ArtikelDunia IslamMotivasi

Menyingkap Makna Tembang Lir-ilir

Sekitar abad ke 15 M, Sunan Kalijaga menggunakan tembang ‘Lir-ilir’ untuk berdakwah menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Pada akhir 1990-an, tembang ini kembali dipopulerkan oleh Emha Ainun Najib serta kelompok kesenian Kyai Kanjeng. Akan tetapi, mulai banyak anak muda yang menganggap bahwa tembang ini hanyalah lagu jawa klasik atau sekadar tembang dolanan tanpa paham pesan luar biasa yang tersembunyi di dalamnya.

Lir-ilir, lir ilir (Bangunlah, bangunlah)
Bangkitlah dan sadarlah

Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Agama Islam telah tumbuh dan berkembang

Tak ijo royo-royo (Begitu hijaunya)
Ajarannya begitu menyejukkan jiwa

Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan gairah pengantin baru)
Bagaikan meraih kebahagiaan lahir dan batin

 Bocah angon – bocah angon (Anak pengembala-anak pengembala)
Para penguasa, para pemimpin

Penekno blimbing kuwi (Tolong panjatkan pohon blimbing itu)
Ambillah ajaran Islam

Lunyu-lunyu penekno (Walaupun licin, tetap panjatkan)
Walau susah dan banyak rintangan, tetap imani dan yakini

Kanggo mbasuh dodotiro (Untuk membasuh pakaianmu)
Untuk membersihkan kotoran yang melekat pada jiwamu

 Dodotiro-dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)
Keimananmu/keyakinanmu/ketaqwaanmu

Kumitir bedah ing pinggir (Terkoyak di bagian samping)
Telah pudar/luntur/rusak di beberapa bagian

Dondomono, jlumatono (Jahitlah, benahilah)
Perbaikilah/sucikanlah dengan dzikir dan mengaji

Kanggo sebo mengko sore (Untuk dipakai menghadap nanti petang)
Sebagai bekal menjelang ajal/menghadap Allah

 Mumpung padhang rembulane (Selagi bulan masih bersinar)
Selagi masih hidup, mampu dan sehat jiwa raga

Mumpung jembar kalangane (Selagi banyak kesempatan)
Selagi masih terbuka hidayah dan kesempatan bertaubat

Yo surako…Surak iyo (Bersoraklah, dengan sorakan iya)
Maka jawablah seruan Allah dengan keimanan penuh

Baca Juga: Dua Risetnya Tembus Jurnal Internasional Scopus Q1, Pengurus LPTNU Banyuwangi Raih Gelar Doktor IPK 4.00

Makna Tembang Lir-Ilir Setiap Bait

1. Bangkit dari Kelalaian

Bait pertama mengandung ajakan untuk bangkit dari kelalaian dan mulai menyadari pentingnya memperbaiki kehidupan. Kata lir-ilir (bangun) secara spiritual dapat dimaknai sebagai seruan kepada manusia agar membangkitkan kesadaran batin. Kalimat tandure wus sumilir diartikan sebagai simbol kehidupan serta harapan yang mulai berkembang. Sementara itu, tak ijo royo-royo adalah gambaran dari tumbuhnya keimanan dan berkembangnya ajaran Islam dalam masyarakat. Ungkapan tak sengguh temanten anyar yang diartikan sebagai kebahagiaan pengantin baru, memiliki makna spiritual sebagai seseorang yang mulai sadar tentang pentingnya memperbaiki hubungannya dengan Allah dan diharapkan memiliki semangat baru dalam menjalani kehidupan.

2. Perjuangan Menjalankan Ajaran Islam

Bait kedua menggambarkan perjuangan manusia dalam mempertahankan keimanan. Ungkapan cah angon (anak pengembala), dimaknai sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau juga sebagai pemimpin yang bertanggung jawab membimbing orang lain. Kemudian, penekno blimbing kuwi, yang dalam penafsiran populer, buah belimbing memiliki 5 sisi dan sering dihubungkan dengan 5 rukun Islam. Selanjutnya ungkapan lunyu-lunyu penekno yang menegaskan bahwa perjuangan menjalankan ajaran Islam dan mempertahankan keimanan membutuhkan banyak usaha sebagaimana memanjat pohon licin yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, kesunggguhan, dan konsistensi. Terakhir, kanggo mbasuh dodotiro yang menggambarkan tindakan membasuh pakaian dan menjadi simbol usaha manusia dalam membersihkan jiwa.

Baca Juga: Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara

3. Perbaikan Keimanan

Pada bait ketiga mulai menekankan pentingnya manusia dalam memperbaiki keimanan. Kata dodotiro yang berarti pakaianmu, sementara kumintir bedah ing pinggir menggambarkan pakaian yang telah terkoyak. Jika ditafsirkan memiliki maksud sebagai keimanan yang telah rusak. Ungkapan dondomono, jlumatono sebagai seruan untuk memperbaiki keimanan yang dapat diwujudkan dalam bentuk dzikir, pertobatan, ibadah, mengaji, hingga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Kanggo sebo mengko sore yang dimaknai sebagai persiapan manusia sebelum menghadap Allah.

4. Memanfaatkan Kesempatan

Bait terakhir mengandung pesan penting untuk memanfaatkan kesempatan hidup dalam kebaikan sebelum benar-benar berakhir. Ungkapan mumpung padhang rembulane, dimaknai sebagai simbol harapan dan kesempatan. Sementara mumpung jembar kalangane, menggambarkan bahwa kesempatan masih terbuka lebar dalam menerima hidayah, memperbaiki keimanan dan bertobat sebelum datangnya kematian. Adapun yo surako, surak iyo, diartikan sebagai semangat dan kesungguhan dalam menyambut panggilan menuju kebaikan ataupun menjawab seruan Allah.

Penulis: Ulin Nikmatul Haya

Editor: Irham Hadiyanto

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *