Manusia Yang Hilang

Suatu sore yang cerah, seorang Bapak duduk di halaman rumahnya dengan secangkir kopi hangat. Memandangi taman-taman bunga dan kolam ikan di sekitar rumahnya. Angin sepoi-sepoi dan udara amat sejuk. Terasa benar suasana desa yang nyaman. Hingga tak lama kemudian, seorang anak lelakipun datang menghampirinya.

“Bah, di sekolah tadi Adek belajar Biologi.”

“Belajar tentang apa Nak?”

“Reproduksi sama siklus hidup manusia Bah.”

“Oh, terus gimana pelajarannya tadi?”

“Bagus Bah, Adek sekarang baru ngerti bagaimana proses manusia itu diciptakan sama bagaimana perjalanan hidup manusia. Subhanallah ya Bah”

“Emang gimana ceritanya? Adek gak mau bagi ilmu ke Abah?!”

“Mau Bah. Jadi, di minggu pertama Sel Sperma yang jumlanya mencapai 5 jutaan itu berlomba-lomba dapat menembus indung telur. Meskipun jumlahnya sangat banyak, tetapi yang dapat masuk nanti hanya beberapa, bisa satu atau lebih. Itulah yang nanti akan jadi janin. Kita memang keren ya Bah, belum lahir aja udah bisa kalahin jutaan Sel Sperma. Bener kata Allah, kalau Kita itu sebaik-baik ciptaan, kita adalah pemenang. Adek jadi termotivasi untuk wujudin cita-cita Adek!”

“Betul itu! Lanjutin ceritanya!” sahut Abah sambil nyeruput secangkit kopi.

“Di mingu ke dua terjadilah pembuahan. Setiap 30 jam sekali, Sel Telur yang telah dibuahi Sel Sperma membelah menjadi dua bagian. Setiap bagiannya akan membelah lagi menjadi dua bagian. Begitu seterusnya hingga mencapai ratusan Bah. Kemudian di minggu ke tiga, ratusan Sel Telur tadi menempel di dinding rahim. Kata pak guru, itu namanya blastosit. Ukurannya sangat kecil Bah, 0,1-0,2 mm.”

“Oh, begitu Nak!” sahut Abah sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Terus di minggu ke empat janin sudah mulai membentuk struktur manusia. Otak, tulang belakang, jantung, dan aorta sudah mulai terbentuk. Aorta itu semacam urat besar yang membawa darah ke jantung. Luar biasa kan Bah!”

“He’em” sahut Abah sambil kembali menyeruput kopinya.

“Nah di minggu selanjutnya ini Bah, minggu ke lima. Ada proses penting terjadi!”

“Proses apa Dek?!”

“Terbentuknya tiga lapisan penting organ tubuh manusia Bah; lapisan ectoderm, mesoderm, dan endoderm. Lapisan ectoderm itu lapisan paling atas yang membentuk sistem saraf pada janin (otak, tulang belakang, kulit, dan rambut). Lapisan endoderm itu lapisan tengah yang membentuk organ jantung, buah pinggang, tulang, dan organ reproduktif. Sedangkan lapisan endoderm itu lapisan paling dalam yang membentuk usus, hati, pangkreas, dan pundi kencing. Begitu Bah, mulai dari minggu ini sampai minggu ke 38 atau 40, lapisan-lapisan itu akan terus berkembang hingga menjadi sempurna seperti manusia.”

“Adek makin pintar ya…” puji  Abah setelah mendengar penjelasan runtut dari anaknya. Sementara Adek terlihat senang dengan senyum mengembang di bibirnya.

Sore pun semakin larut, cahaya kuning dari matahari pelan-pelan mulai tampak. Adek pun terus melanjutkan ceritanya.

“Bah, tadi tu pengetahuan baru yang membuat Adek terkagum-kagum.”

“Iya, benar. Abah sendiri sampai melongo lihat Adek cerita. Pengetahuan seperti itu tidak ada di sekolah Abah dulu.” Sahut Abah.

“Tapi ada sesuatu yang lebih mengejutkan dan membuat Adek penasaran!”

“Apa itu Dek?” tanya Abah dengan rasa penasaran.

“Tentang siklus hidup manusia Bah. Kita kan pernah di dalam perut ibu dengan segala kerumitannya. Setelah itu kita lahir. Jadi bayi yang digendong-gendong, terus tumbuh kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, kemudian mati Bah! Semua itu dilewati manusia dalam waktu lebih kurang 63 tahun sebagaimana Rasulullah. Kalau Adek yang sekarang baru duduk di kelas dua SMA dengan usia 17 tahun, berarti tinggal 46 tahun Adek hidup!.”

“Kok Adek bilangnya gitu! Usia itu cuma Allah yang tahu, barangkali Adek bisa 60-70 tahun lagi hidup. Adek jangan mikir yang aneh-aneh ya!” seru Abah, sambil membenarkan posisi duduknya setelah mendengar pernyataan Adek yang mulai serius.

“Iya sih Bah, cuma Adek berpatokannya sama usia Rasulullah. Adek gak mikir aneh-aneh kok Bah, Adek cuma bingung nanti setelah Adek meninggal, Adek nanti ke mana ya? Kalau jasad sih Adek tahu pasti ke kuburan kayak nenek dulu, tapi kalau ruh atau arwah, Adek nanti ke mana?” tutur Adek dengan pandangan yang agak datar.

“Adek, Kita itu ciptaan Allah, dari Allah dan akan kembali ke Allah. Ruh Kita nanti setelah meninggal akan mendampingi jasad juga di kuburan sampai hari kiamat. Pas setelah dimakamkan, Kita akan didatangi dua malaikat penjaga kubur. Kalau amal baik Kita banyak, mereka akan datang dengan baik-baik dan santun. Tetapi kalau amal buruk Kita lebih banyak, mereka akan datang seperi petir yang menyambar-nyambar! Kemudian mereka akan bertanya pada Kita tentang enam perkara; siapa Tuhanmu? Siapa nabimu? Apa agamamu? Siapa imammu? Di mana kiblatmu? dan Siapa saudaramu? Kalau Kita bisa menjawab dengan benar, maka Kita bisa tidur seperti tidurnya pengantin baru. Tetapi kalau tidak bisa, Kita akan disiksa dengan siksaan yang pedih. Kata pak kyai di desa dulu, kalau ada orang yang tidak melaksanakan sholat, maka di kuburan akan disengat kalajengkin besar hingga mendidih tubuhnya sampai berhari-hari. Dan banyak lagi siksaan-siksaan pedih lainnya. Di kuburan itu gelap Dek, tidak ada cahaya sama sekali bagi mereka yang buruk amalnya. Abah tidak bisa membayangkan kalau misalnya di posisi itu, na’udzubillah. Oleh sebab itu, Kita disuruh benar-benar taat kepada Allah.”

Mendengar penjelasan Abahnya, mata sang Adek terlihat seperti orang mulai ketakutan. Tenggorokannyapun sempat terlihat menelan ludah. Sang Abah menyadari hal itu. Dia mencoba mengalihkan pembahasan lain yang lebih ringan. Tetapi tanpa diduga sang Adek kembali membahasnya.

“Bah, cerita Abah tentang siksa kubur tadi, Adek sebenarnya juga sudah pernah dengar. Tetapi tetap saja kalau mendengarnya lagi Adek takut.”

“Gak pa pa, justru itu menandakan bahwa Adek masih punya iman!” sahut Abah.

“Iya Bah, alhamdulillah. Tapi…”

“Tapi apa Dek?!”

“Sebenarnya, bukan hal itu yang membuat hati Adek bingung! Kalau saja Abah tahu, Adek seringkali memikirkan hal ini kalau sedang sendiri.” Tutur Adek dengan pandangan yang semakin datar dan kosong.

“Apa Dek?! ceritakan saja pada Abah barangkali Abah bisa bantu! Sahut Abah dengan penasaran dan rasa khawatir yang mulai timbul di hatinya. Lantas dengan perlahan, Adek mulai bercerita dengan nada yang serius.

“Kita punya Ruh Bah, yang kata pak Kyai adalah diri kita yang sejati. Ruh dalam perjalannya akan melewati berbagai alam; alam roh, alam rahim, alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat. Masing-masing alam memiliki jangka waktu yang berbeda, ada yang pendek, ada juga yang panjang sekali. Adek bingung ketika sudah sampai di alam terakhir khususnya pada saat di surga dan neraka. Pas Adek ngaji dulu, mereka yang berbuat kebajikan semasa di dunia akan mendapat balasan kebaikan di akhirat dengan masuk surga. Sebaliknya, jika banyak berbuat dosa di dunia akan mendapat balasan setimpal yakni dimasukkan ke neraka. Mereka yang disurga akan bahagia selama-lamanya. Sedangkan mereka yang di neraka akan menderita selama-lamanya.”

“Iya, benar Dek. Lalu apa yang Adek bingungkan?!”

“Tentang sifat kekalnya Allah Bah. Kita tahu bahwa Allah punya sifat kekal. Kalau misalnya kita sebagai manusia terus berada di surga atau di neraka selama-lamanya, berarti kita menyamai sifat Allah Bah. Kita amat lancang kalau demikian. Allah adalah satu-satunya Dzat yang abadi. Tidak ada satupun makhluk yang dapat menyamainya. Jadi, suatu saat Allah bisa saja melenyapkan semua makhluknya sebagaimana sebelum semuanya diciptakan. Ini yang Adek pikirkan, menurut Abah bagaimana?

Abah terdiam dan mengernyutkan dahi atas pertanyaan anaknya. Cukup lama Ia demikian, barangkali sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk anak. Lantas, tak lama kemudian Ia pun angkat bicara:

“Nak, Abah tidak tahu kenapa kamu bisa berpikir sampai begitu. Entah siapa yang mengajarimu. Adek anak kritis, apa yang Adek pikirkan tidak salah. Sebagai ayah, Abah merasa bangga, tetapi sekaligus malu karena Abah tidak mampu menjawabnya. Abah minta maaf. Adek sebaiknya terus belajar lagi. Gali lebih dalam apa yang menjadi kegelisahan Adek. Temukan jawabannya dan ingat pesan Abah ini; jangan sekali-kali menjadikan apa yang Adek pikirkan sebagai pedoman hidup sebelum mendapatkan jawaban yang benar dari ahlinya.”

Nggeh Bah, Adek nurut dawuh Abah. Cuma Abah juga perlu tahu kalau Adek punya pikiran; apapun yang terjadi pada nasib ruh Adek nanti, entah binasa atau lenyap selama-lamanya, Adek tak ambil pusing, Adek pasrahkan semuanya pada Allah. Itu haknya Allah, Sang Pencipta. Ibarat Adek punya barang, ya terserah Adek mau diapain barang itu. Tapi Adek yakin Allah itu maha adil. Allah tidak akan semena-mena. Lagian, Adek juga hanya makhluk yang tidak bisa menciptakan diri sendiri. Lillahi ta’aala lah Bah.”

“Udah maghrib, Adek ke langgar dulu ya.”

Oleh: Azzamil Man

Leave a Reply

%d bloggers like this: