Maulid Nabi Muhammad SAW Sebagai Refleksi Mempererat Ukhuwah Wathoniyah

Maulid Nabi - Media Santri NU

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, biasanya diadakan di bulan Rabiul Awwal atau yang sering disebut bulan Maulid. Bulan Rabiul Awwal merupakan bulan kelahiran sosok pemimpin, panutan kita yaitu Kanjeng Nabi Muhammad. Di bulan inilah beliau dilahirkan sebagai Nabi akhir zaman. Semoga kita semua sebagai umatnya bisa meneladani beliau dari akhlak terhadap sesama hambanya dan tentunya kita semua sebagai umatnya senantiasa mengharapkan syafaatnya.

            Di Nusantara sendiri memiliki keunikan yang khas di beberapa daerah dalam merayakan maulid nabi dengan dibalut tradisi dan budaya. Di sinilah keunikan umat muslim Indonesia ketika ada sebuah kegiatan keagamaan kemudian disatukan dengan tradisi lokal selagi tidak bertentangan dengan syariat, itu harus terus dilestarikan. Berkat para Wali Songo yang menyebarkan Agama Islam tanpa adanya kekerasan sedikit pun, para wali dulu memiliki strategi yang luar biasa dalam metode berdakwahnya. Beliau-beliau kemudian menyebar agama Islam dengan strategi berdakwahnya masing-masing. Contoh  Sunan Kalijaga dengan cara menyatukan nilai-nilai Islam dengan budaya leluhurnya yaitu dengan pewayangan, kemudian Sunan Kudus dengan bijaksananya ia tidak membolehkan menyembelih sapi karena takut menyakiti umat Hindu, jadi diganti dengan kerbau dan sampai sekarang masyarakat kudus tidak ada yang berani menyembelih sapi. Cobaan dalam menyebarkan agama Islam di zaman Wali Songo tidaklah mudah justru banyak tantangan yang dihadapinya karena pada zaman Wali Songo masih banyak kerajaan yang belum dimasuki oleh agama Islam.

            Seiring berjalannya waktu,  nur Islam semakin menyebar di seluruh pelosok nusantara ini berkat perjuangan dakwah para Wali Songo dan kemudian diwariskan kepada  para muridnya dan para kiai. Sama halnya pada zaman Wali Songo para kiai juga memiliki banyak tantangan dalam berdakwah, seperti para Wali Songo yang bijaksana dalam berdakwah. Para kiai pun sama membawakannya dengan didasari ahklak untuk mengenalkan Islam. Bahwa Islam adalah agama yang mendahulukan kasih sayang melindungi sesama hambaNya.

            Pada masa penjajahan para ulama, habaib dan kiai memiliki kontribusi besar dalam perjuangannya tidak hanya berdakwah tapi merebut nusantara ini dari tangan para kolonial Belanda dan Jepang. Dengan semangat jihad melawan penjajah, umat Islam nusantara ini bersatu memerangi para penjajah dengan senjata apa adanya. Secara dhohir senjata para kolonial Belanda lebih mematikan dengan senjata api yang sudah canggih, tapi berkat bantuan Allah SWT dan persatuan umat Islam yang ikut serta melawan penjajah kini terusir menyatakan menyerah dan angkat kaki dari nusantara. Setalah bebas dari serangan penjajahan kemudian lahirlah nama Indonesia dengan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang digagas oleh para pahlawan dan ulama, karena Indonesia ini ada banyak bahasa, suku, ras dan budaya yang wajib dipertahankan. Melalui kesepakatan dari berbagai latar belakang tokoh, baik tokoh agama, menyepakati bahwa mmat beragama yang hidup di Indonesia dan mengikuti aturan wajib mendapatkan perlindungan dan saling menghormati antar sesama warga negara baik beda suku, ras, dan toleransi beragama.

            Dari keberagaman inilah saya jadi ingat buku sejarah tentang kota Madinah. Karena penduduk Madinah ini mempunyai akhlak yang lemah lembut, beragama yang terus dilestarikan dimana pada masa Islam masuk ke Madinah, keteladanan, kearifan dan ketegasan yang dipimpin Kanjeng Nabi Muhammad SAW membuahkan hasil yaitu mewujudkan Madinah yang Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yaitu kota yang begitu makmur serta direstui Tuhan. Masyarakat Madinah merupakan tipe agraris, melalui keseharian mereka yaitu bertani memungkinkan terjalin hubungan yang solid, harmonis. Penduduk Madinah sangat menghargai kebhinekaan dan menggunakan akal budi yang luhur.

            Nabi Muhammad adalah sosok pemimpin yang menyapa umatnya dengan hati, maka dari itu tidak sedikit penduduk Madinah yang berbondong-bondong ingin memeluk Islam, karena dari keteladanan yang telah ditunjukkan oleh beliau Nabi Muhammad SAW. Cita-cita Nabi dalam membangun masyarakat yang mampu memadukan antara spiritual dan moralitas publik akhir yang diharapkan terwujud di Madinah.

            Dari sini kita bisa melihat kesamaan antara Madinah dan Indonesia, di mana umat Islam Indonesia mempunyai watak yang santun dan tertanam keberagaman dan kokoh dalam berbangsa. Lima nilai dalam Pancasila bukan sebuah teks biasa, nilai di dalamnya itu mengandung makna yang luar biasa bila diaplikasikan dikehidupan sehari-hari. Maka kenapa sila pertama berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa, sebab fondasi utama seorang insan adalah menaati perintah Tuhannya maka ia akan bertambah spiritualitas dan moralitas. Hakikat sila pertama inilah seseorang akan terlihat ketika ia mentaati perintah Tuhannya otomatis akan patuh jua terhadap aturan yang ada dinegara dan hubungan antar sesama.

            Nilai yang ada di Piagam Madinah itu mempunyai kesamaan dengan Pancasila. Nilai-nilainya pada Pancasila dan Piagam Madinah adalah fondasi utama berupa kesepakatan dari antar golongan untuk membangun suatu negara yang bermoral, menghargai perbedaan, saling mendukung, kasih sayang dan tentunya membangun perdaban yang akan datang.

            Maka mari eratkan lagi Ukhuwah Islamiyah, jangan beri ruang pada oknum yang berusaha memecah belah NKRI, karena akhir-akhir ini bangsa Indonesia sedang maraknya paham-paham radikalisme yang mengatasnamakan agama dan yang tak sepaham dengan kelompoknya dicap kafir, bid’ah. Model ajaran seperti inilah yang sebenarnya akan muncul benih-benih radikalisme yang akan merongrong keutuhan bangsa yang mengatasnamakan agama.

            Saya jadi teringat dawuh KH. Abdullah Sa’ad (Solo) dalam ceramah saat di kraton Yogyakarta, beliau menyampaikan dalam analisisnya buku The Future Of Power, karya Joseph S, Nye. Kyai Abdullah Sa’ad mendapatkan teori ini dari bapak pangdam di Ponegoro, Beliau mengatakan bahwa urusan teror yang dijalankan oleh para teroris bahkan menyebar paham terorisme itu seumpama hanya ditangani oleh pasukan bersenjata, maka kemungkinan keberhasilannya hanya 1% dan 99% nya dikembalikan kepada bela bangsa dari seluruh bangsa Indonesia. Maka semangat inilah yang ingin dikobarkan oleh Maulana Al Habib Luthfi bin Yahya, melalui peringatan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan hari Pahlawan dan hari Kemerdekaan, karena saat ini musuh-musuh Islam khususnya memiliki berbagai macam. Ujar Kyai Abdullah Sa’ad. (Oleh: Muhammad Hidayat/Editor.RH Ula)

Leave a Reply

%d bloggers like this: