Jejak Santri di Negeri Riuh
Fajar pernah memanggilku
dengan bisikan azan yang lembut,
membasuh kantukku dengan wudhu,
mengantar langkahku ke serambi
tempat kitab terbuka
dan doa mengalir seperti sungai tanpa hulu.
Pesantren adalah pelukan,
di mana dunia hanya selebar halaman mushaf,
dan suara kiai adalah peta yang tak pernah menyesatkan.
baca juga: Manusia itu Unik : “Seorang Hamba, namun Ia Menghakimi Layaknya Tuhan”
Lalu, pintu gerbang dibuka,
dan aku dilempar ke jalan yang tak kukenal.
Di sini,
angin membawa kabar pahit,
mata manusia menyimpan rencana,
dan waktu berjalan lebih cepat dari niat.
Aku belajar menanam sabar
di tanah yang keras,
menyiramnya dengan doa
yang kadang terasa tak didengar.
baca juga: Kisah Bal’am bin Ba’ura: Ketika Ilmu Tak Lagi Menuntun pada Kebenaran
Namun di dadaku,
ayat tetap hidup,
menyala seperti lampu minyak
di tengah pasar malam yang riuh dan penuh tipu.
Dan aku mengerti,
santri bukanlah mereka yang berhenti di gerbang pesantren,
tapi yang terus membawa cahaya
sampai malam menutup seluruh jalan pulang.
Penulis : Fuad Hilal Hamdi



