Anugerah Doktor Honoris Causa Ibu Nyai Sinta Nuriah dari UIN Suka Yogyakarta

Penganugerahan gelar doktor honoris causa dalam bidang sosiologi agama kepada Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M. Hum diberikan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada hari rabu, 18 Desember 2019 di Gedung Prof. Dr. H. Amin Abdullah (Multipurpose). Penghargaan tersebut diterima Ibu Nyai Sinta tidak lain karena kiprahnya dalam memperjuangkan pluralisme dan perempuan.

Selain didampingi oleh ke empat puteri, Alisa Qotrunnada Wahid, Zannuba Ariffah Chafsoh Wahid, Anita Hayatunnufus Wahid, dan Inayah Wulandari Wahid, turut pula hadir beberapa tokoh seperti Menkopolhukam, Prof. Mahfud MD, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Menteri Agama periode 2014-2019, KH. Husein Muhammad, serta Amina Wadud, feminis muslim asal Amerika.

Pidato ilmiah yang disampaikan oleh Ibu Nyai Sinta ini berjudul “Inklusi dalam Solidaritas Kemanusiaan: Pengalaman Spiritualitas Perempuan dalam Kebhinekaan”. Pergulatan dan pergaulan hidup yang dialami perempuan kelahiran Jombang 8 Maret 1948 dengan berbagai macam suku, agama dan budaya telah menorehkan berbagai macam warna dalam spektrum pola pikir dan aktifitas.

Program Pluralisme dan Kemanusiaan

“Peristiwa tragedi Mei 1998, yang begitu mengoyak nurani kemanusiaan, telah menyadarkan saya tentang betapa pentingnya kerukunan dan kasih sayang di antara sesama anak bangsa Indonesia. Apalagi setelah saya menjadi Ibu Negara mendampingi Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke 4,” tuturnya.
“Inilah yang mendorong saya untuk menciptakan program-program Pluralisme dan Kemanusiaan, sebagaimana yang saya lakukan sampai sekarang,” lanjutnya.
Program pluralisme dan kemanusiaan yang telah dilakukan Ibu Nyai Sinta yaitu melalui sahur keliling sebagai sarana menempa ketakwaan dan mempertajam pengertian Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Bahkan Perempuan yang telah mengkritisi Kitab Uqud Al Lujjayn ini tidak hanya mengajak umat muslim saja, umat antar agama juga turut berpartisipasi dalam kesuksesan sahur keliling yang telah dilakukan di berbagai tempat, di masjid-masjid, halaman klenteng, halaman gereja, kolong jembatan, di tengah pasar, dan lain sebagainya.

“Kami mencoba mengundang semua teman-teman lintas agama (yang dulu bersama-sama membantu korban tragedi 14 Mei 1998) untuk membicarakan program ini. Ternyata semuanya menyambut dengan antusias dan penuh semangat, terutama kelompok Matakin (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia) dan Keuskupan Jakarta. Akhirnya program sahur keliling dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya d seantero kota di Indonesia. Kegiatan ini membuat kami betul-betul bisa merasakan, betapa indahnya kerukunan dan betapa hangatnya kebersamaan,” ujar Ibu Sinta.
Ibu Sinta di tengah pidatonya menekankan bahwa pengadilan puncak perihal keimanan berada di tangan Tuhan, “Oleh karena itu, kesombongan teologis yang telah menjadi salah satu penyebab pertikaian antar agama dan budaya, serta menyulut tindakan brutal dengan melakukan pengerusakan maupun penutupan tempat ibadah keyakinan lain tidak seharusnya terjadi,” papar perempuan yang pernah memperoleh penghargaan Internasional sebagai 11 Perempuan Paling Berpengaruh versi Harian New York Times (2017) ini.
Prof. Dr. Ema Marhumah sebagai ketua tim promotor dalam pidato pengantarnya mendasarkan kepada beberapa hal atas penganugerahan yang diterima oleh Ibu Sinta Nuriyah.

“Promovenda Ibu Nyai Hajah Ibu Sinta Abdurrahman Wahid, merupakan seorang aktivis yang sudah lama memperjuangakan hak-hak perempuan, pemberdayaan thd pr, advokasi thd pr korban kekerasan seksual,” ungkapnya. Sedangkan dasar yang lain menurut Prof. Marhumah adalah Ibu Sinta merupakan perempuan pejuang perdamaian dan pluralisme. (Rifa’atul Mahmudah/Redaktur MSN di Jogja)

Leave a Reply

%d bloggers like this: