Sa’ad bin Abi Waqqos : Singa yang Menyembunyikan Kukunya

Amirul Mukminin Umar bin Khattab merasa gelisah ketika memperoleh kabar mengenai kecurangan yang dilancarkan oleh angkatan bersenjata Persia terhadap kaum Muslimin. Akhirnya, sang khalifah mengambil keputusan guna memimpin tentara Islam secara langsung dalam peperangan bersenjata melawan tentara Persia.

Ketika di tengah-tengah perjalanan, terdapat rombongan yang mengusulkan agar sang khalifah meralat keputusannya dengan  memilih seseorang di antara para sahabat untuk mengemban tugas tersebut, hal ini bermaksud untuk menjaga khalifah. Akhirnya, Amirul Mukminin dan rombongan pun menuju tempat persinggahan untuk bermusyawarah guna menentukan siapakah yang akan dikirim ke Iraq. Kemudian Sahabat Abdurrahman bin Auf berteriak, “Saya Telah menemukannya!”

“Siapa dia?” Tanya Sayyidina Umar.

“Singa yang menyembunyikan kukunya, yaitu Sa’ad bin Malik Az-Zuhri,” jawab Abdurrahman bin Auf.

Dalam buku Khalid Muhammad Khalid, maksud dari Singa yang menyembunyikan kukunya adalah orang yang tidak mau menyombongkan kelebihannya, kepandaiannya, dan lain sebagainya. Pendapat dari Abdurrahman bin Auf disetujui oleh Amirul Mukminin dan kaum muslimin. Sa’ad bin Abi Waqqas diutus untuk menghampiri Amirul Mukminin dan diangkat menjadi Amir atau gubernur militer di Iraq yang bertugas mengatur pemerintahan serta sebagai panglima tentara.

Malik bin Uhaib Abu Ishaq Al-Qursyi Az-Zuhri Al Makki Al Maddani adalah nama asli dari Sa’ad bin Abi Waqqas. Nasab beliau menyambung hingga Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalibbin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Amir bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan. Itulah nasab Sa’ad bin Abi Waqqas dari keturunan Sa’ad yang berasal dari kabilah Bani Zuhrah yang merupakan salah satu suku Quraisy.

Sa’ad bin Abi Waqqas adalah paman Rasulullah dari pihak ibu. Ibu Sa’ad bin Abi Waqqas bernama Hamnah binti Sufyan bin Umaiyyah bin Abdu Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Amir bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan. Uhaib bin Manaf adalah paman Sayyidah Aminah ibunda Rasulullah, sedangkan Manaf adalah Buyut dari Sa’ad bin Abi Waqqas.

Sa’ad bin Abi Waqqas lahir di Mekkah. Meskipun lahir di Mekkah, beliau sangat membenci cara hidup yang dianut oleh masyarakat Mekkah yakni menyembah berhala. Sa’ad bin Abi Waqqas dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi, namun bertubuh tegap dengan potongan rabut pendek. Beliau berasal dari keluarga bangsawan dan kaya raya. Disamping itu, beliau sangat disayangi kedua orang tuanya.

Sa’ad bin Abi Waqqas masuk Islam saat berusia 17 tahun dan termasuk golongan Assabiqunal Awwalun. Beliau pernah berkata, “Aku pernah hidup suatu hari yang waktu itu aku adalah sepertiga Islam.” Maksudnya,  ia adalah seorang di antara tiga orang yang paling dahulu masuk Islam. Terdapat juga Riwayat yang menceritakan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas termasuk salah seorang yang masuk Islam karena keislaman Abu Bakar dan atas upaya dakwah darinya.

Hal ini berawal pada saat Sa’ad bin Abi Waqqas didatangi oleh Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah, beliau mengajak Sa’ad menemui Nabi Muhammad di sebuah perbukitan dekat Mekkah, kemudian dalam buku yang ditulis oleh Subagyo Aswara dijelaskan bahwa Sa’ad menceritakan sendiri awal keislamannya sebagai berikut,

“Tiga hari sebelum masuk Islam, saya bermimpi seolah-olah saya tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Ketika saya berada di tengah kedalaman air, tiba-tiba saya melihat cahaya bulan. Lalu saya menikuti cahaya itu, kemudian saya melihat beberapa orang sudah mendahului saya ke arah tersebut. Saya melihat Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Shiddiq. Lalu saya bertanya kepada mereka, sejak kapan mereka disitu? Mereka menjawab, belum lama.”

Kemudian munculah kabar bahwa Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar telah masuk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Mendengar hal ini, Sa’ad pun gembira, beliau gembira karena semakin jelaslah hubungan antara mimpi anehnya itu dengan agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Keislaman Sa’ad bin Abi Waqqas mendapat tentangan dari Ibu beliau yakni Hamnah binti Sufyan yang merupakan seorang yang sangat taat kepada agama lamanya. Ibunya sampai menolak untuk  makan dan minum hingga beberapa hari, sampai-sampai mengancam akan bunuh diri jika Sa’ad bin Abi Waqqas tidak mau kembali ke agama lamanya. Kemudia Sa’ad bin Abi Waqqas berkata bahwa meski ia memiliki kecintaan luar biasa pada sang Ibu, tetapi kecintaannya pada Allah dan Rasulullah jauh lebih besar.

Hal ini juga terekam dalam kitab Fathul Bari sebagaimana yang diceritakan Sa’ad, “Ibu Sa’ad bersumpah tidak akan mengajakanya berbicara untuk selamanya sehingga ia (Sa’ad) keluar dari agamanya, bahkan ibunya berusaha untuk mogok makan dan minum. Ibunya berkata, “Engkau mengaku bahwa Allah Swt. memerintahkanmu untuk berbuat baik kepada orang tuamu dan saya adalah Ibumu, sekarang saya menyuruhmu untuk keluar dari agamamu. Sa’ad melanjutkan ceritanya, “Ia (Ibu Sa’ad) menjalani sumpahnya sampai tiga hari, sehingga ia pun jatuh pingsan karena kepayahan, lalu anaknya yang bernama ‘Ammarah’ menolongnya dengan memberinya minum. Setelah siuman, ia (Ibu Sa’ad) mendoakan kecelakaan bagi Sa’ad, lalu Allah menurunkan ayat QS. Luqman ayat 14-15 yang berbunyi,

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِير (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ

Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (14). Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.

 

Kejadian terebut menunjukkan keteguhan sikap kaum Muslimin generasi awal dalam menghadapi berbagai cobaan yang dialami. Hal ini juga menunjukkan berbagai macam cara yang dapat ditempuh ketika menghadapi permasalahan ganda yang saling berkontradiksi.

Seorang Ksatria Pemberani

Sa’ad bin Abi Waqqas termasuk ksatria berkuda Arab dan sosok muslim yang paling pemberani. Ia mempunyai dua macam senjata yang sangat ampuh yaitu panah dan doanya. Jika ia memanah musuh dalam peperangan, dapat dipastikan akan mengenai sasarannya, adapun jika Sa’ad menyampaikan sebuah permohonan kepada Allah , pastilah dikabulkan. Menurut Sa’ad sendiri dan juga para sahabatnya, kelebihan yang dia miliki dilatar belakangi oleh doa Rasulullah, dimana ketika Rasulullah menyaksiakan sesuatu yang berkenan di hati beliau dari Sa’ad, beliau pun mengucapkan doa yang makbul ini, “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doanya.

Bukti dari dikabulkannya doa Sa’ad bin Abi Waqqas adalah ketika ada seorang lelaki yang memaki Ali, Thalhah, dan Zubair. Meskipun telah dilarang, lelaki tersebut tetap tidak menghiraukannya. Akhirnya, Sa’ad bin Abi Waqqas pergi berwudhu dan sholat dua rokaat. Setelah itu beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa, “Ya Allah, bila menurut ilmumu orang ini telah memaki segolongan orang yang telah mendapatkan kebaikan darimu dan tindakan itu mengundang murkamu, jadikanlah hal itu sebagai pertanda dan suatu pelajaran.” Tidak lama kemudian, muncul seekor unta liar dan menerjang seorang laki-laki yang telah memaki Ali, Thalhah dan Zubair tadi. Seekor unta tersebut menginjak dan menyepak seorang laki-laki tersebut hingga tewas.

Sang Panglima Perang

Itulah salah satu bukti makbulnya doa yang diucapkan Sa’ad bin Abi Waqqas. Selain itu, beliau seorang panglima perang yang memiliki siasat perang yang sangat bagus dan ahli dalam memimpin rombongan. Terdapat sebuah kisah yang menceritakan tentang rombongan Sa’ad bin Abi Waqqas yang berhasil menyebrangi sungai Tigris. Pada saat menyebrangi sungai tersebut, Sa’ad bin Abi Waqqas memerintahkan pasukannya untuk membaca “Hasbunallahu wa ni’mal wakil” sehingga timbullah rasa nyaman dan tenang di antara rombongan ketika menyebrang sungai tersebut.

Pada tahun 54 H. yakni ketika usia Sa’ad telah lebih dari 80 tahun, beliau sedang berada di rumahnya di Aqiq guna menunggu masa-masa terakhirnya untuk kembali kepada Allah Swt. Saat-saat terakhir itu diceritkan oleh putranya sebagai berikut,

“Kepala ayahku berada di pangkuanku. Ketika ia hendak meninggal,  aku menangis dan ia (ayahku) berkata, “Mengapa kamu menangis wahai anakku,? Sungguh Allah tidak akan menyiksaku selamanya dan aku termasuk salah seorang penduduk surga.”

Sa’ad bin Abi Waqqas merupakan salah satu sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW. sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ahmad berikut ini,

أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ

Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Demikianlah beberapa kisah dari Sa’ad bin Abi Waqqas Pahlawan Qadisiyah, pembebas Madain dan pemadam api sesembahan di Persia. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut. Amiiin…

Referensi:

Khalid Muhammad Khalid, “ (رجال حول الرسول) Biografi 60 Sahabat Nabi SAW.” Terj. Agus Suwandi. (Jakarta: Ummul Qura) 2013

  1. Akram Dhiya’ Al -Umuri, “Shahih Sirah Nabawiyah” Terj. Farid Qurusy, Imam Mudzakir, Amanto Surya Langka. (Jakarta: Pustaka as-sunnah) 2010

Rimbun Natamarga, “Profil Ringkas Sepuluh Sahabat Nabi Muhammad yang dijamin Masuk Surga” Jurnal

Subagjo Aswara, “Sa’ad bin Abi Waqqas” (Bandung: PT Remaja Kosdakarya) 1986

 

Penulis : Mar’a Qonitatillah

Editor   : Fani Azfar

Leave a Reply

%d bloggers like this: