Dunia IslamEducation

Sekufu / Kafa’ah

Bukan Tentang Siapa yang Paling Tinggi, Tapi Siapa yang Paling Searah

Banyak yang mengira bahwa mencari pasangan yang sekufu (kafa’ah) berarti mencari yang sama kayanya, sama tingginya gelarnya, atau sama mentereng status sosialnya. Namun, dalam kacamata Islam, sekufu sebenarnya adalah instrumen untuk menjaga keharmonisan ibadah terlama, yaitu pernikahan.

Apa Itu Sekufu yang Sebenarnya?

Secara bahasa, kafa’ah berarti setara atau sebanding. Dalam konteks cinta dan pernikahan, sekufu adalah kesamaan atau kedekatan dalam hal-hal mendasar yang memengaruhi cara pandang hidup.

Ulama sepakat bahwa indikator utama sekufu adalah agama dan akhlak. Jika seorang yang taat bersanding dengan yang gemar bermaksiat, akan terjadi “benturan frekuensi” dalam mendidik anak dan membangun rumah tangga.

Baca juga : Jurnalistik Filantropi Se-Pekalongan Raya, Perkuat Kemandirian dan Syiar Organisasi Hingga ke Akar Rumput

Mengapa Sekufu Itu Penting?

Cinta memang butuh pengorbanan, tapi pernikahan butuh kesepahaman. Sekufu meminimalisir kesenjangan komunikasi.

  • Kesamaan Visi: Memudahkan dalam menentukan tujuan besar keluarga.
  • Kenyamanan Interaksi: Mengurangi potensi konflik yang disebabkan oleh perbedaan gaya hidup yang terlalu kontras.
  • Stabilitas Sosial: Membantu adaptasi antar dua keluarga besar agar lebih selaras.

Baca juga : Membela Martabat, Menuntut Keadilan: Satgas PPKPT Sebagai Garda Depan Pemulihan Mental Korban dan Suara Bagi yang Selama Ini Dibungkam

Sekufu Bukan Penghalang Takdir

Penting untuk diingat bahwa sekufu adalah ikhtiar manusiawi untuk mencapai kestabilan, namun ia bukan syarat sah pernikahan. Rasulullah SAW pernah menikahkan Zaid bin Haritsah (seorang mantan budak) dengan Zainab binti Jahsy (seorang bangsawan Quraisy) untuk menunjukkan bahwa ketakwaan adalah standar kemuliaan yang paling tinggi.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Cinta yang sekufu bukanlah tentang mencari “kembaran”, melainkan mencari ia yang memiliki langkah yang sama. Bukan tentang memiliki saldo rekening yang identik, tapi memiliki ritme iman yang harmonis. Karena pada akhirnya, kita tidak hanya ingin menua bersama di dunia, tapi juga ingin bertetangga kembali di surga-Nya.

Penulis : Mufit

Editor : Muhammad Fachri HIbatullah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *