ArtikelOpini

Muhasabah Diri: Tidak Hanya Menyadari Tapi Juga Memperbaiki

Seringkali kita mendapati permasalahan yang tidak terduga dalam berkehidupan. Bahkan, permasalahan tersebut membuat kita stress, hingga menguras energi.

Permasalahan tersebut timbul dari berbagai sudut seperti permasalahan keluarga, permasalahan dengan teman, permasalahan finansial, dsb. Timbulnya permasalahan-permasalahan tersebut menghadirkan berbagai reaksi dalam diri setiap orang.

Baca juga: Menjadi Guru Idaman Siswa di Era Digital

Tipe Seseorang Ketika Bersua dengan Masalah

Nah, dalam menghadapi permasalahan yang datang dalam kehidupan, ada dua tipe manusia diantaranya yakni?

  1. Ketika tertimpa masalah, ia berkeluh kesah
  2. Ketika tertimpa masalah, ia bersabar

Mereka yang tertimpa masalah kemudian berkeluh kesah biasanya dihinggapi dengan menyalahkan orang lain. Misalnya; Nilai mata kuliahnya tidak sesuai ekspektasi, dia malah menyalahkan orang lain, menyalahkan teman kelompoknya, “Kamu sih, kurang ini, kurang itu, andai saja kamu mau begitu, pasti nilaiku A,” pungkasnya.

Bahkan, ada juga yang sampai menyalahkan takdir semua yang telah menimpanya. “Kenapa harus aku, Tuhan?  Kenapa hidupku tidak seberuntung orang lain?”

Adapun reaksi yang divisualisasikan orang yang sabar, selain pasrah dia juga bermuhasabah diri (Introspeksi diri). Dia percaya bahwa setiap masalah yang datang pada dirinya, maka mengindikasikan terdapat masalah dalam dirinya.

Pengertian Muhasabah

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti muhasabah atau introspeksi yaitu peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, sikap, dan kesalahan pada diri. Makna muhasabah diri adalah salah satu cara membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat.

Muhasabah Diri: Tidak Hanya Menyadari tapi juga Memperbaiki

Ketika masalah datang menghampiri kita, sebaiknya kita bersabar. Tentu, tidak hanya pasrah, tapi juga muhasabah. Muhasabah yang dimaksud tidak hanya menyadari saja, tanpa upaya memperbaiki diri.

Selain menyadari kesalahan maupun dosa diri, kita juga harus berusaha untuk berbenah diri. Muhasabah tidak hanya sekadar mengucap Innalillahi wa inna iliahi roji’un, tidak juga sekadar merasa bahwa ini adalah cara Allah menaikkan derajat kita.

Jadi, apakah tidak boleh jika kita merasa bahwa ini adalah cara Allah untuk menaikkan derajat kita?

Boleh, tapi pola pikirnya perlu dirubah. Jika orang lain yang kena musibah, baru kita bilang ke dia “Sabar, barangkali Allah ingin menaikkan derajatmu, barangkali Allah ingin mendengar doamu lebih lama, barangkali Allah ingin bercengkerama dengan hambanya lebih lama.”

Tapi, jika kita sendiri yang terkena musibah, akan lebih baik jika kita berpikir terkait dosa yang sudah kita perbuat. “Kira-kira apa ya… yang salah dalam diri saya selama ini? Apakah karena saya jarang berdoa? Apakah karena saya banyak dosa? Atau karena salat saya kurang sempurna?”

Pikiran-pikiran seperti itulah yang akan membawa kita menjadi manusia yang lebih produktif. Sebaliknya, merasa bahwa ini adalah cara Allah menaikkan derajat kita untuk menyikapi segala permasalahan yang hadir dalam hidup kita, seringkali menjadikan kita sebagai manusia yang ke-GR an, merasa sudah menjadi manusia yang baik, hanya pasrah dan tidak berusaha memperbaiki diri.

Keutamaan Muhasabah Diri

Muhasabah membawa diri kita menjadi lebih baik di esok hari, baik di dunia maupun di akhirat. Umar bin Khattab Ra. berkata,

“Hendaklah kalian menghisap (mengintrospeksi) diri kalian sebelum kalian dihisab.” (H.R. At-Tirmidzi-Ahmad).

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 yang artinya,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dibuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr ayat 18).

Dari ayat tersebut, kita ketahui bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk menghubungkan antara masa lalu dengan masa depan sehingga bisa lebih baik adalah introspeksi diri.

Baca juga: Jangan Khawatir, Bersihkan Hati dengan Dzikir

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, semoga kita senantiasa menjadi manusia yang gemar muhasabah diri serta berupaya untuk memperbaikinya. Tulisan ini tidak hanya untuk pembaca, namun juga untuk penulis sendiri dalam berproses menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Penulis: Dina Surya Mega

Editor: Fani Azfar 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *