ArtikelBerita

Mahasiswi Universitas Nurul Jadid Terapkan Game Based Learning untuk Perkuat Literasi Qur’ani Santri I’dadiyah

Probolinggo — Santri dan mahasiswa Universitas Nurul Jadid kembali menunjukkan peran aktifnya dalam penguatan pendidikan keislaman di lingkungan pesantren. Melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), mereka melakukan pendampingan pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) bagi santri i’dadiyah di Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilayah Zaid Bin Tsabit Putri dengan menggunakan metode Game Based Learning (GBL).

Pendampingan BTQ Berbasis Game Selama Tiga Bulan

Pendampingan ini dilaksanakan selama tiga bulan, mulai Oktober hingga Desember 2025. Program ini berangkat dari keprihatinan terhadap pembelajaran BTQ yang masih cenderung monoton sehingga membuat sebagian santri kurang bersemangat. Padahal, kemampuan baca tulis Al-Qur’an merupakan dasar utama bagi santri dalam memahami ilmu-ilmu keislaman.

Salah satu anggota tim PKM menjelaskan bahwa metode Game Based Learning diterapkan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih hidup tanpa menghilangkan tradisi pembelajaran pesantren.

“Metode talaqqi dan sorogan tetap kami gunakan, namun kami padukan dengan permainan edukatif agar santri lebih aktif dan tidak mudah bosan,” jelasnya.

baca juga: Seharusnya Manusia Menjaga Alam dengan Agama

Perpaduan Game Based Learning dengan Tradisi Pesantren

Dalam pelaksanaannya, pendampingan dilakukan dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Santri tingkat mahasiswi turut dilibatkan sebagai pendamping pembelajaran BTQ, sehingga tercipta proses belajar yang lebih intensif dan kekeluargaan. Berbagai permainan edukatif diterapkan, seperti rantai baca ayat, tebak nadzam, hingga permainan kolaboratif bisik qur’ani yang menggabungkan unsur membaca, menulis, dan pemahaman tajwid.

baca juga: Mendidik Anak Bijak Menggunakan Gadget Saat Liburan

Hasil pendampingan menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan keaktifan santri i’dadiyah. Berdasarkan hasil angket sebelum dan sesudah kegiatan, motivasi belajar santri mengalami peningkatan dari kategori cukup menjadi baik. Santri juga terlihat lebih berani membaca Al-Qur’an di depan kelas serta lebih teliti dalam menulis huruf hijaiyah.

Selain meningkatkan kemampuan literasi Qur’ani, metode ini juga melatih kerja sama, kedisiplinan, dan kepercayaan diri santri. Melalui permainan kelompok, santri belajar saling mendengarkan, bekerja sama, serta menjaga kekompakan dalam proses belajar.

Pengurus dan pembina Wilayah Zaid Bin Tsabit Putri menyambut baik kegiatan pendampingan ini. Mereka berharap metode pembelajaran berbasis permainan dapat diterapkan secara berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran BTQ di pesantren.

Melalui kegiatan ini, santri tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi juga subjek perubahan. Pendampingan BTQ berbasis Game Based Learning ini menjadi bukti bahwa santri mampu berkontribusi aktif dalam menjaga dan menguatkan literasi Qur’ani di lingkungan pesantren.

Penulis: Fitriyatus Sholihah (Mahasiswi Universitas Nurul Jadid Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semester VII)

Editor  : Ahmad AY

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *