Agama Topeng

Agama merupakan sebuah norma yang hadir membawa pesan pesan kebajikan. Aturan aturan yang ada di dalamnya, mengajak masing masing orang untuk hidup beretika dan berestetika. Baik secara vertical (dengan Tuhan) ataupun horizontal (dengan sesama manusia).  Tidak ada satupun agama di muka bumi ini, khususnya agama samawi yang mendoktrin umatnya untuk melakukan kerusakan, kejahatan, atau kedzaliman. Semua agama mengecam tindakan tindakan tidak bermoral tersebut, terlebih tindakan ekstrimisme, radikalisme, atau separatisme yang sering merugikan banyak orang.

Sehingga sangat keliru, jika kemudian ada sekelompok orang yang melakukan tindakan tindakan kejahatan, menebar buih buih kebencian, atau meneror saudaranya, dengan mengatasnamakan agama. Kalaupun ada, itu hanya imbas dari segelintir tindakan orang yang sering menjustifikasi tindakannya tersebut dengan dalil agama. Akibatnya, agama yang berisikan pesan pesan ilahiyah rusak citranya.

Islam misalnya, adalah salah satu agama yang saat ini sering menjadi kambing hitam sebagai akibat dari tindakan tindakan tidak terpuji sebagian orang, baik yang mengaku-ngaku sebagai seorang muslim, dan mengambil keuntungan atas nama Islam, atau memang beragama Islam tapi berkiblat dan berakidah pada ajaran yang salah.

Ber-Islam sebagai bentuk kepasrahan, ketundukan, dan kepatuhan seorang hamba, pasrah atas apa yang telah Allah perintahkan lewat syariat yang dibawa kanjeng nabi, atau pasrah untuk meninggalkan segala bentuk larangannya, tidak tercerminkan dalam setiap gerak gerik mereka. Padahal di tengah langkanya rule model yang bisa memberikan tauladan kepada banyak orang, harusnya Islam melalui umatnya bisa memberikan kesejukan dan warna berbeda di tengah degradasi moral dan akhlak yang terjadi saat ini.

Bukan sebaliknya, Islam sebagai agama yang suci malah sering dijadikan payung berlindung berbagai kepentingan. Akibatnya, agama sebagai sebuah nilai, tereduksi keluhurannya oleh sikap sikap sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Lebih dari itu, Agama hari ini, menjadi komoditas bernilai jual tinggi di berbagai lini.

Sebagai contoh, ketika perhelatan politik beberapa waktu lalu. Agama sering dipolitisasi. Baik ketika mendukung calonnya, atau mencela lawannya. Ada yang mengatakan harus pilih si A, karena si A adalah sosok pilihan tuhan. Ada juga yang mengatakan jangan memilih si B, karena si B adalah orang munafiq, dan orang munafiq adalah orang yang tidak pantas jadi pemimpin. Bahkan ancaman ancaman atas nama agama tidak ketinggalan ditebar kepada setiap orang yang punya hak suara. Di antara sebagian yang paling menyedot perhatian publik, adalah ketika ada ancaman terhadap warga DKI, untuk tidak disholatkan jenazahnya ketika meninggal, jika mereka memilih ahok sebagai pemimpin gubernur DKI saat itu.

Tidak bisa dipungkiri, dengan pasar keawaman banyak orang, utamanya muslim perkotaan yang tidak begitu banyak dan mendalam belajar tentang Islam. Islam menjadi komoditas yang sangat menguntungkan, baik untuk kepentingan pribadi atau kelompok di semua sisi.

Bahkan dewasa ini, label label syariah menjadi salah satu brand populer yang sering digunakan berbagai korporasi agar mampu menarik minat publik yang notabene awam untuk hanya sekedar membeli produk mereka atau berinvestasi. Meskipun parahnya, tidak sedikit label label syariah ini disalahgunakan untuk menipu orang. Dengan embel embel syariah banyak awam di antara kita tergiur dan tertarik untuk meliriknya.

Oknum oknum yang berbuat semacam inilah, yang pantas disebut perusak citra Islam. Beragama Islam bukan pada substansi, tapi pada topeng saja. Mereka merupakan sosok yang menggerogoti Islam dari dalam, atau menjadi duri dalam daging. Mereka inilah yang lebih lanjut dalam agama disebut sebagai orang munafik.

Akibat orang orang yang beragama topeng inilah, marwah Islam sering direndahkan. Dua pilar Islam yakni al-Quran dan Hadits tidak terefleksikan lewat sikap sikap mereka. padahal dalam setiap orasi dan promosinya tidak jarang mereka mengutip ayat al-Quran dan mengaku paling sunnah.

Pada akhirnya, mari sejenak kita bermuhasabah, dengan harapan bisa benar benar masuk ke dalam Islam dan menyelami seluruh ajarannya secara menyeluruh (kaffah). Agar semua yang kita lakukan bisa meninggikan nama Islam, dan tidak terjebak pada satu dua kepentingan yang bisa berujung pelabelan diri sebagai orang munafik.

Wallahu ‘alam

Leave a Reply

%d bloggers like this: