Charge Keimanan di Bulan Ramadhan, Bagaimana Caranya?

Siapa yang tidak mengenal bulan Ramadhan? Bulan yang memiliki segudang julukan keindahan. Keberadaannya tidak ada yang mengasingkan pikiran. “Bulan Ramadhan”, “Bulan Berkah”. Segala ibadah berganjar tumpah ruah, yang dapat datang dari segala arah.

Tulisan kali ini mungkin tidak asing lagi bagi pembaca. Karena sudah jelas dengan ketenarannya (Ramadhan), semua mengetahui keutamaannya. Namun, apa salahnya jika kita kembali mengingat-ingat apa saja kemuliaan dan amaliyah-amaliyah mustahab (baca: sunnah) pada bulan puasa dan kemudian menerapkannya.

Berangkat dari kemuliaan Bulan Ramadhan, tidak terlepas dari hadis Nabi Muhammad, yakni:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ لِرَمَضَانَ مَنْ قَامَهُ إيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخاري)

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami, Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Salamah bahwa Abu Hurairah radiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah SAW bersabda tentang bulan Ramadhan: “Barangsiapa yang menegakkan bulan ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya” (HR. Bukhori Nomor 1869)

Berdasar pada hadis di atas, mengenai utamanya bulan Ramadhan sehingga siapa pun muslim yang menegakkannya akan diberi kesempatan yaitu dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu oleh Allah. Siapa yang tidak tergiur dengan besarnya balasan ini? Terlebih kita mengetahui sendiri bahwa manusia adalah tempat berbuat salah dan dosa.

Selain itu, karena begitu istimewanya bulan Ramadhan, nama bulan ini disebut langsung oleh al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيءهِ القُرْءانُ هُدًا لِلنَّاسِ وَ بَيِّنتٍ مِنَ الهُدَى وَ الفُرْقَان . فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرُ فَلْيَصُمْهُ.

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu (Ramadhan) maka berpuasalah…”

Bangun himmah dengan amalan-amalan

Beranjak dari kedua dalil di atas, membangunkan himmah umat muslim untuk berlomba-lomba dalam memaksimalkan diri untuk melaksanakan amalan-amalan sunah di bulan Ramadhan. Lalu apa saja amalan-amalan yang dianjurkan tersebut?

Pertama, amalan yang berangkat dari hari, yakni niat menyambut bulan Ramadhan dengan ikhlas dan perasaan bahagia. Terdapat hadis mengenai hal ini, tertulis dalam kitab Durrotun Nasihin disebutkan,

مَنْ فَرَحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ الله جَسَدَهُ عَلَى النِّيرَانِ

“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka”

Betapa mulianya bulan Ramadhan hingga niat baik dalam hati pun diganjar besar oleh Allah  berupa keselamatan dari api neraka.

Kedua, bersahur. Siapa sangka bahwa anjuran sahur ini mengandung pahala besar, berdasarkan sabda Nabi muhammad SAW,

تَسَحَّرُوا فَإنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada keberkahan” (HR. Bukhori)

Arti sahur sendiri adalah menyantap sesuatu untuk mengawali puasa, entah itu hanya dengan seteguk air putih. Adapun waktu bersahur adalah setelah sholat malam, dan utamanya dalam bersahur ialah mengakhirkannya hingga tidak masuk dalam waktu yang tidak diragukan (apakah masih malam atau sudah terbit fajar), maka dengan itu di Indonesia dikenal waktu imsak, yang tidak lain adalah untuk ancang-ancang masuk waktu terbit fajar.

Ketiga, segera berbuka setelah mendengar adzan maghrib, sebelum mendirikan shalat. Utamanya untuk membuka makan berbuka dengan memakan kurma, jika tidak ada, hendaknya dengan air. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW,

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَاليُفْطِرْ عَلَى التَّمْرِ فَإِنْ لَمْ يَجِد التَّمْرِ فَعَلَى الْمَاءِ فَإِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ

“Jika salah seorang dari kamu berpuasa, hendaknya ia berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, maka dengan air, sebab air itu mensucikan.”(HR. Abu Dawud)

Keempat, membaca doa sebelum berbuka. Berikut merupakan doa berbuka yang masyhur :

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتَ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

“Ya Allah, hanya untukMu aku berpuasa, kepadaMu aku beriman, atas rezekiMu aku berbuka, berkat rahmatMu, wahai Dzat yang Maha Penyayang diantara para penyayang ”

Atau dengan doa dengan versi yang lebih panjang, sebagai berikut:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتَ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَ عَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَ ثَبَتَ الأَجْرُ إنْ شَاءَ الله يا وَاسِعَ الْفَضْلِ اِغْفِرْلِي الحَمْدُ لِله الَّذِي هَذَانِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

“Ya Allah, hanya untukMu aku berpuasa, kepadaMu aku beriman, atas rezekiMu aku berbuka, hanya kepadaMu aku bertawakkal. Sungguh, rasa haus telah hilang, urat-urat telah basah, dan balasan sudah tetap, insya Allah. Wahai Dzat yang Maha Luas karuniaNya, ampunilah aku. Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang telah memberiku petunjuk hingga aku kuat berpuasa. Lalu Dia memberiku rezeki hingga aku dapat berbuka.”

Kelima, menahan lisan dari ucapan-ucapan yang tidak berguna, apalagi tindakan haram, seperti mencela, mengumpat, berbohong, dan lain sebagainya, karena kesemua itu dapat menggugurkan pahala berpuasa.

Keenam, memperbanyak berbuat baik, seperti sedekah, meskipun hanya dengan memberi beberapa butir kurma. Sabda Nabi Muhammad SAW,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ إلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ditulis baginya pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa.”

Perbuatan baik yang lain adalah dengan memperbanyak membaca al-Quran dan mengkhatamkannya, berdzikir, dan lain-lain.

Ketujuh, beri’tikaf di masjid. Utamanya adalah sepenuh bulan Ramadhan, namun jika tidak mampu, maka utamakan di sepuluh malam terakhir. Berlandas pada kebiasaan Rasulullah, bahwa beliau selalu menghidupkan malam Ramadhan dan mengajak para keluarganya.

Kedelapan, istimror atau istiqomah dalam melaksanakan amalan-amalan Ramadhan, serta melanjutkannya pada bulan Ramdhan selanjtnya.

Itulah beberapa amalan mustahab di Bulan Ramadhan. Mari gunakan kesempatan Ramadhan untuk me-charge iman, agar dapat meningkat posisi ketakwaan. Sekian.

 

Penulis : Novia A’yun

Editor   : RH Ula

Leave a Reply

%d bloggers like this: