Amalan & DoaArtikelBeritaDunia IslamEssayKalam HikmahPesantrenRedaksiSastra

Zakat, Menilik Manusia dari Sisi Esoteris dan Sosial

 

Manusia adalah dua. Dua dalam susunan, dan dua dalam cakupan dimensi. Pada susunannya, ucap saja manusia terdiri dari aspek jasmani dan aspek ruhiy. Sedangkan dalam dimensi kehidupannya, manusia merangkap sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk esoteris. Esoteris atau sisi khusus, disebut juga sisi bathiniyyah yang berbanding lurus dengan susunan ruh manusia.

Pada sisi pertama manusia ini memerlukan asupan nutrisi kerohanian dan kebatinan semisal sholat, puasa, mengaji, dan sebagainya. Sedangkan pola interaksi yang dibutuhkan pada aspek khusus ini adalah berakhlak karimah kepada Sang Pencipta, seperti berhusnudzon atas segala catatan taqdir oleh-Nya, menunaikan kewajiban dengan tepat waktu, memenuhi tuntunan perintah dan larangan-Nya, dan berbagai seribu satu ibadah kepada Maha Kuasa.

Adapun sisi selanjutnya, adalah sosial manusia. Sisi sosial manusia adalah bagaimana manusia bersosialisi, bermasyarakat, berguyup-rukun dengan sesama manusia. Semisal seperti pola tata krama dengan sesama, mengormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Namun, perlu digaris bawahi pula, bahwasanya sisi sosial manusia ini juga akan menghantarkannya kepada sisi esoteris yakni memenuhi perintah Tuhan, yakni perintah saling berkasih-sayang kepada sesama manusia sebagaimana ajakan Rasulullah SAW kepada ummatnya.

Jika membicarakan ibadah dan muamalah manusia, akan sangat sesuai dengan perkara dekat-dekat ini, yaitu zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim mampu yang masih menjumpai malam hari raya. zakat fitrah ditunaikan dengan ukuran 1 sho’ makanan pokok, atau jika di Indonesia adalah beras seberat 2,7 kg. Kemudian zakat fitrah ini akan didistribusikan kepada yang berhak (asnaf delapan). Tujuan utama zakat tidak lain adalah agar seluruh ummat muslim baik yang mampu/tidak mampu dapat berbahagia pada hari raya.

Kembali pada pembicaraan ibadah dan muamalah. Zakat fitrah tergolong pada kategori ibadah dengan sasaran ganda. Sasaran pertama adalah meraih ridho Allah. Selanjutnya, zakat fitrah ditujukan kepada sesama muslim yang mendapatkan haknya, dari sini dicapailah sasaran kedua yaitu merekahkan kasih-sayang sesama muslim. Maka dari sudah sangat jelas, sasaran ganda tersebut, yaitu zakat sebagai penyambung tali hablun minallah sekaligus hablun minannas. Zakat mengingatkan kepada manusia muslim bahwasanya manusia sangat perlu bersosial bermuamalah dengan baik pun juga sangat penting untuk menunaikan kewajibannya pada sisi esoteris dengan khidmah.

Penulis: Novia A’yun

Editor: Putri Nahdliyah Ayu Khumaidah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *