Artikel

Latar Belakang Pensyari’atan Ibadah Kurban

 

Salah satu dari  hari raya umat Islam adalah hari raya Idul Adha. Hari raya tersebut diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Adapun  Idul Adha tahun ini jatuh pada hari Selasa, 20 Juli 2021. Salah satu ibadah yang tidak bisa lepas dari perayaan Idul Adha adalah ibadah kurban.

Kurban berasal dari bahasa Arab  yang berarti mendekat. Secara istilah, kurban merupakan penyembelihan hewan dengan ketentuan tertentu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Hukum ibadah kurban adalah sunah muakad. Sehingga bagi kaum Muslimin yang mampu, hendaknya menjalankan ibadah ini setiap tahun. Allah Swt. sendiri telah memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah kurban dalam firman Allah Swt. Qs. Al Kautsar ayat 1-3,

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)

Artinya : Sungguh kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak {1}. Maka laksanakanlah salat karena tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah) {2}. Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah) {3}.

Ketika membicarakan mengenai kurban, tentu saja tidak akan terlepas dengan kisah Nabi Ibrahim As. dan Nabi Ismail As. yang merupakan pelaku sejarah dari ibadah kurban itu sendiri.

Menjelang usia tuanya, Nabi Ibrahim yang tak kunjung mendapatkan keturunan memohon kepada Allah Swt. Kemudian Allah Swt. mengabulkan doanya dan lahirlah Ismail dari istri keduanya yakni Siti Hajar.

Ketika Nabi Ismail beranjak remaja, Allah Swt. memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpinya untuk menyembelih putra yang telah lama beliau nantikan tersebut.

Adapun mimpi merupakan salah satu dimensi yang digunakan sebagai sarana penyampaian wahyu dari Allah Swt. Maka, beliau segera menemui Ismail dan menceritakan segalanya terkait mimpi yang telah beliau alami tersebut.

Setelah mendengarkan penuturan dari ayahnya, Nabi Ismail mengatakan kepada ayahnya untuk menjalankan perintah dari Allah Swt. tersebut serta menyatakan bahwa dirinya akan menerima apa yang telah diperintahkan Allah Swt. tersebut dengan sabar. Sikap mulia Nabi Ismail ini bahkan dipuji oleh Allah Swt. dalam Qs. Maryam ayat 54 yang artinya,

Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya, ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi.

Adapun pada peristiwa penyembelihan tersebut, terdapat tiga permohonan Nabi Ismail pada Nabi Ibrahim yang tertera dalam kitab Shafwatut Tafasir karya Syekh Ali As-Shabuni.

Nabi Ismail memohon kepada ayahnya, “Wahai Ayah, ikatlah tangan saya dengan kuat supaya saya tidak bergerak-gerak sehingga Ayah tidak ragu.” Kemudian Nabi Ibrahim mengencangkan ikatan dan melipat lengan bajunya.

Nabi Ismail kemudian berkata kepada Nabi Ibrahim, “Wahai Ayah, tajamkan pisau tersebut setajam-tajamnya, agar penyembelihan lebih cepat dan tidak menyakitkan.” Nabi Ismail juga memohon kepada ayahnya, “Terakhir, mohon Ayah tanggalkan gamis terluar saya dan berikan kepada ibu sebagai penawar rindu.”

Sesaat sebelum Nabi Ismail disembelih, Allah Swt. menggantikannya dengan domba dari surga, sehingga Nabi Ismail pun selamat.

Sejak awal, perintah tersebut merupakan ujian yang diberikan Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk menguji keimanan keduanya. Nabi Ibrahim berhasil lulus dari ujian ketaatan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintahnya tanpa ragu-ragu.

Sementara Nabi Ismail juga berhasil lulus dengan sabar melakukan pengorbanan diri sesuai apa yang diperintahkan Allah Swt., serta lulus sebagai anak yang berbakti kepada orang tua.

Kemudian Allah Swt. memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk meneruskan syari’at tersebut di setiap hari raya Idul Adha. Pelaksanaan kurban disyari’atkan oleh Allah Swt.  pada tahun kedua hijrah. Hal itu bersamaan dengan disyari’atkannya zakat, salat Idul Fitri, dan Idul Adha.

Dari kisah ini dapat diambil sebuah pelajaran, hendaknya kita senantiasa mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta selalu ikhlas ketika melaksanakan ibadah dengan niat semata-mata karena Allah Swt.

 

Oleh    : Alifa Z. N.

Editor : F. Azfar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *