ArtikelRedaksi

Kalau Bahasa Kerennya, sih Work-Life Balance

Seberapa sering kita terbangun dengan pikiran penuh, tubuh yang masih lelah dan mengeluh tentang hari yang seakan tiada akhir. Tidur dengan rasa khawatir dan takut akan kehilangan momentum. Menjalani hari dengan rasa resah karena keadaan di sekitar yang seakan tidak pernah baik-baik saja. Mari menepi sejenak.

Tujuan Hidup yang Sesungguhnya

Dunia yang bergerak cepat membuat kita harus terseok-seok mengejar. Sebenarnya, apa yang dikejar? Mari mengingat kembali, apa tujuan kita di sini? menjadi anak yang berbakti? menjadi karyawan yang berprestasi? menjadi ayah yang dibanggakan putranya? menjadi ibu yang dicintai putrinya? atau cukup menjadi diri yang selalu bisa hidup mandiri?

Sebagai seorang muslim, apakah benar tujuan hidup yang sudah kita miliki? berkali-kali Allah menegaskan dalam kalam-Nya, salah satunya dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56

“dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepadaKu”

Akhirat adalah akhir bagi kita semua. Beribadah adalah tujuan utama kita diciptakan di dunia ini. Namun, bukannya Allah juga memerintahkan kita untuk berusaha dan tidak mengabaikan hak-hak keduniawian?

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” – Al-Qasas ayat 77

Lantas hidup yang seperti apa yang harus kita jalani?

baca juga: Merawat Bumi, Merawat Amanah: Menatap Krisis Ekologi Indonesia dalam Kacamata Islam

Keseimbangan Hidup dan Konsep Rezeki

Allah adalah Dzat Yang Kuasa, Allah kuasa untuk memberi rezeki atas apa pun yang ada di alam semesta. Rezeki adalah Sunnatullah. Sementara, manusia seringkali lupa bahwa rezeki itu dari Allah. Bukan dari kerja keras kita, bukan dari amal kita, ataupun dari perbuatan baik orang-orang terdahulu kita.

Kita sebagai manusia hendaknya terus mengingat bahwa upaya kita di dunia semata-mata adalah untuk mendapat Ridho-Nya. Sebagai bentuk syukur atas segala penghidupan, karunia dan apa pun yang sudah Allah beri kepada kita sebagai makhluk-Nya. Dengan mengingat kembali bahwa hidup ini hanya sarana untuk kehidupan abadi di akhirat nanti, hendaknya kita terus bermawas diri.

baca juga: Bijak Bermedia Sosial Saat Bencana: Kurangi Gosip, Perbanyak Solidaritas

Kelelahan mengejar dunia yang seakan tak berujung, membuat hidup semakin mendung, dan bahkan dengan ringannya mengutuk kepada yang memberi hidup, Na’udzubillah. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dan hati kita agar senantiasa bersyukur kepada-Nya dengan segala tindak tanduk kita sebagai manusia yang berguna.

Kalo istilah kerennya mah Work-Life Balance. Menyeimbangkan kehidupan dunia dengan tetap menjadikan akhirat sebagai pemberhentian akhir kita. Jika kita terus meyakini bahwa bekerja adalah cara kita bersyukur kepada-Nya, semoga hal itu bisa sedikit meringankan beban hati yang semakin teriris oleh rasa dengki.

Penulis: Putri Malinda Nurul Faizah

Editor: Ahmad AY

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *