Langkah Bersuci Orang yang Diperban

Orang yang terbalut perban seringkali memiliki berbagai masalah, tidak hanya merasakan sakit, menggerakan anggota badannya pun juga kesusahan. Bahkan bisa jadi luka yang diperban tidak diperkenankan untuk terkena air karena dimungkinkan luka tersebut semakin memburuk.

Bagi orang yang diperban, lantas bagaimana dengan kewajiban melaksanakan ibadah? Apakah tetap harus dibasuh dengan air? Perlu diperhatikan bahwa agama Islam tidak sekaku itu. Islam adalah rahmatan li al-‘Alamiin  agama yang memberi kemudahan/keringanan (rukhshah) bagi umatnya. Melaksakan ibadah seperti sholat tetaplah sebuah kewajiban. Sebab adanya udzur atau halangan hal tersebut tidak lantas menjadi gugur seketika.

Jika masalahnya adalah anggota badan yang diperban, maka orang diperban masih memiliki ingatan yang baik, berarti akalnya masih sehat. Sedangkan berakal dan baligh adalah dua sifat dalam syariat yang perlu dimiliki untuk menjalankan ibadah-ibadah fardhu.

Dijelaskan dalam ilmu Fiqih pada Kitab Fathul Qaribil Mujib karangan Syekh Abu Syuja’ bahwa ada tiga langkah yang perlu diperhatikan saat bersuci (berwudhu) bagi shahibul jaba’ir/ orang yang diperban.

  1. Bagian anggota wudhu yang masih sehat dibasuh terlebih dahulu dengan air sebagaimana mestinya.
  2. Mengusap bagian anggota wudhu yang diperban. Tidak perlu diusap sampai basah.

         (Dilakukan ketika sampai pada anggota wudhu yang diperban).

  1. Menyempurnakan anggota wudhu diperban dengan tayamum. Tayamum yang dilakukan sama seperti tayamum biasanya dengan debu yang diusapkan ke wajah dan kedua tangan. (Sebelum tayamum, wajah dan tangan dikeringkan terlebih dahulu, misalnya dengan handuk). Setelah selesai tayamum, kemudian melanjutkan wudhu.

Pada keadaan seperti ini shahibul jaba’ir tidak perlu memperbarui tayamum untuk melaksanakan shalat fardhu yang lain selama ia belum batal tayamum atau wudhunya. Keringanan ini tanpa batasan waktu, sekiranya sudah diperkenankan terkena air lagi, maka cara bersuci kembali seperti biasanya.

Baca Juga: Panduan Wudhu Lengkap

Diperkuat oleh Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husnny yang menjelaskan dalam kitab Kifayatul Akhyar fi hilli Ghayati al-Ikhtishar bahwa orang dengan luka perban, bersuci dengan jalan mengusap air wudhu di atasnya, kemudian dilanjutkan dengan tayammum. Kemudia ia shalat, dan tidak perlu melakukan i’adah (mengulang) shalat jika menaruh perban tadi dalam kondisi suci. Suci yang dimaksud di sini adalah suci dari najis bukan hadast.

Bila seorang penderita bersuci dari hadast besar dan ia mampu menyempurnakan cara bersucinya, maka ia tidak perlu melakukan i’adah shalat ketika sudah sembuh. Jika tidak bisa bersuci dengan sempurna, maka ia wajib hukumnya melakukan i’adah shalat.

Oleh: Rifqi Hayyinul Ula

Leave a Reply

%d bloggers like this: