ISAIs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Menggelar Diskusi Daring Berjudul “Wajah Minoritas Muslim di Asia Tenggara”

Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan sebuah diskusi daring via whatsapp group berjudul “Wajah Minoritas Muslim di Asia Tenggara”, pada rabu 13 Mei 2020 pukul 16.00 Wib. Diskusi kali ini didukung oleh Media SantriNu sebagai media partner, dan diikuti oleh kurang lebih 50 peserta.

Narasumber yang mengisi diskusi ini adalah Wakil Direktur Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Co-Founder Srikandi Lintas Iman – SRILI (Komunitas Perempuan lintas iman). Wiwin Siti Aminah Rohmawati. Dalam pendahuluannya, peneliti di INTERFIDEI (Institute for Interfaith Dialog in Indonesia ini membatasi materi komunidiskusi pada dua negara, yaitu Thailand dan Filipina, “Karena dua negara ini memiliki sejarah dan problem yang agak mirip. Selain itu, meski minoritas,  tetapi Muslim di kedua negara menduduki posisi kedua setelah Buddha (Thailand) dan Katolik (Filipina). Sehingga sesungguhnya kehadiran muslim di sana sangat menentukan konstelasi sosial politik kedua negara. Muslim di sana tidak bisa diabaikan kehadiran dan kepentingannya mesti diperhatikan,” terangnya.

Problematika Muslim Minoritas

Problematika yang dihadapi muslim minoritas di Thailand dan Filipina tak lain adalah problem identitas.  “Problem intinya: problem identitas yang sangat fundamental,  yang diiriingi dengan  problem ketidakadilan dalam berbagai bidang,” tutur Wakil Direktur Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini.

Menjelang akhir diskusi, ada pertanyaan menarik dari salah seorang peserta dari Magelang, “Apakah bisa juga dikatakan banyak kelompok muslim terpecah belah karena adanya keinginan untuk memiliki kedaulatan sendiri berdasarkan kepentingan masing-masing kelompok? Kalau begitu, sama saja mereka mengidealkan sesuatu yang bersifat ilusi dan justru menjauh dari identitas budaya mereka sebagai warga negaranya masing-masing?”

“Iya.  Itu tidak hanya terjadi dalam kelompok Muslim. Islamic State,  di negara-negara majemuk seperti di Indonesia memang ilusi dan utopis. Karena Indonesia lahir dari ibu kandung kebhinekaan.  Dengan demikian,  mau menjadikan Indonesia satu identitas agama sama dengan mengingkari ibu kandung. Belajar dari Orde Baru yg menggunakan politik Tabu SARA dan penyeragaman,  ujung-ujungnya hancur dengan kekuatan masyarakat majemuk.  Karena politik Order Baru mengingkari ibu kandung Indonesia. Kira-kira begitu,” ungkap perempuan yang akrab disapa Teh Wiwin ini.

Sebagai jawaban dari pertanyaan penutup yang berisi bahwa adakah minoritas muslim yang mereka juga mualaf  di kedua negara tersebut. “Mualaf pasti ada. Salah satunya dari perkawinan antara agama. Di Thailand dan Filipina,  perkawinan antar agama dibolehkan dan diakui negara. Yang menikah antara Muslim dengan Buddha misalnya,  maka akan convert ke Islam. Beda agama,  dalam konteks akademik dibahasakan antar agama. Kalau satu agama, intra agama. Inter-religious dan intra-religious,” pungkasnya.

Oleh : Rifa’atul Mahmudah

Leave a Reply

%d bloggers like this: