalam hal nasabnya, sang perempuan dari keluarga terpandang (gus atau ning) sementara laki-laki dari keluarga yang biasa (santri biasa) atau sebaliknya. Ketika kafa’ah dalam hal nasab tidak terpenuhi’, suatu ikatanakan teruji saat pra nikah yakni saat memperjuangkan cintanya. Kemudian pasca nikah ujian akan lebih banyak datang dari faktor luar (kerabat-kerabat dekat hingga jauh). Hal tersebutlah yang akan mengakibatkan pasangan mendapat tekanan batin.

Ketiga kafa’ah dalam hal paras wajah dan atau fisiknya, orang cantik atau tampan dan orang kurang menawan (jelek). Ketika tidak terpenuhinya kafa’ah dalam hal ini, tekanan akan datang dari orang lain yang melihat. Ada kalimat slengek.an yang sering terucap dalam benak orang lain, yaitu “beruntungnya orang itu, dia jelek tapi pasangannya sangrupawan” atau sebalikanya “kok mau dia sangat rupawan menikah dengan pasangannya yang tidak rupawan.”

Keempat kafa’ah dalam hal agama, orang faham agama dan orang awam. Ketika tidak terpenuhi unsur kafa’ah dalam hal agama tidak banyak terjadi sebuah permasalahan, dikarenakan sifatnya share information (berbagi informasi). Ketika ada yang salah dan atau tidak tau, maka diberi tau dan dibenarkan.
Klasifikasi Kafa’ah

Kafa’ah tidak harus sama atau sederajat dalam hal yang sama, semisal perempuan cantik dengan laki-laki tampan, perempuan kaya dengan laki-laki kaya, gus dengan ning, dan perempuan faham agama dengan laki-laki yang juga faham agama. Namun, kafa’ah akan tetap bisa terpenuhi dengan hal yang lain.

Semisalnya seorang ning dinikahi oleh seorang santri biasa dari keluarga biasa tapi sangat dalam ilmu agamanya, hal ini tetap dikatakan sekufu’ karena pihak laki-laki memiliki ketinggian ilmu agama yang mendalam. Sehingga ketidakkufu’annya dalam hal nasab dapat ditutup atau diimbangi dengan keunggulan tingginya ilmu agama yang dimiliki. Begitu juga dalam konteks yang lain, perempuan kaya menikah dengan laki-laki biasa yang tampan dan tinggi ilmu agamanya.

Kafa’ah dalam pernikahan sendiri lebih ditekankan pada keseimbangan, keharmonisasian, dan keserasian, terutama dalam hal agama, yakni akhlaq dan ibadah. Karena jikalau kafa’ah diartikan persamaan dalam hal nasab, harta, tampang dan atau fisik, maka akan tercipta kasta-kasta sosial seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Dewasa ini kafa’ah menjadi momok besar tembok pengha seelang seorang insan merasa minder, malu, dan tidak pantas untuk orang pilihan hanya karena tidak sekufu’, padahal baru dalam satu hal saja. Sementara itu masih banyak hal yang dilewatkan, hal yang kita lebih tinggi derajatnya dari pasangan kita. Hal tersebut menjadi penyeimbang atas ketidakkufu’an dalam hal lain.

Kafa’ah bukan lah syarat sahnya perkawinan
Sudah tidak bisa dinafikan bahwa ketidak terpenuhinya kafa’ah menjadi faktor utama seorang laki-laki tidak berani ambil tindakan untuk menikahi gadis pilihannya. Pada dasarnya kafa’ah bukan lah faktor yang menentukan sah tidaknya sebuah perkawinan. Kafa’ah merupakan hak semua insan khususnya bagi perempuan dan walinya, karena perkawinan yang tidak setara, sekufu, dan atau seimbang, akan menimbulkan problem yang berkelanjutan ketika ada problem kecil dan bisa berujung perceraian.

Oleh karena itu mari rubah mindset, kafa’ah bukanlah batu penghalang untuk menunaikan ‘itikad baik sesuai sunnah Rosulullah SAW dan menjauhi kemaksiatan. Akan tetapi tidak boleh juga jikalau mengabaikan kafa’ah, karena kafa’ah merupakan faktor yang dapat mendorong terciptanya kebahagiaan suami istri dan keluarga. Selain itu juga dapat lebih menjamin keselamatan perempuan dari kegagalan dan atau kegincangan rumah tangga. (Editor.RH.Ula)
Waallahu ‘alam bisshoab !!!

Leave a Reply

%d bloggers like this: