Menapaki Kiprah IPNU di Usia 66 tahun

Makesta, rutinan dibaan, tahlil, rapat kepanitiaan, sowan gus/yai, proposal kegiatan,  kata kata tersebut sudah tidak asing lagi ditelinga para kader yang telah berselancar di dalam satu ikatan yakni  Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU ). Sudah 66 tahun IPNU secara konsisten menemani hiruk pikuk kondisi bangsa Indonesia dalam mensyiarkan nafas Ahlusunnah Wal-Jam’ah dan mengawal Pancasila sebagai idelogi bangsa.

Secara historis, bermula dari adanya jam‘iyah yang bersifat lokal atau kedaerahan seperti TSAMROTUL MUSTAFIDIN pada tahun 1936 di Surabaya, di tahun 1939 lahir persatuan santri Nahdlotul Ulama atau PERSANU, Di Malang pada tahun 1941 lahir persatuan Murid NU,  tahun 1953 di Kediri berdiri persatuan Pelajar NU (perpanu)dan pada tahun yang sama di Bangil berdiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPENU). Walaupun dengan nama berbeda-beda, jamiyah tersebut satu nafas dalam mensyiarkan dakwah ahlusunnah wal-jama’ah di tengah kaum pemuda dan santri pada saat itu. Dirasa masih lemahnya gerakan santri dan pemuda NU pada saat itu akhirnya gagasan untuk menyatukan langkah dan nama perkumpulan / organisasi IPNU tersebut diusulkan dalam muktamar Ma‘arif pada tanggal 24 Februari 1954 M di Semarang. Usulan ini dipelopori oleh pelajar-pelajar dari Yogyakarta, solo dan semarang yang diwakili oleh Sofwan Cholil Mustahal, Abdul Ghoni, Farida Ahmad, Maskup dan M. Tolchah Mansyur. Yang pada akhirnya M. Tholhah Mansyur ditunjuk sebagai ketua pertama IPNU pada kongres pertama di Malang.

Para pendiri IPNU mungkin tidak menyangka organisasi  yang dilahirkan dari LP Ma’arif ini kemudian hari ini menapaki umur yang terbilang tua yakni 66 tahun. Mereka yang dulunya identik bersarung dan berpeci. Pakain ala kadarnya nyaris tak ada yang istimewa baginya. Bahkan tak jarang mereka dianggap buta tekhnologi. Pantaskah mereka menjadi generasi penerus masa depan bangsa? Namun semua itu telah terlewat dan hingga saat ini IPNU menjadi pohon besar yang dapat dipetik buahnya, dimanfaat kan kayu dan akarnya atau hanya sekedar berteduh dibawahnya.

Baca Juga: PKPT IPNU-IPPNU UIN Malang selenggarakan Tabligh Akbar

Di era sekarang ini, tantangan bangsa seilih berganti seiring dengan terbukanya informasi dan kebebasan dalam bernegara. Penelitian yang dilakukan Kemenristekdikti ditahun 2017 menyebutkan, 23 persen pelajar di indonesia siap tegakkan khilafah. Artinya, masih banyak pelajar yang masih belum sadar makna pentingnya pancasila sebagai falsafah negara. Disamping itu,Setara Institute mencatat  Pada 2017, terdapat 155 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan tercatat dengan 201 bentuk tindakan. Hal ini menunjukkan bahwa indexs intoleransi dalam beragama masih tinggi. Belum lagi dunia liar medsos yang kaya pengetahuan namun minim akhlak, seperti maraknya hoax dan hate speech yang seperti  menjadi ritual rutin bagi netizen. Inilah ironi generasi milenial.

Namun, Kader IPNU sebagai santri dan santri yang mencerminkan naa ibul ‘anil masyakhih sebagai penerus para ulama, sudah seharusnya menjadi motor penggerak dalam memviruskan akhlak mulia. Gus dhofir dalam artikelnya mengatakan, tidak ada bambu yang bisa melubangi dirinya sendiri untuk menjadi seruling, tidak ada bambu yang menyusun merekat diri mereka sendiri untuk menjadi rakit. Jika ingin maju, NU milenial harus membentuk A-Team (attitude team) yang mendukung dirinya untuk maju melawan mereka, yakni: lingkungan, teman, medsos, keluarga dan buku-buku yang membentuk kepribadian kita sebagai nahdliyyin.

Menapaki Kiprah IPNU di Usia 66 tahun 2 Media antri NU
Menapaki Kiprah IPNU di Usia 66 tahun

Baca Juga: Pelajar NU Lowokwaru, Malang Tanggapi Darurat Bullying

Semoga dengan 66 tahun IPNU mampu menjadi harmoni dalam menyelaraskan ilmu dunia dan akhirat seperti dua bulu merpati yang saling menyilangkan pada logo IPNU. Sehingga eksisitensi IPNU tidak hanya sebagai pelengkap badan otonom NU namun juga berkiprah nyata pada masyarkat seperti yang didawuhkan Pidato resmi KH.Tholchah Mansoer.” (Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU) pada Muktamar IV, 1961 di Yogyakarta “Tjita2 daripada Ikatan Peladjar Nahdlatul ’Ulama’ jalah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite di dalam masjarakat, Tidak. Kita menginginkan masjarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masjarakat. Oknum jang berbuat karena ilmunya. Dan berilmu tetapi jang mau berbuat dan beramal. Sungguh akan merupakan malapetaka jang amat besar baik negara dipimpin oleh orang-orang jang tidak berilmu. Kita tidak menjandarkan semata-mata kepada kariere, lebih2 kariere dengan kekosongan ilmu dan bekal dalam kepala”. Selamat Harlah Ikatanku!

Penulis : Tim Jurnalistik PAC IPNU IPPNU Lowokwaru

Leave a Reply

%d bloggers like this: