Artikel

Pandangan Islam Mengenai Budaya Nusantara

Penulis: Alifathul Zuhriyah /Editor: Fani Azfar

Awal mula Islam masuk ke Nusantara melalui beberapa teori. Diantara tersebut yakni teori Gujarat, Mekah, dan Persia. Pada dasarnya, ketiga teori tersebut menjelaskan bahwa masuknya Islam ke Nusantara melalui jalur perdagangan.

Para pedagang muslim membawa budaya Islam ke Nusantara yang kemudian budaya tersebut mengalami akulturasi. Lambat laun, budaya Islam mulai menyatu dengan budaya Nusantara, sehingga ajaran Islam dapat berkembang dan menyebar dengan pesat.

Pemeluk Agama Islam Terbesar

Bahkan saat ini Indonesia merupakan negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di Dunia. Kehadiran Islam di Indonesia bisa diterima oleh masyarakat berkat cara syiar yang tetap menghargai budaya atau tradisi sebelumnya.

Baca juga : Kiai Marzuki: Sosok yang Dermawan dan Selalu Bersinergi dalam Menyuarakan NU

Budaya merupakan gagasan pikiran manusia yang telah berkembang dan diturunkan dari generasi ke generasi, sedangakan Islam adalah agama yang di turunkan oleh Allah kapada manusia melewati utusanya Rasullullah sebagai rahmat bagi alam semesta. Berdasarkan definisi di atas, terdapat perbedaan yang jelas mengenai budaya dan agama islam.

Namun, antara agama dan kebudayaan tidak selalu bertentangan. Sebaliknya, budaya dapat dijadikan instrument untuk melaksanakan keyakinan agama supaya lebih menyeluruh.

Seperti yang dilakukan olah walisongo yang berdakwah menggunakan wayang kulit supaya ajaran Islam mudah di mengerti oleh masyarakat. Berdasarkan argumen tersebut, kita tahu bahwa kebudayaan juga dapat digunakan sebagai media untuk berdakwah.

Bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis

Budaya Islami adalah budaya yang bersumber dari dua hal yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Akan tetapi, tidak jarang kita menemui budaya yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Maka dari itu, mempelajari budaya yang sesuai dengan ajaran agama sangat di anjurkan agar terhindar dari budaya yang  kurang sesuai denganajaran Islam.

Lalu, bagaimana Islam memandang budaya nusantara yang kurang sesuai dengan ajaran Islam? Beberapa ulama memiliki solusi dari permasalahan tersebut.

Melalui Proses Pengakulturasian

Dikutip dari NU Online, KH. Marzuki Syuhud mengatakan bahwa, “Jika budaya itu sesuai dengan ajara agama Islam, maka langsung di terima. Namun, jika budaya tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam maka tidak langsung di tolak, namun disaring dulu, dimana yang tidak sesuai maka diseleksi dahulu agar sesuai dengan ajaran Islam. Setelah itu baru bisa diterapkan di masyarakat,” ungkanya.

Beliau juga memberikan contoh budaya aqiqah yang ada sebelum zaman Rasulullah. Pada zaman tersebut, jika ada bayi yang lahir maka keluarga bayi tersebut memotong kambing atau unta, lalu darahnya diusapkan ke kepala bayi tersebut. Namun pada saat zaman Rasulullah SAW. budaya tersebut diganti dengan mengusapkan minyak wangi ke kepala bayi.

Begitu juga dengan kebudayaan nusantara yang berakulturasi dengan ajaran agama Islam. Contohnya pada masyarakat Jawa yang masih menampilkan perilaku-perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti percaya terhadap adanya kekuatan lain selain kekuatan Allah Swt.

Kepercayaan terhadap kekuatan yang dimaksud diantaranya adalah percaya terhadap roh, benda-benda pusaka, dan makam para tokoh yang dianggap dapat memberi berkah dalam kehidupan seseorang. Namun kebudayaan tersebut dimodifikasi agar sesuai dengan ajaran Islam.

Seperti memeringati hari suran. Suran sendiri diperingati sebagai tahun baru Jawa yang bertepatan dengan tahun baru Islam. Selain diperingati sebgai tahun baru Jawa, suran juga dipercaya sebagai bulan yang penuh sial, sehingga pada bulan itu masyarakat kejawen melakukan tradisi membuat sesajen.

Dalam Islam, bulan sura jatuh pada bulan Muharam. Bulan tersebut biasanya dirayakan untuk mengenang kisah dari cucu Rasulullah Husain bin Ali Abu Thalib yang gugur pada perang.

Pada tradisi Islam, sesajen diganti dengan berdoa. Pada tanggal satu muharam juga membagikan makanan kepada kerabat sekitar. Hal itu menandakan adanya nilai lebih yaitu hubungan dengan Tuhan serta dengan manusia.

Baca juga : Konser Amal Koin Muktamar NU Bakal Digelar, Ini Musisi yang Dijadwalkan Tampil

Selain itu, ada peringatan maulid yaitu peringatan hari lahir nabi Muhammad, serta tradisi menyembah para makam tokoh untuk memberi berkah, diganti dengan tradisi ziarah dan berdoa kepada Allah untuk meminta barokah dari para wali dan orang yang alim.

Masih banyak lagi budaya yang berakulturasi dengan ajaran Islam. Agama islam sendiri datang sebagai rahmatalililalamin atau rahmat bagi seluruh alam, sebagai seolusi dari berbagai masalah yang ada.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *