Seorang ibu menangis haru,
Si mungil lahir pada dunia baru,
Seorang ayah tertegun bintang,
Pendekar rakyat telah datang.
Setengah abad telah berlalu
Menempa mental seorang guru,
Pada desa dan angon ternak,
Pemimpin majasi telah tercetak.
Baca juga: Ansor Salurkan 280 Ribu Liter Air Bersih ke Warga Lereng Merapi yang Terdampak Kekeringan
Beliau tumbuh dengan sederhana,
Tanpa tergerus nodanya masa,
Sarung dan peci ialah harga diri,
Ilmu dan amal adalah senjata sejati.
Beliau lebih berwarna,
Dari ragamnya bahr dalam ilmu Arrudh
Beliau lebih indah,
dari rentetan bait syair dalam balaghoh,
Beliau adalah kitab itu sendiri,
Seorang pemimpin hakiki bagi kami.
Baca juga: Budaya Membandingkan Diri di Media Sosial
Terimakasih guru,
Pada kesabaran seluas samudra,
Pada keteguhan setegak menara,
Pada keikhlasan setinggi arsy,
Untuk kami seorang santri.
Penulis: M. Fathurrozaq



