CerpenSastra

Malaikat

Ramadhan sudah sampai lebih dari separuhnya. Seperti biasa, malam-malam dihiasi dengan salah satu ibadah yang khas dilakukan hanya pada bulan ini, yaitu sembahyang tarawih. Begitu pula di aula pesantren kami di kota S.

Tidak hanya para santri, beberapa warga sekitar juga turut memakmurkan dengan istiqamah. Mulai awal bulan hingga sekarang, bisa dibilang jumlah jamaah yang hadir kurang-lebih sama. Kemudian ada saja, entah satu-dua orang, yang tampak begitu bersemangat.

Keramaian Malam Ramadhan

Terlihat dari pekikan amin mereka ketika imam salat selesai membaca Al-Fatihah dan teriakan mereka saat menjawab komando bilal. Ini cukup efisien untuk memacu semangat jamaah yang lain, bagus sekali—tentu asal tidak berlebihan.

Selain remaja dan orang tua, ada juga anak-anak yang turut datang. Beberapa dari mereka dengan tangguhnya ikut melaksanakan sembahyang. Beberapa yang lain sibuk dengan kegiatan yang bermacam-macam. Ada yang kejar-kejaran sambil menjerit-jerit dan menerobos di sela-sela barisan jamaah. Lalu seperti ada yang menangis di belakang.

Sudut Lain Malam Ramadhan

Juga ada satu anak, barangkali usianya kurang dari dua tahun, tampak serius mengamati gerakan-gerakan salat kami dengan tatapan mata yang bersih dan tulus.

Kemudian si anak ini mencobanya sendiri. Terus terang, gerakannya seperti mengejek meski tentu dia tidak akan memiliki niat begitu. Lucu sekali.

Baca juga: Golongan Orang Beruntung di Bulan Ramadhan

Lantas dari buritan terdengar entah dua anak atau lebih yang mengobrol asyik serupa suara lebah. Bunyinya agak keras namun samar apa-apa yang mereka katakan.

Di sudut lain, ada anak yang membawa mainan kereta mini kemudian mendorongnya sembari berseru, “Es krim! Es krim! Es krimnya, Dik,” dan salah satu temannya seperti memesan, “Beli es krimnya satu, Mas, yang rasa cokelat.”

Hiasan yang Hingar Bingar

Yang di luar pun tidak kalah heboh. Mereka membawa petasan yang entah mereka dapat dari mana. Ketika ada yang menyalakan satu kemudian meledak, yang lain tertawa terbahak-bahak.

Tampak sangat bahagia. Mereka tidak sadar bau petasan yang mereka sulut itu sampai ke dalam ruangan. Namun tak apa, namanya juga anak kecil.

Tanpa sengaja menyimak mereka, dadaku turut merasa senang dan tenang. Jujur. Masa depan dusun ini sangat cerah dan terang-benderang. Para bocahnya masih banyak yang bersedia berkunjung ke tempat ibadah.

Baca juga: Ilmu dari Jakarta

Bersyukurlah yang masjid dan musalanya masih dihiasi hingar-bingar anak kecil. Dengan begini kita tak perlu khawatir lagi. Dia yang mengurus agama-Nya sendiri.

Pendrikan, 23 Ramadan 1445 H.

Penulis: A. Zulfa Muntafa

Editor: Bella Fadhilatus Sanah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *