Di zaman global yang serba cepat dan pesat ini, informasi kadang datang lebih cepat dari angin. Sepuluh jari kita juga tentu lebih cepat merespon kabar-kabar itu, bahkan lebih cepat daripada ranting-ranting pepohonan yang diembus angin. Rasanya, pohon-pohon juga menertawakan kita, sebab mereka jauh lebih berakal daripada kita yang menamakan diri sebagai manusia ini.
Pohon yang terlihat tidak punya akal, tapi nyatanya masih mampu membedakan mana oksigen dan mana karbondikosida. Tapi kita? Kita bahkan tidak sadar, dengan ketikan jari-jari kita, sudah layak atau belum disebut sebagai manusia.
Akhir-akhir ini, kita tentu menyadari dan merasakan, bagaimana kita berperilaku seolah-olah kita adalah makhluk yang paling benar. Sikap dan ketikan kita, kadang terlalu “binatang” jika dilihat dari sudut pandang kecil dunia yang bernama kolom komentar. Semua berjalan tanpa disaring, tanpa ditabayunkan, atau sekadar mencari tahu tentang semua yang terjadi.
Kita juga kadang terlalu betah hidup dalam lingkungan “bodoh” yang juga “membodohkan”.
Lingkungan itu mendiklat kita agar lebih nyaman berkomentar dengan mencaci maki, selayaknya sedang mengencingi rerumputan kering di padang yang luas. Ironisnya, kita mengencingi dengan cara berdiri dan tertawa terbahak-bahak.
Kita juga tanpa sadar sering berperilaku seolah-olah sedang mengerdilkan Tuhan. Berperilaku seolah-olah menganggap surga-Nya hanya seluas akal kita. Padahal, kehendak-Nya jauh melampaui itu semua. Kita selalu berpikir, bahwa surga itu hanya untuk diri kita dan segelintir golongan kita saja. Dan itu adalah cara kita mengerdilkan Tuhan.
Kita juga dengan mudah menghina, mencaci maki, membabi buta, dan menghujat orang lain. Padahal, kita tidak pernah tahu yang dihina itu, mungkin jauh lebih tinggi derajatnya di sisi Tuhan daripada kita yang menghina. Kita tidak pernah tahu yang dicaci maki itu, mungkin jauh lebih mulia kedudukannya daripada kita yang mencaci. Kita tidak pernah tahu yang dibinatangi itu, mungkin jauh lebih manusia nilainya daripada kita yang membinatangi. Kita juga tidak pernah tahu yang dihujat itu, mungkin jauh lebih membawa kemanfaatan dan kemaslahatan daripada kita yang hanya menambah buruknya suasana.
Bagi kami yang diberkahi dan diberi kesempatan untuk menjadi santri, tentu kami agak menyayangkan beberapa kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, kejadian-kejadian atau framing yang berkenaan dengan guru kami, Abah K.H. Marzuqi Mustamar.
Baca juga: PBNU dan India Jajaki Kolaborasi Pendidikan Pesantren dan Perguruan Tinggi
Kalau ditanya, kami terima atau tidak? Tentu tidak. Tapi, rasanya kami malu jika harus membalas cacian itu dengan sumpah serapah. Kami malu jika harus membalas membabi buta itu dengan cara “binatang”, sebab kami tahu cacian itu juga berasal dari jenis yang sama binatangnya. Jadi, kami memilih untuk menulis saja. Barangkali berbagai framing, hinaan, fitnah, caci maki, atau sejenisnya, semuanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang bacanya, kurang nulisnya, dan kurang belajarnya. Dari itu, kami memilih untuk menulis dan menulis.
Kami harus menggarisbawahi terlebih dahulu, bahwa kami tidak sedang berbicara tentang citra pesantren yang akhir-akhir ini buruk oleh perbuatan beberapa oknum. Sebab kami paham, itu tidak datang dari kultur asli pesantren, dan kami juga tentu menolaknya dengan keras.
Oke. Berbicara tentang berbagai komentar miring mengenai guru kami, K.H. Marzuqi Mustamar, sebenarnya apa yang ingin dikuliti dari kesederhanaan beliau? Apa yang ingin dijatuhkan dari beliau?
Daripada kami bercerita dengan panjang lebar, kami akan mencoba memberi gambaran secara sederhana saja. Kami sebagai santri di pondok pesantren, tentu bertemu sosok bernama guru itu, bukan seperti belajar di sekolah formal. Kami tidak hanya bertemu guru di pagi sampai siang hari, lalu berjumpa lagi di esok hari. Tentu tidak seperti itu. Kami di pondok pesantren bertemu guru 24/7. Artinya, kami tidak menyaksikan perilaku guru dengan waktu yang sedikit, sehingga kami paham betul bagaimana kehidupan sosok yang kami sebut sebagai Kiai itu. Dan terkhusus Abah K.H. Marzuqi Mustamar yang menjadi pengasuh di pondok kami, semua santri paham bagaimana kehidupan beliau. Bagaimana beliau mendidik para santri, putra-putri beliau, keluarga beliau, dan membimbing masyarakat.
Semua dapat menyaksikan, sebab hampir tidak ada jarak antara kami sebagai santri, dan beliau sebagai pengasuh pondok. Bahkan, tidak jarang kami makan dalam satu wadah (talam) bersama beliau.
Kami paham bagaimana kesederhanaan beliau, kami paham bagaimana cintanya beliau kepada ilmu, dan kami tahu betul bagaimana perjuangan beliau di masyarakat.
Melihat komentar yang mengolok-ngolokkan beliau, rasanya kami terluka. Sebab kami paham bagaimana luasnya samudera ilmu beliau yang bahkan sampai detik ini, kami belum mampu untuk sekadar berenang mengarungi laut tepinya. Membaca ketikan jari yang cukup kasar dari beberapa orang di media sosial, rasanya sulit untuk kami tidak menjawab dan menjelaskan ini. Meskipun kami tahu, tulisan ini tidak akan pernah cukup untuk menjabarkan tentang keistimewaan beliau.
Baca juga: Menyoal Kebudayaan Profetik di Pesantren Kita
Tulisan ini, kami tulis bukan karena kami fanatik buta. Kami menulis ini, sebab merasa perlu meluruskan nalar-nalar bengkok atau nalar-nalar kosong yang dibungkus dengan kata-kata kotor bernada sumpah serapah.
Sesekali, kita perlu merenungkan tentang diri kita. Merenungkan bagaimana sangkar kosong bernama manusia ini, kadang isinya jauh lebih angkuh melampaui kodrat makhluknya. Barangkali yang kita anggap benar itu, cuma sebatas itu saja yang kita ketahui. Barangkali yang kita caci maki itu, menyimpan banyak hal yang tidak pernah kita ketahui.
Melalui tulisan ini, kami tidak pernah menutup diri untuk sekadar diskusi atau ngopi.
Penulis: Delvin Pratama (Santri Ponpes Sabirurrosyad Gasek Malang)
Editor: Muhammad Fachri Hibatullah



