UNTUK MUASSIS KITA

(oleh : Muhammad Fathurrozaq )

 

Mbah, bayi itu kini tlah besar.

Bersama guyuran doa dan harapan.

Diatas tempaan yang kian menjulang.

Ia berdiri dengan lantang.

 

Luka diwajah tak membuat gentar.

Gores dihati tak membuat pudar.

Air sendu segera diusap.

Senyum pandu mengajak tegap.

 

Ia bagai luas samudera.

Sampah & berlian masuk didalamnya.

Ia tetap saling mencinta.

Sebagaimana engkau mencandranya.

 

Mbah, bumi pertiwi butuh selimut.

Dari pekatnya gumpulan kabut.

Ingin merogoh tanah surga..

Yang dititipkan kepada kita.

 

Mungkin kabut sedikit mengerti.

Esensi rasul, membangun madani.

Ka’ab bin zuhair dinaungi burdah.

Meski rasul punya pedang dan panah.

 

Mbah, aku yakin dengan tali jagat.

Melingkar penuh tanpa sekat.

Aku percaya Sembilan bintang.

Menyinari para pejuang.

 

Disini disana tak masalah.

Doa anda tetap tercurah.

Dengan tambahnya hitungan umur.

Kita tetap pengayom “akur”

 

Mbah, kuatkan kami menuntun negeri.

“ajek” bernaung pada ilahi.

Dengan ucap tanpa getar.

Yaa Jabbaru Yaa Qohhar..

 

Ar rahman, satukan kami dalam barisan.

Darah menetes tak jadi alasan.

Ar rahim, tetapkan kami dalam bimbingan.

Sebagai rahmat seluruh alam.

 

Al malik, kuatkan kami dalam bertahan.

Dari terjangan badai cobaan.

Al quddus, curahkan senyum bagi kami.

Untuk islam dan NKRI.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: