ArtikelRedaksi

Menyambut Kaum Figital, Mengantisipasi Labilitas Fisikal

Ketika kaum figital mulai memenuhi ruang-ruang kehidupan kita, sesungguhnya yang sedang berubah bukan cara manusia bekerja, belajar, maupun berkomunikasi semata. Perubahan simpul itu adalah justru cara manusia yang mampu merasakan dunia. Orang-orang hari ini bangun tidur sambil meraih gawai kesumatnya lebih dahulu ketimbang menyapa dirinya sendiri. Sebelum kaki menapak lantai kamar, notifikasi telah lebih dulu mengatur suasana kalbu. Kita, hidup di zaman ketika layar mentereng merupa cermin baru kehidupan, yakni tempat manusia mencari pengakuan, pengetahuan, bahkan ketenangan batin. Di dalam situasi semacam inilah manusia modern perlahan bergerak dari makhluk yang mengalami dunia (the experiencing self) menjadi makhluk yang sekadar menggulir dunia dengan ujung jarinya.

Teknologi, Algoritma, dan Pergeseran Kesadaran Manusia

Mula-mula teknologi memang datang seperti malaikat penolong. Ia memudahkan pekerjaan, mempersingkat jarak, dan mempercepat akses pengetahuan. Akan tetapi, seperti kisah Kuda Troya dalam mitologi Yunani, kemudahan itu diam-diam membawa sesuatu yang lain ke dalam benteng kesadaran manusia. Orang semakin terbiasa menerima jawaban barang yang siap konsumsi. Tinggal ketik, keluar jawaban, tinggal salin, selesai urusan. Pada titik itulah, labilitas fisikal mulai menemukan bentuknya. Manusia utuh secara tubuh, sementara kesadarannya terus ditarik masuk ke ruang artifisial yang dibangung algoritma.

Barangkali inilah yang pernah dikhawatirkan Martin Heidegger dalam paradigmanya bahwa The essence of technology is by no means anything technological. Teknologi pada akhirnya bukan lagi perkara alat, melainkan cara manusia memandang dunia. Segala sesuatu perlahan dilihat sebagai sesuatu yang siap digunakan (standing reserve). Pengetahuan menjadi stok data, hubungan sosial berubah menjadi angka engagement, bahkan kesedihan menjelma komoditas konten yang dapat diputar ulang demi trafik dan monetisasi.

Kita dapat melihat gejala itu di media sosial. Orang menangis sambil menyalakan kamera. Orang berduka sambil memikirkan sudut pengambilan gambar terbaik. Bahkan perang, kemiskinan, dan bencana alam sering kali lebih dahulu hadir sebagai materi visual sebelum dipahami sebagai tragedi kemanusiaan. Dunia hari ini terasa semakin mirip simulasi yang dibayangkan Jean Baudrillard. Manusia hidup di tengah citra-citra hingga kesulitan membedakan mana pengalaman nyata dan mana pengalaman yang telah dikurasi algoritma. Kehidupan akhirnya bergerak seperti etalase. Yang penting terlihat, bukan dihayati secara mendalam.

baca juga: Filsafat Kesadaran: Antara Harapan dan yang Tak Kunjung Melekap

Kecerdasan Artifisial dan Krisis Pengalaman dalam Agama serta Pendidikan

Kecenderungan tersebut semakin mengkhawatirkan saya dalam melihat realitas beragama ketika kecerdasan artifisial mulai memasuki ruang-ruang yang selama ini diemban oleh pengalaman etik dan kedalaman spiritual manusia. Ada sebuah wacana pengembangan AI berbasis kajian Islam, misalnya, memang terdengar futuristik. Bayangkan saja, seseorang cukup mengetik pertanyaan tentang hukum agama, lalu dalam hitungan detik keluar jawaban lengkap dengan dalil dan rujukannya. Praktis. Cepat. Efisien. Akan tetapi, agama sejak dahulu tidak pernah tumbuh hanya dari kecepatan jawaban. Tradisi keilmuan Islam dibangun melalui talaqqi, pergulatan batin, adab kepada guru, serta proses panjang memahami konteks kehidupan manusia.

Seorang kiai memahami persoalan umat bukan semata-mata karena hafal kitab, melainkan karena ia hidup bersama kegelisahan masyarakatnya. Ia mendengar nada gemetar seorang anak yang kehilangan ayahnya, memahami kecemasan seorang buruh yang kesulitan memberi makan keluarganya, dan mengerti bahwa satu hukum dapat memiliki dampak berbeda ketika berhadapan dengan realitas hidup manusia yang beragam. Kembali lagi, mesin dapat menghafal jutaan referensi, tetapi ia tidak mengenal air mata, tidak memahami getir kehidupan, dan tidak memiliki empati terhadap luka manusia.

Gejala serupa sebenarnya sangat tampak dalam dunia pendidikan. Hari-hari ini, banyak mahasiswa menyusun tugas akademik dengan bantuan AI generatif. Dalam hitungan detik, mesin mampu menghasilkan tulisan yang rapi secara struktur, kaya secara diksi, dan lancar secara argumentasi. Akan tetapi, dosen sekaliber kitapun menyadari sebetulnya bahwa upaya praktis ini gemar menghilangkan denyut pengalaman personalia. Pada titik tertentu, mahasiswa tidak lagi bergulat dengan gagasannya sendiri. Mereka sekadar menjadi kurator bagi jawaban-jawaban mesin.

Menimpali situasi tersebut, Paulo Freire membuat anasir-anasir tekstual mengenai paranoia pendidikan melalui istilah banking education. Pendidikan gaya bank, sebagaimana dikhayalkan oleh Freire menganggap bahwa ketika pengetahuan diperlakukan seperti barang deposito yang tinggal dipindahkan tanpa proses kesadaran kritis, maka peserta didik semakin kehilangan otonomi berpikir. Bedanya, masyarakat figital hari ini bahkan melangkah lebih jauh daripada yang dibayangkan Freire. Pengetahuan menurutnya, tidak lagi sekadar ditabung, melainkan diproduksi otomatis oleh mesin. Ruang kontemplasi perlahan dipersingkat menjadi prompt, sedangkan kemampuan berpikir kritis terancam berubah menjadi kemampuan merumuskan perintah yang efektif kepada algoritma.

Masyarakat Figital: Antara Budaya Tontonan dan Polarisasi Digital

Kita juga melihat kecenderungan itu dalam budaya media sosial. Anak-anak muda merekam konser kultural sambil menonton melalui layar gawainya sendiri. Mereka datang ke sebuah peristiwa, tetapi kesadarannya sibuk memastikan peristiwa itu dapat diunggah. Pengalaman akhirnya kehilangan keutuhan fisikalnya. Orang makan demi konten, bepergian demi validasi digital, bahkan beribadah pun kadang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan impresi visual. Di titik inilah, tubuh manusia seperti hadir setengah-setengah bahwa fisiknya berada di dunia nyata, sementara batinnya terus mencari pengakuan di ruang digital.

Guy Debord dalam Society of the Spectacle juga menyebutkan bahwa masyarakat modern perlahan hidup dalam pertunjukan citra. Manusia tidak lagi berhubungan langsung dengan realitas, sebab relasinya dimediasi oleh tontonan yang terus diproduksi. Hari ini, kritik-kritik eksistensial itu terasa semakin aktual. Kehidupan sehari-hari bergerak seperti panggung raksasa tempat manusia berlomba tampil, sementara pengalaman batin perlahan kehilangan ruang sunyinya.

Ihwal pergulatan sosial-politik, kaum figital juga menghadirkan persoalan yang lebih rumit. Algoritma media digital membuat masyarakat semakin mudah hidup dalam ruang gema (echo chamber). Orang hanya membaca informasi yang sesuai keyakinannya, lalu menganggapnya sebagai kebenaran mutlak. Akibatnya, ruang dialog semakin menyempit. Kita melihat bagaimana hoaks politik, potongan ceramah, bahkan cuplikan video yang dipenggal konteksnya dapat menyulut kemarahan massal hanya dalam hitungan jam. Masyarakat bereaksi lebih cepat daripada berpikir. Dalam kondisi semacam itu, yang lahir bukan lagi warga dengan kewarasan reflektif, melainkan kerumunan digital yang mudah digerakkan oleh impresi sesaat.

Fakta ini mendukung kegelisahan Hannah Arendt mengenai hilangnya kemampuan berpikir menjadi relevan kembali. Arendt pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar masyarakat modern muncul ketika manusia berhenti berpikir secara mendalam dan sekadar mengikuti arus sistem di sekitarnya. Hari ini, sistem itu bernama algoritma. Ia menentukan apa yang kita baca, apa yang kita sukai, bahkan apa yang kita anggap penting. Manusia merasa bebas memilih, padahal pilihannya telah diarahkan sejak awal oleh aporia-aporia digital yang bekerja diam-diam di belakang layar.

Di tengah masyarakat figital pula, menurut hemat pribadi, Surah Al-Hujurat (6) sebetulnya sudah menjadi alarm satu-satunya yang nyaris tenggelam oleh kebisingan dunia digital. “Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah terlebih dahulu”. Akan tetapi, tabayyun hari ini kalah pamor dibanding viralitas. Orang lebih tergoda menjadi yang tercepat bereaksi ketimbang yang paling jernih memahami. Jempol bergerak lebih lekas daripada pikiran, sementara amarah lebih mudah menyala dibanding kesediaan untuk memeriksa kebenaran. Akibatnya, ruang digital berubah menjadi pasar kebisingan. Semua orang berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar mendengar; semua merasa tahu, tetapi nyaris tak ada yang sungguh memahami.

baca juga: Ketika Pemimpin Hanya Mendengar Pujian: Bahaya Yes Man dalam Pemerintahan

Menjaga Kedalaman Manusia di Tengah Peradaban Digital

Tak ayal, apabila Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut gejala semacam itu sebagai loss of adab. Ketika pengetahuan tercerabut dari kebijaksanaan, manusia memang tampak makin canggih, tetapi batinnya perlahan kehilangan arah. Ia mampu mengakses ribuan informasi dalam satu genggaman, namun gagal membedakan mana pengetahuan, mana propaganda, dan mana sekadar kesan sesaat yang dipoles algoritma.

Barangkali, kaum figital adalah generasi yang paling dekat dengan informasi sekaligus paling rentan kehilangan kedalaman pemahaman. Mereka hidup dalam dua dunia sekaligus. Tubuhnya berada di ruang fisik, sementara kesadarannya terus berkelana di ruang digital sebagai arena simboliknya. Mereka mampu mengakses ribuan pengetahuan dalam satu genggaman, tetapi semakin sulit duduk tenang membaca satu buku hingga selesai. Mereka dapat berbicara dengan banyak orang setiap hari, tetapi semakin jarang berbincang dengan dirinya sendiri.

Sontak, kegelisahan itu membawa ingatan pada kecemasan purba manusia, yakni hilangnya ruang hening untuk berkontemplasi. Martin Suryajaya, dalam pembacaan sejarah estetika, pernah menyinggung bahwa lanskap postmodernisme menjebak manusia modern ke dalam dunia yang riuh oleh percepatan, tetapi kehilangan kedalaman. Segala sesuatu bergerak cepat, sementara batin manusia tertatih mengejar makna.

Sintesa-sintesa itulah menurut saya dalam gagasan symmetrianya relevan dengan pembacaan realita hari ini. Teknologi semestinya tidak berdiri sebagai berhala yang menelan kesadaran manusia, melainkan hadir dalam keselarasan dengan refleksi dan kejernihan batin. Sebab tanpa keseimbangan itu, peradaban digital hanya akan melahirkan manusia-manusia yang tangkas menjelajahi informasi, tetapi gagap ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.

Penulis: Muhammad Ariby Zahron

Editor  : Ahmad AY

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *