Ental Berry Cream Buka Peluang Ekonomi Baru, Mahasiswa IAINU Tuban Dampingi Warga Desa Boto
TUBAN – Potensi lokal akan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi jika dikelola secara kreatif dan melibatkan masyarakat. Semangat inilah yang diwujudkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban melalui inovasi Ental Berry Cream, minuman olahan berbahan dasar buah siwalan yang dikembangkan bersama ibu-ibu PKK Desa Boto, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.
Pengembangan produk tersebut dilakukan dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), yaitu metode pemberdayaan yang berfokus pada pemanfaatan aset dan potensi yang telah dimiliki masyarakat. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak datang membawa bantuan, melainkan mendampingi warga agar mampu mengembangkan sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Desa Boto dikenal sebagai salah satu sentra pohon siwalan di Kabupaten Tuban. Selama ini, pemanfaatan buah siwalan terhenti pada pola konvensional, dijual sebagai buah segar di pinggir jalan atau diolah sederhana menjadi minuman legen. Pola ini membuat nilai ekonomi siwalan sangat terbatas dan rentan mengalami kerusakan fisikokimia akibat cepatnya proses fermentasi alami pascapanen.
baca juga: Ini Rangkaian Kegiatan HUT Ke-81 RI, dari Zikir Kebangsaan hingga Pesta Rakyat
Berangkat dari potensi tersebut, mahasiswa IAINU Tuban bersama masyarakat merancang Ental Berry Cream, minuman yang memadukan potongan buah siwalan dengan susu, creamer, susu evaporasi, dan stroberi. Formulasi berbasis susu evaporasi dan penyimpanan dingin (cold storage) ini terbukti secara ilmiah mampu memperpanjang masa simpan buah siwalan sekaligus menciptakan visual layering merah-putih yang memikat mata. Inovasi ini menyasar segmen pasar generasi muda dan wisatawan modern, mengubah citra siwalan dari buah tradisional menjadi minuman lifestyle premium.
Tim mahasiswa KKN IAINU Tuban menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membangun kepercayaan bahwa potensi desa dapat menjadi sumber kesejahteraan apabila dikelola bersama.
“Kunci dari metodologi ABCD adalah tidak memposisikan warga sebagai penerima bantuan pasif, melainkan sebagai pemilik aset yang berdaya. Kami bersama ibu-ibu PKK Desa Boto memetakan potensi siwalan, merancang formulasi, hingga melahirkan identitas merek Ental Berry Cream sebagai kebanggaan desa,” ujar Tim KKN IAINU Tuban.
Pendampingan yang berlangsung sejak Juli hingga Agustus 2026 tersebut melibatkan 25 anggota PKK dan pelaku UMKM Desa Boto. Materi yang diberikan meliputi pengolahan pangan yang higienis, teknik produksi, pengemasan modern, hingga pemasaran digital. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta setelah mengikuti rangkaian pelatihan tersebut.
Tidak hanya meningkatkan kapasitas masyarakat, produk Ental Berry Cream juga mendapat respons positif dari calon konsumen. Berdasarkan uji coba kepada 50 responden, sebanyak 92 persen menyukai desain kemasan, 88 persen menyukai cita rasanya, dan 84 persen memberikan penilaian positif terhadap tekstur produk. Hasil ini menunjukkan bahwa Ental Berry Cream memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk unggulan Desa Boto.
baca juga: KH. Ma’ruf Amin di Melbourne: Ber-NU Harus dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Identitas
Sebagai langkah keberlanjutan, mahasiswa IAINU Tuban bersama Pemerintah Desa Boto menyiapkan pendampingan lanjutan berupa pengurusan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sertifikasi halal, serta penguatan pemasaran digital agar produk lokal tersebut mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Pendampingan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan semata. Dengan dukungan pemerintah desa dan masyarakat, Ental Berry Cream diharapkan berkembang menjadi produk unggulan Desa Boto sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal. Semangat khidmah yang dibawa mahasiswa IAINU Tuban pun menjadi ikhtiar nyata perguruan tinggi Nahdlatul Ulama dalam membersamai masyarakat menuju desa yang mandiri dan berdaya.
Penulis: Andhika Fatchur Widyanto



