CerpenSastra

Keberagaman

Setiap pesantren selalu menawarkan warna dan cerita yang berbeda, begitu juga setiap cobaan selalu memberikan pelajaran yang berbeda. Mendapatkan kesempatan untuk mendalami ilmu agama di pesantren adalah hal dan anugerah yang teramat indah dan tentu akan sangat sulit di lupakan. Selama di pesantren, ternyata tak hanya melulu pembelajaran agama dan kerohanian yang kita dapatkan, justru banyak hal lain mengenai sikap dan pendidikan karakter yang pada akhirnya menimbulkan banyak kebaikan yang dapat direalisasikan.

Tak ayal, kehidupan pesantren menawarkan ribuan bahkan jutaan cobaan yang harus kita hadapi dan kita sikapi dengan bijak, salah satunya adalah mengenai keberagaman. Entah keberagaman ras, budaya, gaya bahasa dan lain sebagainya. Puluhan santri membaur bersama mencari ilmu agama dan memperdalam kajian tentangnya. Namun mereka juga harus menyikapi hal yang terjadi di sekitar, tak terkecuali berlatih bersikap kepada sesama teman, kakak kelas atau orang yang lebih tua, dan terlebih kepada guru atau pengurus.

Adalah Fata, seorang pemuda yang baru saja menjalani masa pengenalan pesantren atau biasa disebut penerimaan santri baru. Fata memiliki teman yang akrab ia panggil Akbar, meskipun kebersamaan mereka masih seumur jagung, namun kepercayaan keduanya tak bisa diragukan. Fata sangat menghargai Akbar begitu juga sebaliknya.

Kerumunan di Masjid

Suatu hari, beberapa orang nampak berlari menjauh dan berhamburan dari arah musola. Fata yang melihat hal aneh itu merasa penasaran dan akhirnya memutuskan untuk mencoba melihat kondisi musola. Setelah beberapa saat ia akhirnya tersadar, Akbar tengah tergeletak di tengah musola. Ia di kelilingi oleh beberapa santri yang terlihat cemas. Fata menerobos kerumunan itu dan berjalan ke arah Akbar terbaring lemah, Fata meletakkan tangannya di atas kening Akbar.

“Kamu pusing?”

Akbar menggeleng, Fata berpindah melihat tangan Akbar yang ia letakkan di atas perutnya.

“Kamu sakit perut bar?”

Akbar hanya membalas dengan anggukan pelan sembari menunjukkan ekspresi kesakitan. Akhirnya Fata mengajak beberapa temannya untuk menggotong Akbar ke puskestren atau UKS pesantren. Namun, bukannya menolong mereka bubar setelah mengetahui Fata berusaha menolong Akbar.

“Kok malah pergi, ayo tolong Akbar!” seru Fata, namun tiada yang mendengarnya.

“Bar, kamu masih kuat kan?”

Akbar mengangguk lagi, ia hanya terdiam dan melihat ke arah Fata, sahabatnya yang paling setia. Akhirnya setelah diperiksa, Akbar tidak mengalami sakit yang serius.

“Alhamdulillah kalau kamu nggak papa” ucap Fata sembari menyodorkan roti.

“Alhamdulillah, makasih ya” jawab Akbar sembari menerima pemberian Fata, sesaat kemudian Akbar meminum obat yang baru saja Fata ambilkan dari ruang obat.

Baca juga: Guru dalam Pusaran Tantangan Digital dan Moral

Perasaan Penuh Penasaran

Beberapa hari setelah kejadian itu, Fata bertemu dengan beberapa santri yang enggan menolongnya menggotong Akbar kala itu. Fata sengaja berhenti dan menanyakan apa yang sebenarnya mereka inginkan, sangat aneh jika kedatangannya malahan membuat mereka tidak jadi menolong Akbar.

“Assalamualaikum akhi”

“Waalaikumsalam”

Setelah mereka berbincang dan bercerita, Fata akhirnya mengerti. Kepergian mereka bukan karena tak ingin menolong Akbar. Namun karena ada tugas dan sebagian yang lain ada acara yang berlangsung bersamaan waktu itu. Fata kembali mengajak mereka berbicara, beberapa dari mereka juga mengatakan kebenaran yang terjadi pada Akbar beberapa hari lalu.

Fata sangat terkejut saat mengetahui bahwa Akbar sempat tak sadarkan diri. Ada makhluk yang mengganggu saat Akbar merasakan sakit yang tak berkesudahan di bagian perutnya. Fata akhirnya mengerti  dan berpamitan untuk menemui Akbar.

“Akbar, Akbar”

Tidak ada sahutan, beberapa santri juga seolah tak mendengar apa suara Fata.

“Aneh” batin Fata.

Sebuah Kebenaran

Tak berselang lama, Hazim teman seangkatan Fata melambaikan tangan dan memberikan kode agar Fata mendekat ke arahnya. Ternyata di dalam kamarnya, Akbar tengah meraung-raung dan mencengkram bantal dengan kukunya yang kuat.

“Astaghfirullah, Akbar….”

Keadaan seketika hening, buliran air mata jatuh dari pelupuk mata Akbar, ia sangat kesakitan. Fata dan beberapa temannya yang lain terus membacakan ayat kursi dan surah surah lain, dengan harapan Akbar akan segera sadar.

Setelah dua puluh menit, akhirnya Akbar tersadar dan meminta tolong kepada hazim untuk memanggilkan Fata, ia tak menyadari bahwa Fata sedari tadi berada di sekitarnya.

“Saya disini Bar, kenapa?”

Akbar semakin menjadi-jadi, tangisnya enggan mereda saat mengetahui Fata berada di dekatnya. Akbar berusaha meraih tangan Fata dan berusaha bangkit. Namun ia sangat lelah, ia lemas dan serasa tidak memiliki tenaga sama sekali.

“Nggak usah dipaksa, mau apa biar saya bantu?”

Baca juga: Muhasabah Diri: Tidak Hanya Menyadari Tapi Juga Memperbaiki

Persahabatan dalam Keberagaman

Akbar masih sesenggukan, Fata pun mendekatkan telinganya ke arah Akbar agar ia leluasa berbicara tanpa harus mengeluarkan tenaga yang banyak.

“Maafin saya Ta, saya nggak pernah cerita soal ini. Karena sebenarnya saya sering sakit dan ujungnya gak sadar. Saya  merasa sakit banget, tapi saya gak berani cerita sama kamu, karena kamu adalah seorang Gus. Kamu terlalu baik buat nemenin saat saya kaya gini “

“Bar? Kamu sering kaya gini? Kenapa kamu gak jujur sama saya? Saya gak pernah milih mau temenan sama siapa aja, nggak ada bedanya, Bar.”

“Maafin saya Ta, saya percaya kalau kamu adalah orang baik, makanya saya nggak mau jadi beban buat kamu.”

Dengan wajah yang teduh dan tersenyum hangat, Fata merangkul Akbar dan mengajaknya menuju tempat tidurnya. Keadaan Akbar tadi membuatnya terjatuh dari tempat tidur yang biasanya ia tempati.

“Nggak usah sungkan, kalau ada apa-apa bilang aja.”

“Makasih Ta, saya gak tau harus gimana lagi. Kamu teman cerita sekaligus sahabat saya yang paling baik. Setelah kamu tau ini, apa kamu bakal takut sama saya?”

“Ya enggak lah, kita harusnya saling tolong menolong. Saya akan bantu dan dukung kamu ikhtiar supaya cepat sembuh, Bar.“

“Tapi kenapa saya begini ya, Ta?”

“Kamu paham, kan? Cobaan orang itu beda-beda, dan di pesantren ini kita harus sadar kalau kita mencari ilmu. Ilmu adalah hal yang amat mulia, dan kemuliaan itu tidak bisa dicapai hanya dengan usaha yang biasa. Jadi, sabar ya…. Keberagaman akan membuat kita semakin berwarna, termasuk keberagaman ujian dan cobaan.“

“Insyaallah, terima kasih ya, Ta” mereka saling menjabat satu sama lain.

Terkadang, hadirnya keberagaman tak melulu harus diselaraskan, karena dengan adanya kebersamaan, keberagaman yang nampak asing akan menciptakan warna baru, apalagi dalam dunia pesantren.

Penulis: Rokhimatus Sholekhah

Editor: Bella Fadhilatus Sanah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *