RESENSI BUKU MENJERAT GUS DUR

Judul Buku : Menjerat Gus Dur
Penulis : Virdika Rizky Utama
Penerbit : NUmedia Digital Indonesia
Tahun terbit : Desember 2019
Tebal : xxi+376 hlm.
Ukuran kertas : 17,6 × 25 cm.

Gus Dur boleh pergi, Gus Dur boleh meninggalkan kita semua. Tapi, cita-cita Gus Dur harus tetap kita pegang dalam perjuangan kita (KH. Anwar Iskandar)

            Berbicara mengenai Gus Dur tidak pernah ada habis habisnya. Mulai kehebatan intelektualitasnya, ajaran humanismenya, dan menjadi tokoh fenomenal pada zamannya. Disamping itu, ketika membicarakan Gus Dur tentu tidak terlepas dari perjalanan bangsa ini menuju babak baru reformasi yang kini tampak tak jelas arahnya. Memang Gus Dur meninggalkan banyak hikmah yang sangat berharga bagi bangsa ini khususnya teladan-teladan yang sepatutnya generasi muda Nahdlatul Ulama’ untuk meneruskannya. Terlepas dari itu, ada hal yang sangat menarik untuk dipahami bahwa ada sejarah yang harus kita ketahui tentang pelengseran Gus Dur sebagai presiden.

            Sejarah pemakzulan Gus Dur ini semuanya digambarkan secara jelas melalui kehadiran buku “Menjerat Gus Dur” yang ditulis oleh Virdika Rizky Utama. Dalam buku ini menjelaskan mengenai catatan sejarah dari pelengseran Gus Dur dari kursi presiden. Adapun bagaimana kondisi negara dan pemerintahan pra-Gus Dur. Hal tersebut sangatlah penting agar kita mengetahui sejarah secara utuh bahwa dalam pemakzulan Gus Dur ini sangatlah politis. Karena sampai saat ini tuduhan-tuduhan tersebut tidak terbukti. Maka, tak heran kalau Gus Dur pada saat itu mengatakan “biarkan sejarah yang membuktikan”.

`           Kehadiran buku ini membuat gempar dan menarik perhatian semua kalangan untuk membacanya. Bagaimana tidak? Pernyataan Gus Dur setelah pelengseran tersebut saat ini terbukti. Setelah adanya historical record yang terbukti jelas dengan adanya dokumen penting dibalik pelengseran Gus Dur. Menariknya buku “Menjerat Gus Dur” ini sangat mudah dipahami dan dikemas dengan bahasa yang digunakan seperti layaknya seorang jurnalis. Penulis secara berani tanpa menutupi nama-nama aktor di balik itu, menyampaikan nama-nama yang mungkin familiar di ruang publik seperti Akbar Tandjung dan Amien Rais.

            Di bagian awal penulis membawa pembaca dengan menggambarkan kondisi masyarakat pada masa kepemimpinan Soeharto. Dimana paradigma presiden sebelumnya Soekarno menjadikan politik sebagai panglima sebaliknya Soeharto menjadikan ekonomi sebagai panglima dalam memimpin Indonesia. Kemudian dengan terbentuknya organisasi ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) sebagai representasi politik Islam. Selanjutnya disusul dengan pemerintahan B.J Habibie dengan susunan kabinet dan polemik serta usaha-usahanya. Hingga sampai pada terpilihnya Gus Dur sebagai presiden atas Megawati.

            Awal kegaduhan dari dilengserkannya Gus Dur ini dimulai dari pemecatan Jusuf Kalla dari Menteri Perdagangan dan Perindustrian yang berasal dari Partai Golkar dan Laksamana Sukardi dari Menteri BUMN yang berasal dari Partai PDIP. Akibat pemecatan ini dan adanya pembahasan 40 nama-nama musuh Gus Dur dengan tugasnya masing-masing membuat buku Virdi ini semakin menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Mereka diantaranya adalah Fuad Bawazier (mantan Menteri Keuangan), Arifin Panigoro (Ketua Fraksi PDI-P di DPR), M. Jusuf Kalla (Bukaka), Amien Rais (Partai Amanat Nasional), Akbar Tandjung (Golkar), Eggi Sudjana (Ketua Umum PPMI), Dawam Rahardjo (Rektor Unisma, Bekasi), Wiranto (mantan Menko Polkam), Feisal Tanjung (mantan Panglima ABRI), dll.

Baca Juga: Gus dur dan Kyai Dahnan Trenggalek

            Kemudian adanya tuduhan korupsi Buloggate dan Bruneigate menjadi pembahasan yang menarik dan menjelaskan bukti sejarah yang semestinya. Kedua isu ini, sebagaimana kita ketahui, menjadi senjata untuk menurunkan reputasi Gus Dur. Melalui tuduhan korupsi tersebut, musuh politik Gus Dur tersebut menjadikannya sebagai alat untuk menghabisi moral Gus Dur. Bagaimana tidak? Seorang tokoh Gus Dur bertekad membasmi praktik KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) malah sebaliknya melakukan korupsi. Itu tuduhan dari musuh politik Gus Dur yang bertujuan untuk melengserkan Gus Dur.

            Hanya saja ada beberapa hal yang belum dituliskan oleh penulis di dalam buku ini yaitu dimana pentolan Poros Tengah seperti Amien Rais dan Fuad Bawazier datang berembuk dan memohon restu para kiai untuk mencalonkan Gus Dur sebagai calon presiden. Disini dikarenakan Gus Dur menyetujui permintaan mereka dari Poros Tengah jika beliau mendapatkan restu dari para kiai seperti KH. Abdullah Abbas dari Buntet dan KH. Abdullah Faqih dari Langitan. Melalui pertemuan antara pihak Poros Tengah dengan para kiai yang belum tercantum di buku ini sebagai penguat data bahwa sebelum dicalonkannya Gus Dur sebagai calon presiden ada pertemuan antara kedua belah pihak. Hal ini sangatlah penting karena tak lain menuliskan sejarah secara utuh. Pernyataan ini saya kutip dari pernyataan KH Anwar Iskandar.

            Akhirnya pada bagian dari buku ini disebutkan oleh penulis buku bahwa “setelah Gus Dur lengser, pilik kekuasaan hanya sekedar bagi-bagi jabatan. Politik sudah tidak menyentuh substansinya sebagai alat untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat dengan cara-cara demokratis. Tidak ada lagi keberanian untuk mendobrak kelaziman yang sebenarnya keliru dalam praktik demokrasi. Dan Gus Dur merupakan aktor sekaligus korban dari praktik politik yang demikian keliru tersebut”

Oleh : Mochammad Elfithruzzuhru Mawaahib

Leave a Reply

%d bloggers like this: