Dunia Islam

Isra’ Mi’raj sebagai Cermin Kehidupan Modern

Di tengah hiruk pikuk dunia, jari lebih sering menggeser layar daripada menengadah di langit. Kita hidup di dunia yang serba cepat, penuh notifikasi, dan nyaris tanpa jeda. Scroll tanpa henti telah menjadi rutinitas, sambil rebahan atau duduk bersandar di pojokan.

Sementara lelah mental, overthinking, dan krisis makna pelan-pelan menjadi hal yang dianggap wajar. Sayangnya di tengah konektivitas digital yang tanpa henti, banyak manusia yang justru merasa kosong dan kehilangan arah. Lantas muncul pertanyaan kemana sebenarnya arah hidup manusia?

Merenungkan Kembali Peristiwa Isra’ Mi’raj

Dalam konteks ini, peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi sangat relevan untuk direnungkan kembali. Bukan sebagai sejarah ataupun mukjizat saja, namun memiliki pesan yang terasa relevan dengan zaman saat ini. Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dilanjutkan naik ke langit ke tujuh untuk menerima perintah shalat.

Peristiwa ini tidak terjadi dalam kondisi Nabi Muhammad saw. sedang berada di puncak kejayaan. Namun, justru datang setelah fase paling berat dalam hidup beliau, yang disebut dengan Amul Huzn (tahun kesedihan). Kehilangan orang terdekat, tekanan sosial, dan penolakan dakwah menjadi latar belakang perjalanan tersebut.

Baca juga: Ketika Standar Dunia Ngga Ada Habisnya, Al-Qur’an Jadi Jawaban

Relevansi Isra’ Mi’raj dengan Kehidupan di Era Modern

Hal ini relevan dengan realita yang dialami oleh manusia saat ini. Tekanan pekerjaan, tuntutan akademik, standar kebahagiaan media sosial, hingga kecemasan akan masa depan membuat manusia berada dalam fase lelah, meski tidak selalu terlihat. Isra’ Mi’raj menggambarkan dua arah perjalanan yang saling melengkapi. Isra’ melambangkan hubungan sosial dengan manusia dan lingkungan.

Sementara Mi’raj mempresentasikan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah swt. Di era modern, banyak manusia yang terjebak dalam perjalanan horizontal semata. Mengejar pencapaian dan haus validasi tanpa memberi ruang untuk perjalanan vertikal yang menenangkan.

Peristiwa Isra’ Mi’raj melahirkan perintah sholat, satu-satunya ibadah yang disampaikan secara langsung tanpa perantara. Shalat bukan hanya kewajiban umat Islam. Namun mengajarkan “jeda” di tengah kesibukan dunia, dan kesadaran diri di tengah kebisingan media sosial. Namun kenyataan hari ini berkebalikan. Banyak orang merasa tidak memiliki waktu untuk shalat. Tetapi mampu menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar tanpa sadar.

Refleksi dari Peristiwa Isra’ Mi’raj

Shalat pun menjadi sekedar rutinitas fisik, tanpa mampu menghadirkan batin untuk terhubung kembali dengan Allah swt. Mi’raj dapat dimaknai sebagai perjalanan batin untuk naik level. Mengangkat diri dari keterikatan duniawi menuju kesadaran akan makna hidup yang lebih berarti. Hal ini bukan bermakna meninggalkan urusan dunia. Namun ditempatkan secara proporsional agar lebih seimbang. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa “naik level” bukanlah tentang seberapa tinggi posisi seseorang. Melainkan seberapa dekat ia dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Baca juga: Khutbah Jumat: Peristiwa Isra’ Mi’raj dan Empat Pelajaran bagi Umat Manusia

Marilah kita maknai Isra’ Mi’raj ini sebagai himbauan untuk menata ulang orientasi hidup. Bahwa hidup tidak selalu identik dengan pencapaian dan bahagia tidak selalu lahir dari keberhasilan yang dipamerkan. Kadang yang dibutuhkan bukanlah berlari lebih cepat, melainkan berhenti sejenak, menengadah, menyadari keterbatasan diri, serta mengingat kembali kepada siapa tujuan hidup ini.

Penulis: Kharisma Pingky Mujiyanti

Editor: Bella F. Sanah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *