Indonesia dan Senyuman

Ketika saya kuliah magister di Malang antara tahun 2010-an, saya diajar oleh seorang dosen bernama Prof. Ali Kamil dari Sudan. Beliau dosen Bahasa Arab di salah kampus islam ternama di Kota Malang. Beliau sangat terkagum dan cinta Indonesia, atas kekaguman dan kecintaannya inilah lalu beliau membuat catatan-catatan kecil tentang Indonesia. Suatu hari beliau memanggil saya untuk mengetik catatan-catatan kecil beliau yang ternyata lumayan banyak, saya sarankan agar tulisan beliau dicetak saja agar bermanfaat bagi pembaca Indonesia. Mendengar itu beliau tampak antusias dan senang. Setelah saya tulis hasilnya kurang lebih sekitar 70 halaman. Lalu beliau memberi judul tulisannya dengan judul “Nafatsaat”, yang menarik dari tulisan beliau tentang Indonesia ini judul yang pertama adalah tabassum, senyuman.

Ketika saya bertanya kenapa beliau memilih tabassum sebagai judul yang pertama dalam karyanya, beliau menjawab karena dimanapun dan kapanpun saya berada di sini maka yang saya temukan dari Indonesia adalah indahnya senyuman. Senyuman memang bagian dari ciri ke-Indonesia-an, dalam jatidiri bangsanya yang asli bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh dengan senyuman. Bangsa yang penuh dengan kehangatan kepada siapa saja. Ke tanah manapun kita datang di Indonesia pasti yang kita dapatkan adalah keramahan warga yang menyambut kita dengan senyum dan hangatnya persaudaraan. Indonesia adalah tanah dengan senyuman surga dan surganya senyuman.

baca Juga : NU Dan kesantaian dalam beragama

Sayangnya akhir-akhir ini, kita menemukan banyak kemarahan terutama di media sosial. Banyak diantara kita yang hampir lupa untuk tersenyum, kita hampir lupa tentang kehangatan, kita hampir lupa jatidiri ke-Indonesia-an kita bahwa bangsa kita adalah bangsa senyuman dan keramahan. Banyak diantara kita yang lupa dengan dirinya, bahwa dirinya adalah orang Indonesia yang mestinya dia menampakkan keramahannya bukan kemarahannya.

Hampir setiap hari kita menemukan hate speech atau ujaran kebencian di media sosial, setiap orang seolah ingin meluapkan kemarahan kepada siapa saja yang tidak sama dengan dirinya atau kelompoknya. Bahkan saat ada seorang Buya dan ulama yang karena memberikan pernyataan yang tidak sesuai dengan keinginan dirinya atau kelompoknya lalu ulama ini dihina dan dicaci. Kepada siapa saja yang tidak bersamanya maka berarti tidak membela. Dan berhak untuk dihina dan dicaci. Sungguh ini bukan karakter bangsa kita.

Jangan sampai kita tercerabut dari jatidiri bangsanya, kalau dalam istilah cak nun banyak dari kita ini yang gumunan, kadang tidak bangga menjadi dirinya sendiri. Kalau sudah pintar ilmu umum dia kebarat-baratan kalau sudah pintar agama dia ke arab-araban, lah jowomu endi?? Indonesia-mu mana??. Mari menjadi Indoensia, yang benar-benar menjadi Indonesia. Memahami kebinekaan sebagai sebuah keniscayaan yang harus kita eratkan dengan kebersamaan. Mari kembalikan senyum Indonesiamu karena senyuman adalah bahasa yang bisa diterjemahkan oleh bangsa mana saja, oleh siapa saja.

Oleh : Enjang Burhanuddin Yusuf

*akademisi, dosen, penggiat literasi pesantren, pembina mediasantrinu.com

Leave a Reply

%d bloggers like this: