Resensi Buku

Menapaki Jejak Rahmah El Yunusiyyah dalam Buku “Rahmah El Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia”

Penulis: Salsa Anggie Nur Afni I Editor: Dina Surya Mega

Identitas Buku

Judul Buku      : Rahmah El Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia

Penulis             : Hendra Sugiantoro

Tahun Terbit    : 2021

Penerbit           : Matapadi Pressindo

Tebal Buku      : 272 halaman

ISBN               : 978-602-1634-47-9

Pendahuluan

Pendidikan merupakan poin penting dalam kemajuan sebuah bangsa. Tak terkecuali pendidikan bagi kaum perempuan yang dianalogikan sebagai madrasah bagi generasi penerus bangsa. Maka dalam hal ini pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting, tidak hanya bagi kaum laki-laki tetapi juga bagi kaum perempuan. Tidak mudah bagi perempuan mendapat tempat dalam dunia pendidikan, perlu perjuangan yang teramat guna mensejajarkan perempuan dengan laki-laki dalam lingkup pendidikan. Contohnya saja R. A Kartini, siapa yang tak kenal dengan beliau? sosoknya yang begitu karismatik terpatri jelas dalam benak perempuan Indonesia. Selain perempuan R. A Kartini seorang perempuan Jawa yang berdedikasi dalam pendidikan perempuan, terdapat sosok perempuan dari ranah Minang yang dengan eloknya mendirikan diniyah puteri pertama di Indonesia, beliaulah Rahmah El Yunusiyyah. Tak banyak yang mengenal sosok beliau ini, akan tetapi dalam buku “Rahmah El Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia” telah dikupas kegigihan Rahmah El Yunusiyyah dalam memajukan bangsa Indonesia.

Biografi Rahmah El Yunusiyyah

Rahmah El Yunusiyyah lahir di Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat pada 29 Desember 1900. Tepatnya pada 1 Rajab 1318 H dalam penanggalan Hijriah. Beliau lahir pada akhir abad ke-19 dan membuka abad ke-20. Rahmah merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Memiliki ibu yang Bernama Rafi’ah dan ayahnya Bernama Muhammad Yunus bin Imanuddin bin Hafazhah. Yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Yunus al-Khalidy. Keempat suadara Rahmah El Yunusiyyah yaitu Zainuddin Labay, Mariah, Muhammad Rasyad ,dan Rihanah. Kakak tertua Rahmah yaitu Zainuddin Labay dikenal sebagai sosok pembaharu dengan mendirikan Diniyyah School untuk murid laki-laki dan perempuan.

Pendidikan Rahmah El Yunusiyyah

Rahmah menempuh pendidikan sekolah dasar selama tiga tahun dan selebihnya belajar otodidak. Dimungkinkan sekolah dasar tersebut adalah sekolah desa, atau sekolah nigari, atau disebut juga dengan sekolah rakyat (Volks School). Selain belajar formal tentunya Rahmah belajar ilmu agama, salah satunya belajar Alquran sejak usia 6 tahun dari murid ayahnya yaitu Engku Uzair Malim Batuah. Saat menginjak usia 15 tahun, Rahmah turut bersekolah dalam Dinyyah School yang didirakan kakaknya sampai tamat. Rahmah juga belajar dari beberapa ulama yaitu Haji Rasul, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Daud Rasyidi, dan Tuanku Mudo Hamid Hakim.

Perjuangan & Prestasi Rahmah El Yunusiyyah dalam Pendidikan

1 November 1923 menjadi tahun yang bersejarah bagi Rahmah El Yunusiyyah, beliau berhasil mendirikan lembaga pendidikan atau yang lebih dikenal dengan “Perguruan Diniyyah Puteri”. Awal didirikan Bernama al-Madrasatul Dinyyah lil Banat. Dalam literatur lain disebut al-Madrasatul Diniyyah. Oleh Belanda menyebut dengan Meisjes Diniyyah School. Tidak mudah dalam mendirikan lembaga pendidikan ini, Rahmah pergulatan batin dan pikiran yang cukup panjang. Melalui wadah pendidikan ini Rahmah memiliki tekad untuk memajukan pendidikan bagi kaum perempuan agar perempuan memiliki wawasan yang luas, ilmu yang mumpuni dan terampil. Rahmah juga membentuk dan mengetuai Perikatan Guru-guru Agama Puteri Islam (PGAPI) pada tahun 1933.

Perjuangan Rahmah terus berlanjut, di tahun 1940 Rahmah diundang dalam Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang bertempat di Kotaraja. Sebuah kehormatan bagi Rahmah yang statusnya sebagai pemimpin dari Diniyyah School Puteri. Berlanjut di tahun 1957 Rahmah mendapatkan undangan ke Universitas al-Azhar, beliau diberikan anugerah gelar Doctor Honoris Causa dan memiliki hak untuk menyandang gelar “syeikhah”. Pemerintah Republik Persatuan Arab menawarkan beasiswa bagi lulusan Diniyyah Puteri untuk dapat melanjutkan pendidikan di Universitas al-Azhar.

Kiprah Rahmah El Yunusiyyah dalam Perjuangan Kemerdekaan

Dalam buku ini juga dipaparkan dengan jelas mengenai peran Rahmah dalam perjuangan kemerdekaan dan pasca kemerdekaan Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang Rahmah menjadi anggota dari Giyugun Ko En Kai yang dibentuk oleh Yano Kenzo di Sumatera Barat. Rahmah mengoordinasikan kaum perempuan yang terhimpun dalam Ha Ha No Kai dengan mengobarkan semangar pemuda dalam perjuangan Indonesia. Dalam perjuangan TKR di Sumatera Barat Rahmah juga turut andil di dalamnya. Berdasarkan wawancara dengan Hasniah Saleh pada Mei 1977, Aminuddin Rasyad menulis: “Untuk keperluan makan anggota TKR, ia mendirikan dapur umum di Perguruan Dinyyah Puteri…..”

Rahmah juga turut andil dalam menghadapi Agresi Militer Belanda Kedua mengguanakn taktik gerilya Rahmah dan beberapa pasukan bersiap di kaki Gunung Singgalang. Rahmah meninggal pada 26 Februari 1969 atau 10 Dzulhijjah 1388 H di usia 70 tahun. Beliau adalah sosok inspiratif bagi dunia pendidikan perempuan di Indonesia. Sosoknya yang gigih dalam bidang pendidikan dan perjuangan kemerdekaan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia membuat beliau dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana secara anumerta oleh pemerintah pada 13 Agustus 2013.

Kelebihan Buku

Buku ini secara epik memaparkan perjuangan seorang wanita yaitu Rahmah El Yunusiyyah dalam pendidikan dan politik di Indonesia. Selain itu juga dijelaskan perjuangan beliau dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia serta usaha mempertahankan kemerdekaan. Tulisan yang kronologis ini membuat pembaca merasakan bagaimana gigihnya sosok Rahmah El Yunusiyyah dalam perjuangan bangsa Indonesia. Terdapat banyak footnote yang menambah khasanah referensi mengenai Rahmah El Yunusiyyah.

Kekurangan Buku

Bagian sampul terlihat monoton dan terdapat beberapa pargraf yang tidak koheren dengan topik pembahasan mengenai Rahmah El Yunusiyyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *