ArtikelDunia IslamPesantrenSastraUncategorized

Internalisasi Pendidikan Karakter ke dalam Jiwa Para Kaum Sarungan

Penulis : Fani Azfar/Editor : RH

     Pendidikan karakter adalah salah satu pendidian yang memiliki kedudukan yang cukup strategis baik dalam porsi pendidikan formal maupun non formal. Ciri dari pendidikan karakter yang ada di Indonesia yakni dimana peserta didik tidak hanya dituntut untuk bisa memahami nilai-nilai budi pekerti luhur saja, akan tetapi juga dituntut untuk menginternalisasikannya kedalam jiwa masing-masing, sehingga peserta didik tersebut akan mampu mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.

     Pendidikan karakter sebenarnya sudah ada sejak bangsa Indonesia belum merdeka. Ketika itu pendidikan karakter menjalar melalui pondok-pondok pesantren.

      Pendidikan karakter sangatlah penting untuk diberikan, apalagi di era sekarang. Arus globalisasi yang terus melanda serta membawa dampak negatif bagi para generasi muda memperparah terjadinya degradasi moral para pemuda dan pemudi di zaman  ini.

      Perlunya tindakan prefentif guna mencegah dampak buruk yang kemungkinan terjadi adalah hal yang tepat guna mengatasi problematika tersebut.

      Apa lagi di era pasca pandemi saat ini, beberapa lembaga pendidikan yang ada di Indonesia sempat mengalami problematika dalam menentukan sistem pembelajaran yang efektif.

Keadaan pandemi di pesantren

     Terkait hal itu, beberapa lembaga pendidikan ada yang tetap menjalankan kegiatan belajar mengajarnya, khususnya pondok pesantren. Karena menurut penulis pribadi, hal itu juga dapat digunakan sebagai cara untuk melindungi para santri dari virus Covid-19. Setiap pondok membuat kebijakan melockdown para santrinya untuk tetap berada di pondok dan fokus untuk mengikuti pembelajaran yang ada.

     Sebelumnya perlu kita ketahui juga, akibat lamanya masa pandemi ini, menyebabkan para peserta didik hanya melakukan pembelajaran secara virtual. Hal ini memberi peluang kepada mereka untuk mengindahkan aktifitas pembelajaran. Sehingga secara tidak langsung mereka tidak dapat memperoleh nilai-nilai pendidikan karakter secara optimal.

     Hal ini dibuktikan dengan merebaknya beberapa game online yang dimainkan oleh anak-anak yang membuat lupa mereka untuk mengimplementasikan akhlak-akahlak terpuji di sekitar mereka. Mereka hanya tersibukkan dengan gadget dan asyik memainkannya.

     Masalah tersebut hampir tidak berlaku bagi para kaum sarungan, karena sudah teratasi dengan kebijakan pondok yang tetap melaksanakan kegiatan pembelajara.

     Nah, kita ketahui bahwa kaum santri itu identik dengan kaum yang mudah beradaptasi dari berbagai kondisi. Hal itu sesuai dengan nilai-nilai yang digemakan di tiap-tiap pesantren oleh para kyai pengasuhnya, yakni ajaran nerimo ing pandum.

     Nilai tersebut hampir dimiliki oleh para santri, karena pada realitanya kaum santri dengan mudahnya dapat memperoleh nilai-nilai tersebut pada saat mengaji. Disamping itu, untuk menginternalisasikan terkait nilai-nilai karakter dan budi pekerti luhur, para santri bisa dengan mudahnya melakukan hal itu dengan cara mumārosah (membiasakan) nilai-nilai tersebut ketika berinteraksi dengan sesama santri maupun kyai dan ustadz di pesantren.

Kepatuhan santri

     Kita tau bahwa seorang santri itu identik dengan sifat kepatuhan kepada para kyai maupun ustadznya. Sehingga apa yang dituturkan oleh sang guru, para santri selalu sam’an wa tha’atan terkait apa yang dituturkan.

     Hal itu senada dengan apa yang diutarakan oleh Syaikh Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitabnya yang berjudul Al Fatawi al Haditsiyah,

يتعين عليه الاستمساك بهديه والدخول تحت جميع أوامره ونواهيه ورسومه حتى يصير كالميِّت بين يدي الغاسل ، يقلبه كيف شاء

Artinya : “Seharusnya murid berpegangan kepada petunjuk gurunya, tunduk patuh atas segala perintah, larangan dan garis-garisnya, sehingga seperti mayit di hadapan orang yang memandikan, ia berhak dibolak-balik sesuka hati.”
Jadi, mereka dengan ikhlas melaksanakan apa yang didawuhkan oleh para gurunya terkait hal-hal positif. Terkait hal itu, mereka memegang idiologi bahwa jika mereka mentaati gurunya, mereka akan memperoleh barokah dari gurunya tersebut, entah barokah tersebut turunnya dalam waktu dekat atau dalam kurun waktu yang cukup lama.

     Ini sudah membuktikan bahwa proses internalisasi pendidikan karakter yang dilakukan oleh para kyai da ustadz di pondok pesantren telah berhasil. Hal itu tidak lepas dari metode yang digunakan oleh kyai dan ustadz tersebut ketika mengajar para santri.

     Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, para kyai dan ustadz selalu meyisipkan materi mengenai akhlak yang kalau dalam dunia akademik disebut dengan Hidden Curriculum. Materi tersebut disampaikan baik secara tersurat maupun tersirat di dalam setiap pertemuan pada saat proses pembelajaran. Cara itu terbilang efektif karena dilakukan secara continue, sehingga akan melekat kedalam sanubari para santri.

    Hal itu sesuai dengan kisah nya Ibnu Hajar Al Asqolani ketika mengamati batu yang begitu kerasnya bisa cekung hanya karena tetesan air yang terus-menerus mendera batu tersebut. Peristiwa demikian juga senada dengan kandunagn dari salah satu bait nadzom Alala karya Syekh Az Zarnuji yakni,

ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍوَبُلْغَةٍ ۞ وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

     Pada kata yang berhuruf tebal diatas yakni طُوْلِ زَمَانٍ berarti lamanya waktu. Maksudnya, dalam menuntut ilmu harus dalam masa yang cukup lama. Hal ini bertujuan agar ilmu-ilmu serta nilai-nilai akhlak serta budi pekerti yang telah didapat oleh para santri dapat melekat dengan erat dalam jiwa mereka.

Karakter budi pakerti

     Di samping itu, salah satu cara menginternalisasikan karakter serta budi pekerti luhur kepada para santri adalah dengan metode uswah, dengan cara ini seorang kyai atau ustadz memberikan bentuk keteladanan secara langsung terkait tindakan terpuji yang sekiranya dapat diamati dan ditiru oleh para santri.

     Cara tersebut terbilang cukup efektif karena para santri akan berfikir bahwa seorang gurunya tersebut tidak hanya asal memberikan wejangan saja, akan tetapi juga dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab telah memberikan wejangan atau petuah terkait nilai-nilai terpuji yang diajarkan kepada para santrinya.

     Kita tau bahwa akhlak serta budi pekerti luhur sangatlah penting untuk dimiliki khususnya bagi para santri. Karakter tersebut sebagai modal awal bagi para santri untuk terjun ke masyarakat. Karakter serta nilai-nilai positif tersebut dapat diinternalisasikan kepada para santri melalui beberapa cara sebagaimana yang telah diutarakan oleh penulis di atas.

Penulis: Fani Azfar

Editor  : Rifqi Hayyinul Ula

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *