Sawo Pesantren

Orang-orang mengatakan sawo yang terdapat di pesantren umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun. Kabarnya, sawo itu turut menjadi saksi perjuangan Kyai Anwar, kakek dari Kyai Sulaiman, seorang pengasuh Pesantren Mansyaul Huda yang sekarang. Kyai Anwar bisa muncul untuk menemui santri yang mempunyai keteguhan tinggi dalam menuntut ilmu.

Letak pohon itu berada di depan pojokan bangunan, tepat berada di samping jalan menuju mushola pondok. Di seberang jalan itu terdapat sumur yang biasa dipakai santri mandi saat air di kamar mandi kering. Anehnya, pohon itu tidak terlihat besar seperti pohon beringin yang kerap terlihat besar di usianya yang semakin menua.

Pohon sawo itu tetap terlihat kecil dengan batang yang berukuran diameter dua puluh sentimeter, rantingnya rata-rata berukuran setengah dari diameter batangnya dan tingginya hanya sebatas genting komplek Darussalam. Sangat sedikit santri baru yang mempercayai umur sawo itu.

Para santri amat senang belajar dibawah sana, kadang mereka berebutan untuk sekedar bertengger pada ranting yang kecil itu. Biasanya saat bersandar pada ranting mereka membawa kitab imrithy, kitab ini merupakan kumpulan nadhom untuk memahami kaidah dasar ilmu nahwu.

Dengan sayup-sayup angin dan rontahan dedaunan, mereka memejamkan mata sambil mengulang-ulang nadhom untuk mereka hafalkan. Mereka meyakini, kondisi tersebut adalah kenyamanan yang tidak bisa didapatkan dari tempat lain. Yang paling sering menjadi langganan bertengger adalah Dimas.

Baca juga : Manusia yang hilang

Selasa pagi merupakan hari komitmen para santri. Dimana mereka akan menyetorkan hafalan pada ustadznya masing-masing. Di setiap sudut pesantren merupakan tempat menghafal bagi santri untuk hari ini. Mulai dari pojok kamar, di depan kamar, di samping kamar, pelataran musholla, di sumur, di samping musholla, di gubuk.

Dalam keadaan sendirian, berhadap-hadapan dengan teman, atau seperti barisan semut yang rapi. Kukira kalian bisa membayangkan bagaimana santri berusaha keras untuk memberikan yang terbaik pada ustadz pembimbingnya. Saat mereka telah siap dengan hafalannya, satu-persatu akan menyetorkannya pada ustadz.

Berhadapan dengan ustadz seperti pertarungan jantan, perbekalan, amunisi disiapkan. Bukan dengan pedang, clurit atau pistol seperti perang. Melainkan daya ingat, mulut dan kesesuaian antara pengucapan dengan ingatan.

“Sudah siap?” Ustadz Habib bertanya pada Dimas.

Dimas hanya mengangguk. Siap atau tidak, kalau sudah berhadapan berarti telah mempertaruhkan semuanya. Kata Dimas dalam hati. Seperti biasa, saat Dimas sudah berhadapan dengan ustadznya maka Khoirul akan setia berada di belakangnya. Bukan karena Khoirul lebih malas atau lemah hafalannya melainkan dia memang ditugaskan untuk memantau dan memotivasi Dimas. Mereka berangkat ke pesantren ini bebarengan. Dengan waktu dan jam yang sama.

Dimas mulai melafalkan hafalannya, di ingat-ingat syair yang dihafalkan selama di pohon sawo, saat di awal tidak ada kendala, lancar bagaikan mobil balap yang melaju pada sirkuit lurus. Saat Dimas menikmati hafalannya yang dirasa lancar, Ustadz Habib mendengus.

Khoirul yang tahu bahwa ada kesalahan dalam syair yang dilancarkan mengeluh dalam hatinya, “Duh Salah.” Dimas masih saja melafalkan hafalannya sampai Ustadz Habib menepukkan tangan pada kertas di tangan dengan sedikit ucapan, “Salah.” Dimas berhenti, mengulang lagi hafalannya. Salah lagi.

“Dimas, hafalan hanya sepuluh baris masih saja belum lancar. Waktu menghafalkan seminggu. Normalnya, jika kamu menghafalkan setiap hari satu baris maka akan mendapatkan tujuh baris. Lah ini, lima baris saja sudah kehilangan.”

Dimas tidak berani mengucap sepatah katapun. Dia hanya menunduk dan menatapi keramik lantai yang putih. Karena ini bukan kali pertamanya menjadi sasaran amarahnya ustadz. Hampir setiap setoran pasti kena marah.

“Kamu dengar tidak, menunduk begitu. Apa kamu tidak merasa ingin menjadi lebih baik dari kemarin-kemarin. Kalau setiap setoran kamu begini terus, hafalan kamu tidak akan sampai saat kenaikan siffir nanti, saat setiap santri diuji hafalannya agar bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Kalau sampai sekarang tidak ada usaha yang lebih, kamu termasuk orang yang merugi”.

Ingin Dimas menjelaskan ke Ustadz Habib bahwa dia telah berusaha keras lebih dari sebelum-sebelumnya namun saat dia berani membantah pasti Ustadz Habib akan memberikan petuah-petuah yang sama seperti sebelumnya “lebih baik aku diam” pikir Dimas.

“Sudah, sekarang kamu balik dulu. Usahakan minggu depan setorannya dua kali lipat dari hari ini. Masih banyak yang sedang menunggu di belakangmu” seru Ustadz Habib sambil menuliskan nama Dimas dan jumlah setorannya pada kertas putih yang dia pegang.

Dimas berbaring di kamarnya. Dia sudah terbiasa menghadapi kemarahan Ustadz Habib, disaat itu pula, dia ingin berputus asa untuk meninggalkan pesantren ini. Biasanya kalau sudah berputus asa, malam-malam dia akan berbaring di pohon sawo depan musholla. Melihat pohon sawo itu membuat dia berfikir ulang untuk boyong karena mengingat bahwa pendidikan tidak diperoleh hanya dengan waktu yang sebentar.

Baca juga : Santri dan kentut

Dia membuka kembali buku kecil yang dia letakkan dalam saku berisi syair karangan Syekh Syarafuddin Yahya. Dia mencari dimana letak kesalahan melafalkan syair di depan Ustadz Habib.

“Dimas, dipanggil keamanan” Khoirul memanggil Dimas saat sedang asyik-asyiknya melafalkan nadhaman.

Dengan bingung tentang apa kesalahannya, Dimas menuju ke ruang keamanan pondok. Ruang keamanan adalah ruang yang paling dibenci para santri, disana letak semua kesalahan diumbar, satu ruang seperti sebuah kuburan yang mempertanyakan perilaku santri tiap minggu, hari, jam bahkan detiknya, letak santri melakukan pertanggungjawaban atas perbuatannya. Seakan keamanan adalah malaikat pencatat keburukan, mempunyai intelijen profesional yang tidak diketahui para santri.

Ruangan dengan sebuah foto pendiri pesantren diatasnya, disinilah Dimas sekarang. Berhadapan dengan Kak Irfan, Pengurus bagian keamanan pondoknya.

“Ada apa Dimas?” tanya Kak Irfan berbasa-basi.

“Kata Khoirul saya disuruh kesini” Dimas menjawab sambil mulai duduk.

“Kamu tahu kesalahan kamu apa?”

Dimas diam, dia kebingungan apa kesalahannya sekarang. Memang dia punya salah yang banyak, tapi selama ini aman-aman saja. Dimas mulai menerawang dan mengingat segala kesalahannya tapi urung mengutarakan pada keamanan karena dia tahu, mengaku depan keamanan itu sama dengan bunuh diri. Biasanya saat sidang kesalahan ada lima sampai enam orang dengan kesalahan yang sama. Dimas heran karena dia sendirian tidak ada yang menemani.

“Kenapa diam, bisu hah?”

“Tidak kak.”

“Jawab pertanyaan saya, tidak lihat tulisan di atasku, katakanlah walau pahit.” Terjadi penekanan dalam mengucapkan kata mutiara tentang kalam mutiara yang diutarakan Kak Irfan.

“Iya kak.”

“Lalu apa kesalahanmu?”

“Tidak tahu kak.”

“Kamu berlagak tidak tahu atau emang bodoh, kesalahanmu sendiri itu” sebuah tangan melayang pada pipi Dimas. Kak Irfan sudah geram dengan perilaku Dimas yang tidak mau menjawab apapun pertanyaannya. Tidak lama kemudian, dia mengeluarkan sebuah kertas dengan lipatan berupa persegi.

“Ini apa?” tanya Kak Irfan sambil membentak.

“Ini surat apa, dari siapa, kamu tahu di pondok tidak boleh berpacaran. Berhubungan dengan lawan jenis yang bukan mahram termasuk perbuatan mendekati zina dan itu sangat dilarang Allah. Satu lagi, tidak mungkin kebaikan bercampur dengan keburukan. Kamu sedang menuntut ilmu, saat itu, malaikat membentangkan sayapnya untuk membawa kemanapun kamu minta nanti, saat semua makhluk Allah mendoakanmu, kamu malah melakukan kemaksiatan yang membuat do’a itu tidak akan mengarahkanmu” ceramah Kak Irfan.

“Tapi saya tidak tahu kak” bantah Dimas.

“Lalu siapa yang punya kertas ini. Jelas-jelas kertasnya ditemukan di dalam almarimu. Tugas kami sederhana Dimas, akan menghukum siapa yang layak dihukum.”

“Tapi itu bukan milik saya.”

“Mana ada maling yang mengaku. Bisa-bisa semua pulau dipenuhi dengan penjara karena banyaknya orang yang mengaku pada kesalahannya. Mulai dari anak kecil yang membohongi orang tuanya aga mendapatkan jajanan lebih, pedagang yang mengurangi timbangannya, pelajar yang selalu mencontek untuk memperoleh nilai bagus, guru yang manipulasi absen agar mendapat tunjangan lebih sampai anggota pemerintahan yang korupsi untuk memenuhi kemewahan hidup. Bagiku kesalahan adalah kesalahan dan pelakunya wajib mendapatkan hukuman.”

Datang dua orang anggota keamanan yang ingin membawa Dimas tepat saat ceramah Kak Irfan berhenti. Dimas tidak mengerti apa yang dikatakan Kak Irfan namun dia ingin membantahnya bahwa dia tidak tahu perihal surat itu dan dia tidak tahu menahu kenapa surat cinta yang ditulis entah siapa berada dalam almarinya.

“Tapi kak, saya benar-benar tidak melakukannya” terdengar sayup-sayup suara Dimas dari ruangan keamanan karena dibawa oleh dua orang keamanan yang lain.

***

Dimas berbaring pada pohon sawo yang selalu menenangkannya saat ada masalah. Pada saat ini, dia benar-benar ingin meninggalkan pesantren dan tak akan ada lagi yang menghalanginya, dia sudah geram dengan perlakuan teman-temannya. Kalau di hukum membaca al-qur’an dia masih bisa memaafkan tapi kali ini hukumannya bertubi-tubi sehingga hatinya tak kuat untuk diperlakukan seperti itu.

“Barang sudah selesai aku kemasi, tinggal menunggu jam pondok sepi, aku akan kabur meninggalkan pondok ini. Terima kasih pohon sawo yang selalu mendinginkan hatiku selama ini” Ucap Dimas sambil mengelus-elus kepalanya yang sudah jarang rambut karena dibotaki setelah dibawa dua keamanan tadi. Karena kelelahan sejak pagi belum istirahat dicampur rasa geram tak sadar kalau Dimas tertidur.

Baca juga : PBNU di hadiahi kiswah ka’bah. Pertanda apa?

Dalam tidurnya, Dimas didatangi oleh seorang berjenggot putih dan pakaian serba putih dari kepala sampai mata kaki. Orang itu mengelus-elus kepala Dimas dan menceritakan kisah Rasulullah yang senantiasa bertahan meskipun sampai dilempari batu, dihina, dicaci orang di sekelilingnya. Menjelaskan bahwa menuntut ilmu pasti mempunyai halangan dan cobaan. Untuk menjadi emas murni yang sangat mahal harganya, dibentuk kalung, gelang, cincin dan berbagai perhiasan lainnya diperlukan sebuah proses yang tidak mudah. Dimas mengerti dan berterimakasih akan petuah kakek itu.

“Astaghfirullah, siapa kakek tadi ya. Petuahnya sangat menyejukkan, apakah beliau Kyai Anwar. Kyai yang hanya akan muncul pada orang yang memunyai tekad kuat dalam menuntut ilmu ?” tanya Dimas dalam kebingungan.

Angin semilir, menggerakkan dedaunan di pohon sawo. Membawa alunan musik kedamaian. Dari balik pohon sawo itu terlihat bayangan putih sedang naik menuju langit.

Penulis :Moh. Faiz Arifin

Leave a Reply

%d bloggers like this: